Lombok Post
Metropolis

Berkunjung ke CPg Taman Sangkareang Mataram

SURGA ANAK-ANAK: Beberapa anak tengah bermain di CPg Taman Sangkareang, beberapa waktu lalu.

Pemerintah berusaha mencintrakan pembangunan di kota ramah bagi anak. Salah satunya dengan menyediakan fasilitas CPg. Warga pun mengapresiasi upaya positif ini, sambil menyelipi saran agar ke depan lebih baik lagi.

LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram

=================================

HAYATUL Hiqam, bocah mungil itu berlarian ke sana ke mari. Kakinya yang mungil tak ada lelahnya menjelajah taman, di sisi utara Taman Sangkareang. Tempat itu sudah seperti tempat yang paling mengerti tentang dunianya. Begitu juga kesenangannya.

Prosotan, ayunan, dan beberapa fasilitas bermain di Child Playground (CPg) tidak ada di rumahnya. Jadi saat ia tahu ada benda itu di taman Sangkareang, saban hari Qami — bgitu ia dipanggil — meminta di antar ke sana. “Ya hampir setiap hari,” kata Sara Ayudia, Ibu Qami.

Mereka biasanya datang pagi. Bila, tak sempat maka sore hari. Tapi sering pula, sore hari. Qami bisa bertemu banyak teman-teman baru di sana. Tidak perlu kenalan. Mereka tetiba saja sudah larut dalam kegembiraan. Berkejaran. Berayunan. Hingga bergiliran di prosotan. “Ya paling kami sesama orang tua yang kenalan, karena beberapa kali sering bertemu di sini,” ujar Sara.

CPg di Taman Sangkareang itu memang menyenangkan. Tentu bukan karena semata ada fasilitas bermain anak-anak. Tempat yang teduh, pemandangan yang indah, hingga akses mudah. Persis ada di samping jalan protokol. Membuat Sara tidak keberatan membawa anaknya bermain ke sana. “Enak di sini. sejuk juga,” nilainya.

Bagi Sara, pemerintah telah melakukan hal yang benar. Menyediakan ruang-ruang bermain bagi anak. Di tengah terus menyempitnya lahan ibu kota. Ruang-ruang bermain, seperti tanah lapang hanya tersisa beberapa saja.

Di sana pun bukan tempat bermain yang layak bagi anak-anak. Jangan bandingkan kota dengan anak-anak di desa-desa plosok. Yang dengan sangat kreatif bisa membuat apa saja jadi permainan

Kayu bisa jadi gasing. Ketas bisa jadi pesawat dan perahu. Hingga seutas kain bisa buat main petak umpet. Bahkan, tanpa alat bantu apapun, anak-anak bisa bermain apa saja di desa. Sebut saja permanan rakyat seperti benteng, kepala ular, dan banyak permainan lain.

“Ya kita bisa saja mengajari mereka, tapi waktu yang nyaris tidak ada. Kalaupun para orang tua ada waktu, apa anak-anak yang lain ada waktu untuk bermain bersama?” imbuhnya.

Bagi Sara yang seorang pendatang dari luar Kota Mataram, lalu tinggal di perumahan situasi ini semakin tidak mudah. Mau tidak mau ia harus mencarikan tempat bermain bagi anaknya yang layak. Agar kecerdasan IQ-nya, beriringan dengan EQ juga.

“EQ baru bisa berkembang, bila ia bertemu dengan teman-teman sebayanya. Ia bisa belajar bersosial dan banyak hal,” terangnya.

Karenannya keberadaan CPg, seperti menjawab keresahan hatinya. Tentu ada pilihan lain seperti game zone yang ada di pusat-pusat perbelanjaan modern, seperti mal. Tapi selain butuh biaya yang tidak sedikit untuk beli tiket bermain. Sara tak yakin perkembangan EQ anaknya bisa sebaik di CPg. “Di sana ia bermain dengan robot, tak ada jiwa, tak ada emosi,” ujarnya.

Perempuan asal Praya, Lombok Tengah ini sehari-hari melakoni tugas sebagai ibu rumah tangga. Tinggal di perumahan Perum elite Kota Mataram Asri, Lingkar Selatan, mengharuskan ia setiap hari harus memperhatikan perkembangan emosional anak-anaknya.

“Kebanyakan teman-teman sebayanya ada yang sudah masuk TK, tidak jarang anak-anak di kompeks sepi,” terangnya.

Qami, berusia 4 tahun. Kurang tiga bulan. Ayahnya seorang pegawai di salah satu bank swasta di Kota Mataram. Sekalipun wahana CPg, relatif sederhana. Tapi cukup membuat bocah itu, senang luar bisa. Bila ibunya mengajak bermain ke CPg, ia tak pernah menolak diajak mandi pagi.

“kalau disuruh mandi biasa, pasti berontak. Tapi kalau dibilang ke Taman Sangkreang, baru mau,” ujar ibunya sembari tersenyum.

Kecuali bila turun hujan. Sara, tidak bisa mengajak anaknya bermain di sana. Wahana bermain jadi licin. Begitu juga di sekitar wahana berubah jadi lumpur dan genangan air. Seandainya saja di tempat itu ditanami rumput dan diberi atap, ia yakin tempat itu bisa jadi lebih istimewa lagi bagi anak-anak. “Iya (ketika hujan) sering ada genangan air,” terangnya.

Sara berharap pemerintah menambah lebih banyak lagi wahana bermain bagi anak-anak. Terutama di taman-taman milik pemerintah kota. Ia melihat, komitmen pemerintah melindungi hak-hak anak sangat kuat.

“Dan satu lagi, itu perpustakaan di buka saja, masa digembok terus. Lumayan buat ibu-ibu yang ngantar anak ke sini bisa baca-baca,” harapnya. (*/r5)

Berita Lainnya

Rakernas MUI di KEK Mandalika Dimulai

Redaksi Lombok Post

Dicari 197.111 CPNS, Kuota untuk NTB Diumumkan Akhir Oktober

Redaksi Lombok Post

Pelamar CPNS NTB Bisa 74 Ribu

Redaksi Lombok Post

Mandalika Disuntik Rp 2,02 Triliun, Sirkuit MotoGP Sudah 10 Persen

Redaksi Lombok Post

Pre Sales Online Tickets MotoGP Lombok Bakal Dihadiri Alex Rins, 20 Ribu Tiket Dijual November

Redaksi Lombok Post

Hidup dari Permintaan Instansi

Redaksi Lombok Post

Batik Sasambo, Apa Kabarmu, Dulu Dipuja, Kini Dilupa

Redaksi Lombok Post

Sistem Pembayaran DAK Fisik Dikeluhkan

Redaksi Lombok Post

Pendaftaran CPNS Dibuka November, 443 Orang Langsung Lolos

Redaksi Lombok Post