Lombok Post
Metropolis

Mohan: Kita Harus Bangkit!

Angka Kemiskinan Naik Tipis

GULUNG TIKAR: Sebelum tutup awal April ini, barang yang ada Ritel Modern Giant diobral. Ritel ini tutup karena daya beli masyarakat rendah pascagempa.

MATARAM-Angka kemiskinan di Kota Mataram naik tipis. Pada 2018 lalu angka kemiskinan di Kota Mataram tercatat 8,96 persen. Sementara di triwulan pertama 2019, merangkak naik menjadi 9 persen.

Peningkatan warga miskin itu dinilai Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana masih wajar. Sebab, sejak akhir Juli 2018, daerah ini mengalami bencana gempa bumi bertubi-tubi.

“Masih wajar. Tapi tentu ini menjadi penyemangat kita bekerja lebih ekstra lagi untuk menurunkan angka kemiskinan itu,” kata Mohan, kemarin.

Diungkapkan, salah satu mesin penggerak ekonomi di Kota Mataram adalah sektor pariwisata. Dan, gempa bumi 2018 lalu membuat wisatawan khawatir datang ke Mataram.

Saat ini, lanjut Mohan, yang paling mendesak untuk dilakukan adalah, membangun kepercayaan. Meyakinkan orang untuk datang ke Mataram.

Misi ini tak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah. Masyarakat harus terlibat. Meski dengan cara sekecil apapun. “Masyarakat Mataram harus bangkit dulu. Mereka harus kembali ke aktivitas normal. Setelah itu baru kita bisa sampaikan ke orang lain, bahwa Mataram sudah membaik,” sebutnya.

Menurut Mohan, gempa yang terjadi juga membuat geliat investasi menurun. Buktinya, saat ini beberapa supermarket gulung tikar. Kondisi ini kemudian berimbas pada peningkatan pengangguran.

“Kalau pengangguran meningkat, itu artinya kemiskinan juga akan meningkat,” cetusnya.

Selain supermarket, bisnis hotel juga lesu. Saat ini rata-rata tingkat hunian hotel di Kota Mataram hanya 10 persen per bulan. “Kami berkomitmen untuk membantu pengusaha hotel,” tegasnya.

Terpisah Asisten I Setda Kota Mataran Lalu Martawang menuturkan, pada masa pemulihan ini, pihaknya akan fokus membangun fasilitas umum dan fasilitas sosial. Karena bagaimanapun warga tidak ingin terus menerus dalam kondisi darurat bencana.

Sementara untuk pembangunan rumah rusak berat pascagempa, Martawang mengatakan, ia baru mendapat laporan dari Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kota Mataram. Sebanyak 80 unit rumah yang rusak berat sudah selesai proses pengerjaan. Artinya bantuan Rp 50 juta sudah habis terpakai.

“Sebagai bentuk apresiasi, kami akan berikan cat gratis,” sebut mantan Kepala Bappeda Kota Mataram ini.

Sedangkan 700 lebih unit rumah rusak berat lainnya masih dalam proses pengerjaan. Kini kata Martawang, dengan bencana gempa ini, mau tidak mau warga harus membuat rumah tahan gempa. Hidup di daerah cincin api tidak bisa mengandalkan teori-terori ilmiah.

“Tak ada pilihan kita harus bersahabat dengan alam,” tuturnya.

Disinggung soal dana Rp 55 miliar yang belum ditransfer pemerintah pusat, Martawang mengatakan tidak ada masalah. Pemerintah pusat sudah berjanji akan mentransfernya dalam waktu dekat. “Kita tunggu saja,” tandasnya. (jay/r5)

Berita Lainnya

Rayuan Maut Calo Tipu Para TKI

Redaksi Lombok Post

Event MotoGP Mandalika Bisa Sedot 200 Ribu Penonton

Redaksi Lombok Post

Bertaruh Nyawa di Lubang PETI

Redaksi Lombok Post

Kaum Disabilitas NTB Minta Pemerintah Serius

Redaksi Lombok Post

1.228 Orang Terancam Kehilangan Jabatan

Redaksi Lombok Post

Astaga, Enam TKI Asal NTB Diduga Jadi Korban TPPO

Redaksi Lombok Post

Balai TNGR Batasi Jumlah Pendaki Rinjani

Redaksi Lombok Post

Paradigma Penanganan Bencana Harus Diubah

Redaksi Lombok Post

Musim Hujan, BMKG Minta Masyarakat Waspada

Redaksi Lombok Post