Lombok Post
Headline Kriminal Lapsus

Sekeluarga Bisnis Narkoba

BAKAR BARANG HARAM: Hanapi, terduga pelaku pemilik ganja sebanyak 21,2 kilogram memusnahkan barang bukti hasil kejahatannya di Polres Mataram, dengan didampingi istrinya, beberapa waktu lalu.

Kejahatan narkoba di lingkungan keluarga, seperti pusaran air, menarik keluarga terdekat ke dalamnya. Sang suami, yang lebih dulu terlibat dengan bisnis barang haram tersebut, tak jarang menjadikan istri sebagai kurir mereka.

== == ==

Nur, 35 tahun, hanya bisa tertunduk lesu di ruang Satresnarkoba Polres Bima Kota. Nur yang merupakan ibu rumah tangga, duduk tepat di belakang meja yang di atasnya terdapat tas selempang hitam putih, dua handphone, satu poket sabu seberat 0,34 gram, serta uang tunai Rp 6,4 juta.

Barang bukti tersebut didapati polisi saat mengamankan Nur, di Kelurahan Tanjung, Kecamatan Rasanae Barat, Kota Bima, awal Maret lalu. Anggota polisi yang menangkap pelaku berasal dari Satbrimobda Polda NTB.

Penangkapan Nur bermula dari laporan masyarakat. Tim Resmob yang dipimpin Bripka Ardibaron Bayuseno mengecek kebenaran informasi tersebut dengan melakukan pengintaian.

Setiba di TKP, tim mendapati orang yang dicurigai membawa dan memiliki barang haram jenis sabu. Kemudian petugas melakukan upaya penangkapan terhadap Nur. Setelah Nur, polisi meringkus suaminya, yakni Aco.

”Ketika digeledah, ditemukan satu poket sabu di dalam tas N (Nurjanah). Diduga pelaku ini mau mengedarkan sabu,” kata Kabidhumas Polda NTB AKBP Purnama.

Polisi menduga, aktivitas Nur berkaitan dengan perintah suaminya. Pelaku Nur diduga kuat disuruh suaminya untuk menjadi perantara. Ketika tertangkap, dia tengah menunggu pembeli di depan gang rumah.

Sebelum penangkapan Nur, polisi setidaknya telah meringkus jaringan yang menyeret seorang istri ke dalam kejahatan narkoba. Penangkapan pertama dilakukan terhadap Erna, oknum guru asal Kecamatan Narmada.

Erna tertangkap medio September 2018. Saat itu, polisi meringkus Erna bersama Sandi dan Riski, yang diduga sebagai kurir sabu. Tak lama setelah mengamankan tiga pelaku, polisi berhasil meringkus Rana, suami dari Erna.

Selain pelaku, polisi turut mengamankan lima poket sabu dengan berat total 1,5 gram; satu timbangan elektrik; perangkat alat hisap sabu; uang diduga hasil penjualan sabu sebanyak Rp 3,8 juta; dan tiga handphone.

Ketika kasus ini mencuat, Erna disangka turut terlibat dalam kejahatan narkoba. Tetapi, hasil pemeriksaan kepolisian hingga rangkaian persidangan, muncul fakta lain. Sabu yang ditemukan polisi rupanya milik dari Rana.

Dalam kesaksiannya –Erna masih menjalani sidang di Pengadilan Negeri Mataram- bisnis jual beli barang haram tersebut digawangi Rana. Erna bukannya tidak mengetahui hal tersebut. Berulangkali dia berusaha mencegah, namun posisinya sebagai istri membuat Erna tak berdaya.

Ketika polisi menggerebek kediamannya, pelaku memanfaatkan momentum itu. Dia secara kooperatif menunjukkan di mana suaminya menyimpan barang haram narkoba.

Erna dan Nur bukan satu-satunya istri yang dimanfaatkan suaminya sebagai kamuflase bisnis haram narkoba. Perempuan lain yang berstatus sebagai istri dari pengedar narkoba adalah Yani.

Yani ditangkap anggota Satresnarkoba Polres Mataram di Lingkungan Gapuk Utara, Kelurahan Dasan Agung, Kota Mataram, Oktober 2018. Ketika penggerebekan, suami Yani, Hanapi berusaha menghambat gerak polisi dengan mengunci pintu depan.

