Lombok Post
Headline Kriminal Lapsus

Melihat Isi Rumah Bandar Sabu di Abian Tubuh

LAYANI PEMBELI: Tersangka GD memperagakan bagaimana melayani pembeli sabu, di Lingkungan Abian Tubuh Utara, Kelurahan Cakra Selatan Baru, Kota Mataram, kemarin

Bisnis narkoba jenis sabu dijalankan KSP alias Wawan dengan sangat rapi. Dia menjadikan rumahnya, di  Abian Tubuh, Kota Mataram sebagai lokasi transaksi. Dari tempat tersebut, Wawan bisa menghasilkan omzet penjualan sabu ratusan juta rupiah per minggunya.

== == == = == =

Aktivitas bisnis haram Wawan sejak lama telah diincar aparat. Rumahnya berulangkali digerebek polisi. Jajaran Ditresnarkoba Polda NTB bahkan telah lebih dari tiga kali mengobok-obok rumah tersebut. Namun, sebanyak itu pula upaya kepolisian tak membuahkan hasil. Polisi tak bisa melakukan penindakan karena ketiadaan barang bukti sabu.

Upaya ekstra kemudian dilakukan tim Satresnarkoba Polres Mataram. Meski target utama tak berada di rumah, tim berhasil menahan  tiga orang pekerjanya, yakni Gebur, 47 tahun; Kurna, 27 tahun; dan pelajar berinisial GD, 17 tahun.

Sebelum menangkap ketiganya pada Sabtu (16/3), tim lebih dulu melakukan simulasi penangkapan. Mereka memetakan kondisi di sekitar TKP. Menghitung dengan tepat detail waktu yang dibutuhkan, mulai dari datang hingga masuk ke dalam rumah.

”Berkat doa masyarakat dan kerja keras tim, tiga orang pelaku berhasil kita tangkap,” kata Kapolres Mataram AKBP Saiful Alam.

Rumah Wawan, tepat berada di pinggir jalan. Di sisi rumah yang menghadap jalan dibangun tembok setinggi dua meter. Untuk masuk ke rumah tersebut, terdapat gang di sebelah utara dengan lebar sekitar dua meter.

Pergerakan setiap orang di areal sekitar rumah, dipantau Wawan dengan CCTV. Kamera pengawas tersebut ditempatkan di luar rumah. Satu menyorot jalan, satu lagi mengawasi pergerakan di gang.

Karena itu, ketika polisi datang melakukan penggerebekan, tiga pelaku yang tengah berada di ruang tersembunyi, melakukan langkah penyelamatan. Mereka memusnahkan 120 poket sabu menggunakan alat pembakar.

Sekilas, ruangan di rumah tersebut serupa dengan rumah pada umumnya. Terdapat kamar tidur, ruang keluarga, dapur, dan ruang suci untuk tempat beribadah. Tetapi, usai penggerebekan dari tim Satresnarkoba Polres Mataram, terkuak ruang rahasia yang dijadikan sebagai tempat penyimpanan sekaligus penjualan sabu.

Ruangan tersebut berbatasan langsung dengan ruang suci. Untuk masuk ke sana, harus melalui pintu masuk kecil yang berada di samping dapur. Pintu tersebut dipasangi cermin sebagai kamuflase.

Di balik cermin, terdapat lorong kecil berbentuk huruf L. Lebarnya hanya 1 meter. Masih di lorong yang sama, terdapat satu pintu besi. Setelah melewati itu, ada satu lorong lain yang menjadi jalur menuju ruang persembunyian.

Polisi sempat kesulitan masuk ke ruang tersebut. Sebab, setelah pelaku melihat kedatangan anggota, mereka langsung mengunci pintu besi. Upaya paksa dilakukan anggota dengan mengeluarkan tembakan ke arah atas sembari meminta pelaku menyerah.

Tembakan membuat nyali pelaku ciut. Gebur mengatakan, mereka sudah pasrah saat anggota berada di balik pintu. ”Saya bilang (ke Kurna dan GD), kita menyerah saja,” ujar pria 47 tahun tersebut. Selanjutnya, Gebur meminta GD untuk membuka pintu besi.

