Lombok Post
Metropolis

Asap Kembali Serbu Ibu Kota, Pembakaran Jerami Masih Marak

BAKAR JERAMI: Seorang petani sedang membakar jerami untuk mempercepat proses penyiapan lahan di wilayah Rembiga, belum lama ini.

MATARAM-Para petani di Kota Mataram sampai saat ini masih membakar jerami usai musim panen. Akibatnya, polusi udara tidak bisa dihindari. Seperti yang dilakukan Sahdan, salah satu petani di Rembiga.

Ia mengaku, membakar jerami merupakan salah satu cara untuk mempercepat persiapan pengolahan tanah untuk periode tanam berikutnya. Selain itu, membuat tanah bekas pembajakan menjadi lebih cepat rata. “Kalau dibakar, lahannya kami jadi rapi,” tegasnya.

Meski dampaknya berpengaruh pada polusi udara, tetapi ia tidak memiliki pilihan lain untuk mempercepat proses penyiapan lahan. Menurutnya, tindakan ini lebih praktis dan menghemat waktu dan tenaga. Apalagi sawah yang dibajak juga cukup luas. Dirinya yang sudah renta, tidak sanggup lagi untuk mengangkut jerami-jerami yang tersisa. “Saya capek, jadi bakar saja sudah,” kata dia.

Sahdan memang tidak punya pilihan. Selain karena alasan tadi, ia juga tidak tahu mau akan dibawa ke mana jerami-jerami itu. Sementara hewan ternak di Rembiga seperti sapi saja sudah sulit ditemui. Pernah ada peternak dari Gunungsari yang mengumpulkan jerami-jerami di area persawahan Rembiga, tetapi kini tidak ada lagi. “Mau dibawa ke mana, lagian sapi di sini juga nggak ada,” tandas Sahdan.

Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram H Mutawalli mengaku dilematis memikirkan hal ini. Di satu sisi pihaknya menyuruh petani untuk cepat melakukan penamaman kembali. Namun disisi lain, petani menjadi tidak punya pilihan untuk mempercepat maka jerami harus dibakar. “Begitu kondisinya sekarang,” kata dia.

Diakuinya, para penyuluh pertanian memang sudah dibekali untuk melakukan sosialisasi pada para petani. Agar jerami sisa hasil panen, di bawa ke pematang biar ada orang yang angkut. Namun, hal itu juga tidak mudah. Harapannya Mutawalli, pengangkut itu datang dari luar daerah. Namun ternyata semakin hari bahkan tidak ada.

Untuk dijadikan pakan ternak memang pihaknya masih kesulitan. Sapi di Rembiga saja sudah jarang sekali ditemui, banyaknya hanya di bagian selatan Kota Mataram yang masih mengelola lahan pertanian. Jumlah sapi di bagian selatan mencapai 2 ribu ekor.

Agar semua jerami bisa bermanfaat, pihaknya saat ini sedang melakukan studi banding ke beberapa daerah di NTB untuk memaksimalkan potensi jerami untuk pakan ternak. “Biar nggak melulu hanya dibakar, teknologi kami sudah punya tinggal bagaimana jerami ini kita akan jadikan biskuit untuk sapi-sapi kita” kata dia. (yun/r5)

Berita Lainnya

Rayuan Maut Calo Tipu Para TKI

Redaksi Lombok Post

Event MotoGP Mandalika Bisa Sedot 200 Ribu Penonton

Redaksi Lombok Post

Bertaruh Nyawa di Lubang PETI

Redaksi Lombok Post

Kaum Disabilitas NTB Minta Pemerintah Serius

Redaksi Lombok Post

1.228 Orang Terancam Kehilangan Jabatan

Redaksi Lombok Post

Astaga, Enam TKI Asal NTB Diduga Jadi Korban TPPO

Redaksi Lombok Post

Balai TNGR Batasi Jumlah Pendaki Rinjani

Redaksi Lombok Post

Paradigma Penanganan Bencana Harus Diubah

Redaksi Lombok Post

Musim Hujan, BMKG Minta Masyarakat Waspada

Redaksi Lombok Post