Lombok Post
Headline Lapsus Metropolis

Penjualan Obat Online Berbahaya Kian Marak

Obat Kuat Pria dan Penggugur Kandungan Paling Diminati

Salah satu sampel obat terbata yang dijual secara online dan bebas berupa obat penggugur kandungan beredar secara luas dan mudah di dapatkan di Jakarta, Minggu (7/4/2019). Hanung Hambara/Jawa Pos

Penjualan obat secara online bertebaran. Tinggal cari apa yang diminati. Banyak yang mengabaikan izin BPOM. Sangat membahayakan!

===================

MEMBELI obat secara online memang begitu memudahkan konsumen. Tak heran bila akhir-akhir ini situs penjualan obat begitu marak. Demikian juga penawaran obat melalui media sosial.

Tak perlu repot. Tinggal pilih obat yang dibutuhkan, hubungi, barang pun sudah didapat. Sayang, kemudahan sering disalahgunakan. Konsumen obat mulai mencari obat yang aneh-aneh. Meskipun kadangkala hal tersebut membahagiakan mereka sendiri.

Salah satu jenis obat yang mudah didapatkan secara online adalah obat kuat untuk laki-laki. Jawa Pos dengan mudah menemukannya di situs pencari Google.

Dari daftar hasil pencarian, dipilihlah satu tautan. Yang ketika diklik langsung menuju pada sebuah laman forum diskusi sebuah kanal berita online nasional.

Jawa Pos kemudian mencoba menghubungi nomor telepon yang disediakan dengan menggunakan fasilitas WhatsApp. Setengah jam kemudian, ada respons. Pesanan pun berbalas.

Si penjual memastikan stok produknya masih ada dan bisa diorder. Si penjual juga memberikan garansi bahwa obat kuat tersebut aman karena merupakan produk herbal.

Setelah menyebutkan alamat pengiriman, tidak lama kemudian ponsel Jawa Pos berdering. Di ujung telepon, terdengar suara laki-laki menanyakan patokan alamat pengiriman. Rupanya, dia adalah kurir obat tersebut. Kesempatan itu digunakan Jawa Pos untuk menanyakan beberapa hal seputar obat tersebut. Tentu dengan berpura-pura membandingkannya dengan produk lain.

Gayung pun bersambut. Si kurir secara terang-terangan menawarkan konsultasi singkat. Jawa Pos pun menceritakan pengalaman menggunakan produk lain. Dengan menyebut produk itu membuat jantung berdebar saat pagi setelah bangun tidur sesudah penggunaan pada malamnya.

“Apakah penggunaannya dibarengkan dengan minum alkohol?” tanya kurir tadi.

Si kurir menjelaskan, memang agak berisiko jika obat kuat diminum bersamaan atau setelah meminum minuman beralkohol.

Dia lalu menyebutkan, dosis obat produknya 80 miligram. Berbeda dengan beberapa obat kuat lain yang berdosis 100 miligram. Salah satunya, reaksi obat itu sedikit lebih lama meski pada dasarnya hasilnya hampir sama.

“Bedanya enggak jauh dengan produk yang 100 miligram. Dalam arti kecepatan untuk tahan lamanya,” terangnya berpromosi.

Dia juga menjelaskan dengan detail bahwa efeknya akan terasa setengah jam setelah obat dikonsumsi. “Minum pakai air putih hangat. Tunggu setengah jam atau 25 menit, baru nanti Anda bisa merasakan hasilnya,” ungkapnya.

Si kurir juga meyakinkan bahwa obat kuat itu tidak berefek samping. Dia juga memberitahukan, obat tersebut cukup dikonsumsi sebutir setiap akan berhubungan.

Dia pun mengantarkan obat itu ke tempat yang dijanjikan. Jawa Pos membayarnya setelah menerima dan memeriksa kemasannya. Saat ditanya soal cap dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan), si kurir buru-buru menjawab bahwa semua keterangan tertulis di kertas dalam dus.

