Lombok Post
NTB

Warga Sekotong Harus Hati-hati! Ikan dan Beras Terindikasi Terpapar Merkuri

Yuyun Ismawati

MATARAM-Penggunaan merkuri sebagai bahan pemisahan emas di Sekotong dan Pelangan, Lombok Barat, membuat bahan makanan perlu diwaspadai. Karena diindikasikan mengandung bahan kimia berbahaya.

Penasihat Senior Yayasan Fokus Nexus 3 Yuyun Ismawati mengatakan, penggunaan merkuri tidak hanya menyebabkan kualitas udara di wilayah Sekotong dan Pelangan itu berbahaya. Akan etapi bahan makanan juga ikut terdampak. “Yang harus di waspadai adalah ikan dan beras,” terangnya.

Ambang batas normal kandungan merkuri dalam beras menurut Organisasi Pangan Dunia (FAO) adalah 30 ppb dan Standar Nasional Indonesia (SNI) adalah 50 ppb. Sementara, penelitian yang dilakukan Yuyun bersama tim menemukan beras yang mengandung merkuri di wilayah Sekotong dan Pelangan sudah mencapai batas yang mengkhawatirkan yaitu 115 ppb.

Sedangkan ikan yang terkontaminasi merkuri di wilayah Sekotong dan Pelangan mencapai 5 ppm sampai 15 ppm. Sedangkan ambang batas aman hanya 1 ppm. “Itu sudah berbahaya,” tegasnya.

Dia mengingatkan, sudah seharusnya ini menjadi perhatian penting bagi pemerintah daerah, untuk bisa memberantas aktivitas ini. Bila terus dibiarkan, mau berapa banyak lagi ibu hamil bahkan anak-anak akan mengalami gangguan atau kecatatan secara fisik dan mental akibat illegal mining.

Karena memang, sangat tidak dianjurkan atau sangat berbahaya bila ibu hamil atau wanita usia subur tinggal di wilayah yang sudah terpapar merkuri. Mulai dari bahaya menghirup udara, mengkonsumsi ikan, dan beras.

Pada penelitian belum lama ini, dari 60 anak di Pelangan dan Sekotong, dengan rentan usia bayi hingga 15 tahun, semuanya sudah terpapar merkuri. Bisa dirasakan dari kuat genggamannya, cepat atau lambat menangkap maksud pembicaraan dan masih banyak lagi.

“Disuruh berhitung aja pakai bahasa Sasak aja, bisa cepat apa enggak, kita bisa lihat dari cara sederhana seperti itu,” kata Yuyun.

Beberapa waktu lalu, Gubernur NTB Zulkieflimansyah akan membentuk tim pemberantasan tambang emas ilegal di Bukit Prabu, Lombok Tengah. Yuyun mengapresiasi langkah itu. Namun ia menegaskan baik Pemprov NTB dan Pemkab Lombok Tengah harus benar-benar konsisten. Sebab, Sekotong sudah menjadi contoh yang nyata bagaimana merkuri sangat berbahaya.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) NTB dr Hj Nurhandini Eka Dewi mengatakan, sudah ada rencana aksi untuk merawat ibu hamil dan anak-anak yang terpapar merkuri di wilayah lingkar tambang yang tersebar 6.900 titik di NTB. Pihaknya harus memastikan baik ibu hamil dan anak-anak sudah harus memiliki BPJS Kesehatan. Namun, ia dilema karena kegiatan illegal mining sampai saat ini terus berlangsung.

“Ini memang bukan hal yang mudah, makanya pas pak gubernur ada rencana penertiban tambang liar, saya dukung karena semua pihak harus turun mengatasi persoalan ini,” tutupnya. (yun/r5)

Berita Lainnya

BRI Gelar Business Gathering Dengan PJTKI

Redaksi Lombok Post

ACS Group Launching Aruba Instant On di NTB

Redaksi Lombok Post

BCA Gelar Operasi Katarak di RSI Yatofa

Redaksi Lombok Post

Masuki Pensiun, PNS Dibekali Kewirausahaan

Redaksi Lombok Post

Peringati Harhubnas, Amman Mineral dan KUPP Benete Lakukan Gerakan Bersih Laut dan Pantai

Redaksi Lombok Post

Ayo Dukung Duta Bahasa NTB

Redaksi Lombok Post

Karantina Mataram Musnahkan Bibit Kubis Berbakteri Asal Amerika

Redaksi LombokPost

Pemprov Masih Konsultasi

Redaksi LombokPost

Dewan Usulkan Bentuk Pansus

Redaksi LombokPost