Lombok Post
Metropolis

Syawaludin, Pemulung Berpenghasilan Miliaran Rupiah

POTRNSINYA JUMBO: Syawaludin menjelaskan potensi sampah anorganik di NTB yang mencapai triliunan rupiah, Senin (27/11).

Kunci sukses Bank Sampah Bintang Sejahtera adalah ekosistem usaha dari hulu ke hilir yang tak terputus. Tidak banyak yang menyadarinya, kecuali yang telah melalui pahit-manis usaha ini.

LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram

——————————————————-

DI TENGAH keterpurukan, diam-diam beberapa sahabat yang peduli membuat langkah penting. Langkah yang jadi titik balik kebangkitan Bank Sampah Bintang Sejahtera.

Saat itu beberapa sahabat yang mengenal istri Syawal yakni Febri merekomendasikannya sebagai tokoh inspiratif. “Ada sebuah penghargaan bergengsi di Jakarta oleh kedutaan besar Amerika, untuk wanita yang membawa perubahan,” kata Syawal.

Diam-diam beberapa sahabatnya itu menominasikan Febri. Sebagai wanita yang punya pengaruh dan perubahan dalam lingkungan. “Di luar dugaan, istri saya masuk nominasi itu dan kami harus ke Jakarta,” tuturnya.

Di tengah pailit sehabis bangkrut, Syawal kemudian coba-coba mendatangi kantor Gubernur. Ia menemui Gubernur NTB kala itu. TGB M Zainul Majdi.

“Saya minta izin pada beliau bawa nama NTB di kancah nasional,” ujarnya.

Setelah dapat restu, ia pun kembali ke rumah orang tuanya. Sembari menunggu keajaiban ada kabar baik untuk ongkos ke Jakarta.

“Tiba-tiba kami dikabari Pemprov NTB, akan membiayai perjalanan kami. Terima kasih TGB, saya sangat bersyukur,” ungkapnya.

Tapi belum lagi rasa bahagia itu tuntas. Musibah masih coba menguji keteguhan hati Syawal dan Istrinya. Sehari sebelum perjalanan, ia mendapat kabar ayah mertuanya masuk rumah sakit.

“Situasi itu sangat sulit, tidak mungkin kami berangkat ke Jakarta sementara mertua sakit,” kisahnya.

Akhirnya ia dan istrinya memutuskan untuk menunggu ayah mertua di rumah sakit. Hingga subuh tiba dan saatnya mereka berdua harus berangkat ke Jakarta.

Ayah mertuanya meminta ia tetap berangkat membawa istrinya. “Beliau sangat ingin kami meraih kesuksesan dan penghargaan terbaik,” ujarnya.

Tapi baru saja Syawal mau meninggalkan rumah sakit, justru Ayah mertuanya menghembuskan nafas terakhir. Syawal berada di persimpangan yang sulit. Sementara kepergian ayah mertuanya membuat istrinya Febri, terpukul.

“Saya pun menelepon ke panitia penghargaan, kami dapat musibah,” jelasnya.

Syawal dan istri memutuskan untuk urung ke Jakarta. Tiket yang didapat dengan susah payah pun hangus seketika. Tapi duka keluarga besar Syawal lebih besar dengan peristiwa itu.

“Istri saya terus menangis dan benar-benar melupakan tentang penghargaan itu,” kisahnya.

Tapi rupanya Pak De–kakak dari ayah mertua–tahu dilema yang dihadapi Syawal dan Istrinya. Ia lalu meminta Syawal dan istri menyeka air mata. Menatap ke depan, di mana masa depannya tengah menunggu.

“Biar kami yang urus ayahmu, kalian berangkatlah,” kutip Syawal pada perkataan Pak De.

Hati mereka semakin mantap. Manakala ingat mendiang ayah mertuanya pernah berpesan. Agar ia membawa istrinya ke hal-hal bermanfaat dan membawa kebaikan bagi sesama.

