Lombok Post
Headline Opini

Dunia Sedang Menunggu dan Melihat

Chen Wenxian
Chen Wenxian

Oleh: Chen Wenxian

MANAKAH yang akan terkena dampak domino untuk Anggota G7 yang mengambil bagian dari “One Belt One Road”?

Tanggal 21 sampai 26 April 2019, Presiden Tiongkok Xi Jinping diundang terbang ke Itali, Monako, dan Prancis untuk kunjungan kenegaraan dan secara konstruktif bersama parapemimpin Uni Eropa membahas kerjasama inisiatif “One Belt One Road”.

Hal ini bertujuan untuk mendorong kemitraan strategis Tiongkok dan Eropa. Diantaranya fokus yang paling menonjol adalah Italia, meskipun pemerintahannya berbeda, Italia telah menjadi negara maju Eropa G7 pertama yang secara resmi bergabung dengan “One Belt One Road”.

Wakil Menteri Pembangunan Ekonomi Italia mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg, “Saya pikir dengan bergabungnya Italia dapat menarik negara-negara Eropa lain untuk turut bergabung.” Wakil Menteri Pembangunan Ekonomi Italia Michele Geraci juga mengatakan dalam sebuah wawancara telepon di Provinsi Hainan, Tiongkok: “Ini bukannya terisolasi dari Eropa, melainkan Italia sedang memimpin.”

Dalam hal ini, para pejabat AS memberikan peringatan kepada Italia, Prancis, dan Jerman dan dengan terbuka menyatakan keprihatinan. Sebagai anggota G7, Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Prancis, Jerman, Italia dan Kanada.

Langkah Italia telah meningkatkan perbedaan antara negara-negara Barat utama.

“One Belt One Road” tak henti-hentinya diragukan, apakah ini “Mengelilingi kota-kota dari pedesaan” di era Presiden Xi?

Pada saat Tiongkok pertama kali mengusulkan inisiatif “One Belt One Road”, Amerika Serikat dan negara Barat lainnya mengganggap itu adalah “alat geopolitik”dan senjata Tiongkok untuk menyerang Barat. Dari Eropa Timur ke Eropa Tengah sampai ke Eropa Selatan, Tiongkok memerankan drama “Mengelilingi kota-kota dari pedesaan”.

Dalam menghadapi keraguan, Juru Bicara Kementrian Luar Negeri Tiongkok, Hua Chunying, dalam konferensi pers rutin Kementrian Luar Negeri mengatakan, “Kerjasama investasi One Belt One Road membantu banyak negara berkembang mengatasi masalah perekonomiannya. ”

Dia mengatakan, “Tidak ada satupun negara yang dikarenakan bekerjasama dengan Tiongkok mengalami krisis utang.” Sejauh ini, kemunculan terjadinya krisis utang di negara-negara tersebut bukan disebabkan oleh Tiongkok.” Sekalipun tak henti-hentinya banyak suara yang tidak mendukung, seiring dengan kemajuan inisiatif “One Belt One Road”, negara-negara di seluruh dunia lebih cenderung untuk “mengambil bagian” dari inisiatif ini.

Tanggal 26 Maret, Presiden Tiongkok Xi Jinping, Presiden Perancis Emmanuel Macron, Kanselir Jerman Angela Markel, Presiden Uni Eropa Jean Claude Juncker mengadakan pertemuan. Ketika membahas “One Belt One Road” Emmanuel Macron dan Angela Merkel menyiratkan bahwa ada kondisi dan prasyarat untuk kerja sama dengan Tiongkok, dan tampaknya mereka masih belum sepenuhnya yakin. Tetapi sikap Prancis dan Jerman adalah sama, tetapi aksinya berbeda.

Pada tanggal 24 Maret Presidan Xi Jinping dalam pertemuaannya dengan Emmanuel Macron menyebutkan bahwa kedua belah pihak harus “mempromosikan pembangunan One Belt One Road yang telah disepakati bersama dan sesegera mungkin melangsungkan proyek kerja sama pihak ketiga ”, hal ini merupakan langkah pertamaTiongkok dan Prancis dalam kerja sama One Belt One Road.

Pada tanggal 26 Maret Kanselir Jerman Angela Markel dalam pertemuannya dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping menyebutkan secara langsung bahwa Jerman “bersedia dengan aktif berpartisipasi dalam Forum KTT Jalan Sutera yang ke-2.” Pada tanggal 24 Maret, perusahaan Siemens dari Jerman bersama Tiongkok menandatangani surat kesepahaman untuk memperkuat kerja sama One Belt One Road. Tindakan pihak Jerman menunjukkan bahwa mereka tidak ingin ketinggalan.

Pada saat yang bersamaan, Inggris juga dengan hangat menyambut kerja sama “One Belt One Road ”sebagai kekuatan Barat pertama yang menandatangani prinsip investasi “One Belt One Road”, pada bulan September 2018, Inter-Party Parlemen Inggris (Semua Parlemen Partai) ” One Belt One Road” dan Grup koridor ekonomi China Pakistan didirikan.