Ketika polisi masuk, api pembakaran sabu masih menyala. Dengan cepat anggota mengambil air untuk memadamkan api. Meski sudah dibakar, polisi bisa menyelamatkan sisa sabu untuk dijadikan barang bukti dalam kasus ini.

Selain sabu, petugas juga mengamankan uang dalam berbagai pecahan, dengan total Rp 37.747.000. Uang tersebut diduga hasil penjualan sabu pada hari penggerebekan.

Kasatresnarkoba Polres Mataram AKP Kadek Adi Budi Astawa mengatakan, pelaku menyusun dengan detail langkah pemusnahan sabu apabila digerebek polisi. Selain alat pembakar, di ruangan tersebut terdapat wastafel untuk membuang poketan sabu.

”Mereka bisa melihat pergerakan di luar dari layar monitor di ruangan ini,” kata Kadek.

GD, salah satu pelaku yang berstatus pelajar mengaku dirinya sudah dua tahun tinggal di tempat tersebut. Dia bekerja melayani setiap pembeli yang datang membeli sabu. Upahnya, Rp 100 ribu per hari.

Saban harinya, GD duduk tepat di balik tembok, yang menjadi pembatas antara ruang penjualan dan pembeli. Di tembok tersebut, terdapat dua pipa yang menjadi sarana transaksi sabu.

”Sabunya kita keluarkan sesuai dengan nominal uang. Kalau Rp 100 ribu, dapatnya lima miligram,” aku GD.

Sistem pembelian sabu di rumah milik Wawan, serupa dengan mesin pembelian minuman otomatis. Pembeli masuk ke sebuah ruangan dengan ukuran sekitar 1×1,5 meter. Ruangan ini terletak di luar rumah dengan pintu dari besi.

Di dalam ruangan, terdapat tiga lubang. Dua lubang berfungsi sebagai sarana transaksi sabu. Satu lubang lagi terdapat kamera CCTV yang menyorot langsung ke wajah pembeli.

Transaksi dilakukan saat pembeli memasukkan uang dengan nominal tertentu ke dalam pipa yang ujungnya berada di ruangan GD. Setelah uang diterima, dia akan memberikan poketan sabu kepada pembeli. Juga melalui saluran pipa, namun diameternya lebih kecil dari pipa uang.

Kasatresnarkoba mengatakan, pengungkapan bisnis narkoba tersebut tidak berhenti setelah menangkap ketiga pelaku. Polisi masih memburu Wawan, yang diduga kuat mengendalikan bisnisnya dari jarak jauh.

Dari informasi yang diperoleh polisi, Wawan telah lebih dari tiga tahun menjalankan bisnis narkoba di Kota Mataram. Omzet bisnis haram tersebut bisa mencapai ratusan juta tiap minggunya.

Kadek mengatakan, Wawan memang jarang berada di Kota Mataram. Dia lebih banyak mengendalikan bisnis sabunya dari luar kota. ”Hanya sesekali datang. Kemarin kita ketahui berada di Bali, sekarang kemungkinan besar ada di Sumbawa. Itu masih kita lacak,” terang dia.

Pelaku yang kini ditahan, dijerat dengan Pasal 114 ayat 1, Pasal 112 ayat 1, Pasal 127 ayat 1, Pasal 132 ayat 1 huruf a Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Ancaman hukumannya mencapai 20 tahun penjara.(wahidi akbar sirinawa/r2)

Berita Lainnya

Pastikan Ujian Nasional Dihapus

Redaksi Lombok Post

Di Bawah Bayang-Bayang PT Gili Trawangan Indah

Redaksi Lombok Post

Tiga Pelajar di Lotim Tertangkap Saat Pesta Sabu

Redaksi Lombok Post

Perhimpunan Intervensi Kardiologi Indonesia Klarifikasi Pernyataan Menkes

Redaksi Lombok Post

Jangan Mau Merariq Kodek, Gak Keren Tau!

Redaksi Lombok Post

Atlet Menembak dan Selancar NTB Sumbang Emas untuk Indonesia

Redaksi Lombok Post

Hitung Mundur, 24 Bulan Menuju MotoGP

Redaksi Lombok Post

Sembilan Produk Rucika Raih Green Label Indonesia

Redaksi Lombok Post

Tipu TKI, Oknum Pegawai Disnakertrans Lotim Hilang

Redaksi Lombok Post