Namun, dari keterangan di dalam kemasannya, disebutkan bahwa pabrik obat itu berada di Inggris. Kertas di dalam kemasan tersebut berisi keterangan yang seluruhnya berbahasa Inggris. Tidak ada keterangan dalam bahasa Indonesia sama sekali. Tidak ada tanda apa pun yang bisa menunjukkan bahwa obat itu sudah lolos pemeriksaan BPOM. Yang dicantumkan hanya keterangan kandungan, aturan mengonsumsi, dan efek samping.

Obat pelangsing juga mudah ditemukan secara online. Jawa Pos berusaha mencarinya melalui Instagram. Begitu mengetik kata “pelangsing”, banyak akun yang bermunculan. Rata-rata tampilannya mirip. Tubuh manusia yang berbadan tambun, lalu foto orang yang sama dengan ukuran tubuh yang lebih kecil. Tidak lupa, disertai pula bukti kiriman dan testimoni pengguna.

Akun tersebut bahkan meyakinkan bahwa obat yang dijual pasti ampuh. Dalam sebulan, berat badan bisa turun hingga 15 kg. Sayang, ketika ditanya izin dari BPOM, dia tak mau menunjukkan. Pada tampilan di Instagram pun, tidak ditunjukkan bukti izin dari BPOM dan bahan bakunya.

Tak berhenti di situ, Jawa Pos juga mencoba mencari obat lain yang menurut BPOM merupakan yang terlaris secara online. Yakni, obat penggugur kandungan. Ternyata, sangat mudah dan banyak yang menawarkannya. Mulai melalui website gratisan hingga iklan berbayar.

Pertengahan bulan lalu, BPOM mengumumkan adanya obat keras yang dijual secara online. Salah satunya adalah gastrul dan cytotec yang disalahgunakan sebagai obat penggugur kandungan. Padahal, obat itu digunakan untuk mereka yang menderita tukak lambung.

Berbeda dengan obat kuat, penjual obat penggugur kandungan tersebut tidiak mau diajak bertransaksi secara langsung. Mereka mau mengirimkan obat yang dipesan setelah uang ditransfer. Meski dalam satu kota.

“Lagi rawan razia soalnya,” ujar salah satu penjual. Untuk obat penggugur kandungan, Jawa Pos memang menghubungi banyak penjual.

Harga yang ditawarkan antara satu penjual dan penjual lainnya beragam. Antara Rp 900 ribu hingga Rp 1,5 juta. Pertanyaan awal, mereka pasti menanyakan usia kandungan. Setelah itu, mereka akan memberikan saran obat apa yang digunakan.

Cytotec merupakan obat yang selalu disebut selain obat antinyeri dan pembersih rahim. Beberapa penjual tidak menawarkan paketan, bisa membeli cytotec. “Tiga jam sudah reaksi obatnya,” kata admin WhatsApp penjual yang lain.

Direktur Penyidikan Obat dan Makanan BPOM Teguh Margoyoso mengungkapkan, penjualan obat secara online sering kali lekat dengan penyalahgunaan obat. Dia mencontohkan kasus M yang sedang bergulir di Pengadilan Jakarta Barat. “Nilai kerugian akibat penjualan obat itu Rp 17,4 miliar,” ungkapnya.

Oktober tahun lalu, BPOM melakukan penindakan. Barang buktinya 144 item. “Pada umumnya adalah obat yang mengandung bahan berbahaya dan digunakan untuk meningkatkan gairah seks,” tutur Teguh. Namun, seluruhnya dipastikan palsu. Dia hanya mencatut nama salah satu produsen obat.

Dia menyebutkan, kasus M hanyalah salah satu contoh. Selama dua tahun terakhir, banyak kasus serupa dengan nominal yang berbeda di tanah air.

Ketika disinggung apakah ada peran orang-orang yang bekerja di sektor medis, Teguh tidak bisa memastikan. “M itu tidak sekolah untuk medis. Tapi, ada juga seperti kasus vaksin palsu yang dikerjakan oleh yang mengerti medis,” ucapnya.