“Kami pun berangkat dengan modal dari Pak De,” kisahnya.

Istrinya Febri di penghargaan itu mendapat penghargaan wanita terbaik dalam membawa perubahan. Terutama untuk menjaga lingkungan. Itulah awal mula Bank Sampah Bintang Sejahtera semakin dikenal nasional.

“Banyak teman-teman media yang menceritakan tentang bank sampah kami,” kisahnya.

Di luar dugaan beberapa pemodal tertarik menanamkan modalnya. Kepercayaan yang hilang dari perusahaan pengolah sampah, kembali di dapat Syawal.

“Kepercayaan itulah yang paling mahal, dan tidak bisa dibeli dengan harga berapapun. Akhirnya kami dapat lagi,” ujarnya.

Bank Sampah Bintang Sejahtera pun kembali bangkit. Ekosistem yang telah lama terputus kembali ia hidupkan. Syawal sadar keputusannya meninggalkan ekosistem dari hulu ke hilir untuk sampah dulu, adalah kesalahan terbesar. Hingga akhirnya membuat usahanya sempat gulung tikar.

“Sampai saat ini, kami telah mencatatkan transaksi sampah dengan menghidupkan ekosistem yang lama, yakni di kisaran Rp 1,7 miliar per bulan,” ujarnya penuh syukur.

Penghargaan lain pun mengalir untuk Bank Sampah Bintang Sejahtera. Baik yang berskala regional, nasional, hingga internasional.

Pemprov NTB menaruh harapan besar pada Bank Sampah ini. Diharapkan dapat memotivasi lahirnya 50 bank sampah di berbagai pelosok kabupaten/kota se NTB.

“Kami diberikan target melahirkan 500 bank sampah hingga desa-desa,” ujarnya.

Kini Syawal bisa menegakkan kepala. Setelah berkali-kali terjatuh, justru membuat daya tahan usahanya semakin kokoh dan teruji. Ekosistem bank sampahnya pun makin solid.

“Kalau saya bisa lulus kuliah dengan sampah, kenapa tidak dengan orang lain? Asal mau dan tidak gengsi saja,” tegasnya.

Memang ada mindset yang keliru di tengah masyarakat. Ceceran plastik, karung, kardus, dan lain sebagainya sudah kadung melekat nama sampah.

“Padahal kalau kita cermati ini sebenarnya sumber daya atau bahan baku,” terangnya.

Tapi legitimasi itu begitu kuat. Hingga membuat masyarakat pun gengsi menekuni pekerjaan ini. Padahal dalam hitung-hitungannya, jika semua sampah anorganik sebesar 40 persen di NTB bisa dikelola maksimal, potensinya sangat besar.

“Potensinya mencapai triliunan rupiah, itu cukup untuk mendorong melawan kemiskinan dari desa,” tegasnya penuh keyakinan. (*/r5)

Berita Lainnya

Ahyar Minta Tender Proyek Pemkot Mataram Dipercepat

Redaksi Lombok Post

Sebelum Nikahi Bule, Yuk, Pahami Aturan Kawin Campur!

Redaksi Lombok Post

Akhirnya Camat Ampenan Punya Gedung Baru

Redaksi Lombok Post

Sensasi Ayam Geprek Multirasa, Dibalut Enam Sambal Beda Rasa

Redaksi Lombok Post

Bantu Mataram, Pemkab Badung Tawarkan Hibah Rp 50 Miliar

Redaksi Lombok Post

Mataram Butuh 300 CPNS Baru, Sebagian Besar Tenaga Guru

Redaksi Lombok Post

Nasi Balap Puyung Bakal “Tampil” di MotoGP Mandalika

Redaksi Lombok Post

Jangan Obral Rinjani Lagi! Walhi NTB Minta Fokus Benahi Sampah

Redaksi Lombok Post

Walhi : Fokus Benahi Sampah, Jangan Lagi Obral Rinjani!

Redaksi Lombok Post