Lombok Post
Metropolis

Jangan Jadi Generasi Pil Koplo!

PENGHANCUR GENERASI: Kepala BPOM Mataram Ngan Suarningsih menunjukkan pil koplo bermerek Trihexyphenidyl di kantornya, kemarin (25/6). Pil ini bisa merusak generasi muda di Kota Mataram.

MATARAM-Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Mataram bersama Direktorat Narkoba dan Direktorat Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda NTB menangkap dua orang yang diduga sebagai pengedar pil koplo. Kedua orang itu ditangkap saat akan mengambil kiriman pil koplo di salah satu pengiriman kilat di Kota Mataram.

Dari tangan keduanya, disita sebanyak 15 ribu sterip obat terlarang merek Trihexyphenidyl. “Obat ini akan merusak ribuan generasi. Kami tidak ingin anak-anak di Kota Mataram dan NTB menjadi generasi Pil Koplo,” kata Kepala BPOM Mataram Ngan Suarningsih, kemarin.

Menurutnya, jika dikonsumsi, Pil Koplo jenis Trihexyphenidyl ini akan menyebabkan halusinasi. “Kabarnya obat ini akan dijual kepada remaja, pelajar, dan mahasiswa di Kota Mataram,” ungkapnya.

Suarningsih membeberkan, dua orang pengedar ini berhasil ditangkap karena adanya informasi dari Jakarta. “Setelah ada informasi itu, baru kita melakukan investigasi. Dan mereka tertangkap tangan saat mengambil kiriman. Ada bukti cek pengambilan barang dan HP Oppo,” ujarnya.

Diungkapkan, pil koplo ini biasanya diminum berbarengan dengan kopi. Itu dilakukan agar reaksi obat tersebut lebih cepat. “Efeknya sangat berbahaya,” jelasnya.

Jika dihargakan, Pil Koplo yang jumlahnya 15 ribu sterip ini sekitar Rp 150 juta. “Produk ilegal diperoleh dengan harga murah. Bandar akan menjual kembali obat ini dengan harga yang jauh lebih mahal,” sebutnya.

Trihexyphenidyl harusnya dikonsumsi berdasarkan resep dokter. Pada umumnya obat ini berfungsi sebagai pereda rasa sakit. Penenang untuk mengobati penyakit prakinson. Tapi jika dipakai secara berlebihan dapat menimbulkan efek negatif seperti halusinasi. “Pengkonsumsinya biasanya berprilaku negatif. Dan bukan tidak mungkin akan melakukan tindakan kriminal,” ujarnya.

Dijelaskan, Trihexyphenidyl yang diamankan BBPOM ini palsu. Tidak dibuat di pabrik resmi dan tidak ada izin BBPOM. Dosinya pun lebih tinggi dari obat yang legal. “Tim gabungan saat ini masih melakukan pemeriksaan kepda dua tersangka,” cetusnya.

Ditanya apakah obat ini dijual bebas di apotek, Suarningsih membantah. “Obat ini dijual hanya berdasarkan resep dokter,” cetusnya.

Sementara itu Kasubsi Bansidik Korwas PPNS Ditreskrimsus Polda NTB Aiptu Nengah Surya mengatakan, kedua tersangka tersebut telah diamankan di Polda NTB guna mempertanggungjawabkan perbuatannya. Obat terlarang sasarannya kapada pelajar dan mahasiswa.

Selama 2019, ia telah mengamankan lima orang tersangka terkait kasus Pil Koplo. “Kita akan putus mata rantainya,” janjinya.

Kasus ini akan ditindaklanjuti secara pro justisia dan tersangka dapat dikenakan pasal 197 dan pasal 196 UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan juncto. Pasal 53 KUHP dengan ancaman hukuman pidana penjara maksimal 15 tahun dan atau denda maksimal Rp 1,5 miliar. (jay/r3)

Berita Lainnya

Rakernas MUI di KEK Mandalika Dimulai

Redaksi Lombok Post

Dicari 197.111 CPNS, Kuota untuk NTB Diumumkan Akhir Oktober

Redaksi Lombok Post

Pelamar CPNS NTB Bisa 74 Ribu

Redaksi Lombok Post

Mandalika Disuntik Rp 2,02 Triliun, Sirkuit MotoGP Sudah 10 Persen

Redaksi Lombok Post

Pre Sales Online Tickets MotoGP Lombok Bakal Dihadiri Alex Rins, 20 Ribu Tiket Dijual November

Redaksi Lombok Post

Hidup dari Permintaan Instansi

Redaksi Lombok Post

Batik Sasambo, Apa Kabarmu, Dulu Dipuja, Kini Dilupa

Redaksi Lombok Post

Sistem Pembayaran DAK Fisik Dikeluhkan

Redaksi Lombok Post

Pendaftaran CPNS Dibuka November, 443 Orang Langsung Lolos

Redaksi Lombok Post