Sudah Dicekal, Tetap Muncul Lagi

Pasar penjualan obat ilegal secara online memang seolah tidak pernah mati. BPOM melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) sudah men-takedown 217 situs jual beli obat ilegal. Namun, bak cendawan pada musim hujan, mereka masih tumbuh subur, bahkan merambah aplikasi dan situs jual beli.

Kemajuan teknologi tidak bisa dihindari. Gawai begitu lekat dengan kehidupan manusia. Dengan internet, semua dipermudah. Tinggal pencet, bisa dapatkan barang. ”Masalah ini tidak hanya terjadi di Indonesia,” ucap Direktur Pengawasan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif BPOM Togi J. Hutadjulu.

Sebelum bertindak, BPOM melakukan sosialisasi kepada apotek. Para apoteker diberi edukasi bahwa penjualan obat tidak bisa sembarangan. Terutama pada obat-obat keras dan harus menggunakan resep dokter.

Togi menganggap pada era digital ini pun sama. Edukasi dan penindakan transaksi obat dilakukan. Sasarannya bukan hanya petugas medis, melainkan juga seluruh komponen masyarakat. Sebab, bisnis tersebut terus-menerus muncul karena permintaan dari masyarakat juga ada.

Kandungan obat yang dijual secara online acap kali tidak jelas. Belum lagi kepastian keaslian obat tadi. Karena itu, konsumen yang membeli obat secara online harus berhati-hati terhadap risiko yang bisa kapan saja terjadi. ”Contohnya obat kuat, bisa menyebabkan gangguan kardiovaskuler,” tuturnya.

Menurut dia, obat seharusnya bisa mengatasi masalah kesehatan. Namun, ketika obat disalahgunakan, risikonya bisa kematian. Togi mencontohkan mengapa obat harus menggunakan resep dokter. Dia menjelaskan bahwa dokter harus menyupervisi kondisi pasien terhadap obat tersebut. Apalagi untuk obat keras. Karena itu, tidak semua obat bisa dijual dan dikonsumsi sembarangan. ”Yang boleh menyalurkan obat haruslah sarana yang punya izin dan memiliki apoteker,” ujar Togi.

Selain pengawasan rutin, BPOM melakukan cyber patrol. Operasi tersebut merupakan pengawasan berkala terhadap obat yang dijual secara online. Selain itu, BPOM turut dalam Operasi Pangea yang dikoordinasikan Interpol.

Togi juga meminta Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2018 tentang Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan direvisi. Menurut dia, ada beberapa hal yang perlu disesuaikan dengan keadaan zaman. ”Kami juga sedang menyusun peraturan kepala BPOM soal pengawasan obat dan makanan,” ucapnya.

Togi menyadari bahwa BPOM tak bisa bekerja sendiri. Dia berharap sikap proaktif dari masyarakat. ”Selama ini jarang lapor karena takut ketahuan menggunakan obat tersebut,” ungkapnya. (byu/lyn/c5/git/JPG/r3)

Berita Lainnya

Pemerintah Loteng Maunya Minimal 20 Persen Anak Miliki KIA

Redaksi Lombok Post

Byarpet Bikin Mumet

Redaksi Lombok Post

Pelaksanaan Sertifikasi Pra Nikah di Daerah Akan Sangat Sulit

Redaksi Lombok Post

Pemadaman Bergilir Resahkan Pelanggan, Mahasiswa Gedor Kantor PLN

Redaksi Lombok Post

Target Pembangunan Pembangkit Meleset, Manajemen PLN Klarifikasi ke Ombudsman

Redaksi Lombok Post

Lalu Irwan Janjikan Perbaikan Jembatan dan Tempat Pemakaman Dasan Geres Tahun Depan Melalui Pokir

Redaksi Lombok Post

Gubernur Terima DIPA dan Dana Transfer dari Presiden

Redaksi Lombok Post

Mulai 2020, Calon Pengantin Wajib Ikuti Sertifikasi Pra Nikah

Redaksi Lombok Post

PLN NTB Akui Ada Gangguan di PLTU Jeranjang

Redaksi Lombok Post