Awalnya Amerika Serikat, Prancis,Inggris dan juga Jepang ingin menolak untuk menyambut “One Belt One Road”.  Pada tanggal 5 Mei 2018, Komisi Reformasi dan Pembangunan Nasional Tiongkok, Kementerian Perdagangan, bersama dengan Kementerian Luar Negeri Jepang dan Kementerian Ekonomi menandatangani Memorandum tentang kerja sama antara Tiongkok dan Jepang di pasar pihak ketiga.

Pada tanggal 25 Maret, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengatakan bahwa jika inisiatif “One BeltOne Road” dapat memenuhi persyaratan keterbukaan dan transparansi, Jepang bersedia bekerja sama dengan Tiongkok dalam kerja sama pihak ketiga. Pernyataan ini tidak berbeda dengan Perancis dan Jerman. Dapat dilihat bahwa sikap terbuka negara-negara G7 seperti Inggris, Prancis, Jerman dan Jepang pada “One Belt One Road” dapat digambarkan sebagai perubahan.

Sama seperti BBC menerbitkan artikel dari ahli yang berwenang untuk memberikan bukti yang cukup megenai “One Belt One Road” dan “enam poin jawaban”: Pertama, “One BeltOne Road” antara Tiongkok dan Uni Eropa adalah win-win ekonomi, “One Belt One Road” antara Tiongkok dan Uni Eropa dapat membantu Untuk mengatasi tantangan politik dan ekonomi yang dihadapi UE, ketiga, implementasi dan keberhasilan “One Belt One Road” akan mengubah pola peradaban dunia, keempat, ada banyak negara miskin di “One Belt One Road”, dan sebagian besar dari mereka adalah negara-negara Islam.

Promosi “One BeltOne Road” dapat membawa perkembangan ekonomi, mempromosikan stabilitas dan perdamaian lokal, dan mengurangi jumlah pengungsi di Barat dan dunia. Kelima, upaya bersama Tiongkok dan UE untuk mempromosikan “One Belt One Road” akan membantu melawan populisme dari dalam Eropa dan Amerika Serikat; Keenam, keberhasilan “One Belt One Road” akan merangsang mekanisme multilateral yang ada untuk menghasilkan tekanan kompetitif dan meningkatkan mode operasi mereka, yang akan membawa momentum pembangunan baru ke dunia.
Uni Eropa (Uni Eropa) saat ini menghadapi masalah ekonomi, keamanan, etnis, pengungsi, dan krisis kehancuran. Meskipun “One Belt One Road” bukan akar dari permasalahan tersebut, tetapi“One Belt One Road”dapat menciptakan peluang bagi Eropa untuk mengatasi persaingan. Dilihat dari sejarahnya yang panjang, Eropa dapat dikatakan cukup beruntung.

Ketika berada di masa sisa-sisa Perang Dunia ke-2, Amerika Serikat muncul kembali ke Eropa dengan “Rencana Marshall” nya yang menguntungkan kedua belah pihak. Memasuki abad ke-21, pada saat integrasi Eropa menghadapi kesulitan yang belum pernah terjadi sebelumnya,Tiongkok yang bangkit kembali datang membawa inisiatif “One Belt One Road” yang menguntungkan semua pihak, dan sekali lagi dalam sejarah memperluas “Cabang Zaitun” ke Eropa.

Di antara negara-negara G7 masih belum jelas siapa yang akan menandatangani memorandum yang relevan dengan Tiongkok, tetapi Italia jelas telah menjadi “domino” pertama. Selanjutnya ke arah mana “domino” akan jatuh , dan bagaimana Sekutu bersama Tiongkok menjalankan rantai kerja sama ini, dunia akan menunggu dan melihat . (*)

Penulis adalah Wakil Pemimpin Redaksi di Perspektif Indonesia. Lahir di Tiongkok pada November 1983, kuliah di President University Indonesia pada tahun 2004-2008 dan mengambil jurusan industrial Engineering. Tinggal di indonesia selama 15 tahun. Mencintai kebudayaan indonesia. Wakil Manajer Umum di perusahaan Ningbo Brillimetal Mineral Co. Ltd yang bergerak di bidang pertambangan nikel sejak tahun 2010.

Berita Lainnya

Berbenah Setelah Kejahatan Terbongkar

Redaksi Lombok Post

Jokowi Janjikan Kejutan di Pengumuman Menteri

Redaksi Lombok Post

Hutan Rinjani Terbakar, Pendakian Ditutup

Redaksi Lombok Post

Kecanduan Mabok Bikin Goblok, Terdorong Nyolong demi Minuman Keras

Redaksi Lombok Post

TGB Mendapat Pengakuan Dunia, Terima Penghargaan dari Al-Azhar

Redaksi Lombok Post

Pemprov NTB Cari 414 CPNS

Redaksi Lombok Post

Syafrudin Perjuangkan 52 BTS Baru Dibangun di NTB

Redaksi Lombok Post

Gubernur Harus Turun Tangan Evaluasi Pengelolaan TPA Kebon Kongok

Redaksi Lombok Post

Pengamen Gomong Bacok Tukang Parkir

Redaksi Lombok Post