Setelah mendobrak pintu dan berada di dalam, petugas mendengar suara yang bersumber dari belakang rumah. Rupanya, pelaku berusaha kabur melalui pintu belakang. Mereka terlihat membawa satu tas ransel dan satu kardus.

”Kita berhasil amankan istrinya (Yani, Red). Suaminya (Hanapi) kabur,” kata Kapolres Mataram AKBP Saiful Alam saat pengungkapan kasus pasutri tersebut.

Polisi lalu menggeledah tas dan kardus yang hendak dibawa kabur pelaku. Alam mengatakan, tas yang sebelumnya dibawa Yani rupanya berisi narkotika jenis ganja sebanyak lima bal. Berat totalnya mencapai 5.930 gram.

Barang bukti serupa didapati polisi dari kardus yang awalnya dipegang suami Yani, Hanapi. Di kardus berwarna cokelat ini ditemukan 10 bal daun, batang, dan biji ganja kering dengan berat mencapai 14.472 gram.

Selain di tas dan kardus, petugas mendapatkan barang bukti ganja yang tidak dibungkus di dalam kabur. Barang haram tersebut ditaruh di dalam ember bayi berwarna biru. Beratnya 800 gram.

”Total ganja 21,2 kilogram,” terang kapolres.

Setelah tertangkap, Hanapi, 38 tahun membantah ganja sebanyak 21,2 kilogram merupakan miliknya. ”Saya tidak pernah main cimeng (ganja, Red),” tegas dia.

Hanapi memang mengakui bahwa dia masuk dalam lingkaran narkotika. Tetapi, bukan dengan ganja. Ayah satu anak ini mengaku hanya bersentuhan dengan narkotika jenis sabu.

Adapun ganja yang ditemukan polisi di rumahnya, merupakan milik Abah Acim. Nama Abah Acim, tak asing bagi Hanap. Pria yang sehari-hari membuka jasa bengkel di rumahnya ini mengaku, Abah Acim merupakan sahabatnya.

”Sahabat saya dari kecil itu,” terangnya.

Di hari penangkapannya, kata Hanapi, Acim membawa 21,2 kilogram ke rumahnya. Kepada Hanapi, Acim berkata menitipkan ganja tersebut untuk sementara waktu. Namun, ganja belum sempat diambil, tim Satresnarkoba Polres Mataram telah melakukan penggerebekan.

”Saya dijebak. Siangnya dia nitip, katanya sore mau ngambil. Tumben juga itu nitip ke saya, biasanya tidak pernah,” kata Hanapi.

Terkait dengan perempuan yang terlibat kejahatan, Aktivis Perempuan Nur Jannah pernah mengatana, dalam sejumlah kasus, mereka bisa disebut sebagai korban. Para istri dieksploitasi habis-habisan suaminya dan dilibatkan dalam aksi kejahatan narkotika.

”Kalau narkoba, kita sering dengar,” kata dia.

Menurut Nur Jannah, tentu ada yang melatarbelakangi keterlibatan Yani, Erna, dan Nur, dalam kejahatan tersebut. Apalagi jika melihat anggapan masyarakat kebanyakan, yang melihat perempuan sangat rentan di intimidasi, tidak bisa mengambil keputusan, hingga penundukan terhadap kaum lelaki.

Jika melihat kasus tersebut, para istri tidak punya kuasa untuk menolak. Terlebih ada ancaman yang dilakukan suaminya. (wahidi akbar sirinawa/r2)

Berita Lainnya

Di Bawah Bayang-Bayang PT Gili Trawangan Indah

Redaksi Lombok Post

Tiga Pelajar di Lotim Tertangkap Saat Pesta Sabu

Redaksi Lombok Post

Perhimpunan Intervensi Kardiologi Indonesia Klarifikasi Pernyataan Menkes

Redaksi Lombok Post

Jangan Mau Merariq Kodek, Gak Keren Tau!

Redaksi Lombok Post

Atlet Menembak dan Selancar NTB Sumbang Emas untuk Indonesia

Redaksi Lombok Post

Hitung Mundur, 24 Bulan Menuju MotoGP

Redaksi Lombok Post

Sembilan Produk Rucika Raih Green Label Indonesia

Redaksi Lombok Post

Tipu TKI, Oknum Pegawai Disnakertrans Lotim Hilang

Redaksi Lombok Post

Event MotoGP Mandalika Bisa Sedot 200 Ribu Penonton

Redaksi Lombok Post