Lombok Post
Headline Metropolis

Tok, Tok, Tok, Bank Rontok

IVAN/ LOMBOK POST Seorang pedagang membayar setoran kepada petugas koperasi di pasar Duman, Lombok Barat, Minggu (28/7).

Inilah sekelumit cerita, suka duka menjadi penagih utang Bank Rontok. Sungguh hidup mereka begitu penuh warna. Ada yang menjadi pemicu prahara rumah tangga, ada pula yang diteriaki maling padahal baru tiba. Bahkan kini, adu mulut mulut nyaris menjadi hal yang biasa.

—————————————————————————–

NAMANYA Syamsul. Itu saja. Begitu dia mengenalkan diri. Pekerjaannya, tukang tagih salah satu Koperasi di Lombok Barat. Sudah lima tahun. Bekennya mungkin profesi Syamsul disebut debt collector. Meski koperasi tempatnya bekerja basisnya di Lombok Barat, tapi nasabahnya sudah lintas wilayah. Banyak juga nasabahnya tinggal di Mataram. Terutama dua kecamatan. Ampenan dan Selaparang.

Syamsul berpenampilan rapi. Setelan andalannya adalah mengenakan celana kain yang dipadu kemeja dan dilapisi jaket. Ada tas yang tersampir di pundaknya. Macam tas-tas anak-anak muda zaman sekarang.

Dari penampilannya, mungkin orang tak menyangka Syamsul tukang tagih. Profesi tukang tagihnya baru akan terlihat manakala Syamsul mengeluarkan buku kecil dari dalam tasnya.

Pria 35 tahun ini mengatakan, di buku tersebut terdapat nama-nama nasabah yang harus dia tagih. Dibagi tiga kategori. Harian, mingguan, dan bulanan. Nama nasabah yang masuk kolom harian, itu berarti harus didatanginya setiap hari.

”Hari ini saya harus datangi 20 orang,” ungkap Syamsul pada Lombok Post pekan lalu.

Siapa nasabahnya? Kebanyakan pedagang kecil. Masuk kategori pedagang kaki lima. Berjualan dengan kios-kios kecil. Di pinggir jalan. Menjual nasi bungkus, rokok, hingga kopi saset yang diseduh-seduh.

Utang mereka tak banyak. Rata-rata meminjam Rp 500 ribu. Paling tinggi Rp 1,5 juta. Jangka waktu pengembaliannya pun tidak lama. Dan jangka waktu pengembalian pun tak lama. Yang meminjam Rp 500 ribu, batas waktu pinjaman hanya sebulan. Sementara yang di atas Rp 1 juta, paling lama batas pinjaman hanya dua bulan saja.

”Yang satu bulan itu kita tagihnya tiap hari. Datangin tiap hari,” sebut Syamsul.

Untuk debitur yang meminjam Rp 500 ribu, tiap hari, mereka harus mengangsur Rp 25 ribu. Kadang ada yang patuh. Kadang ada yang minta waktu, karena saat ditagih, tidak ada uang. Pas sudah tiga atau empat hari, baru ngerapel.

“Tapi saya tidak pernah sampai adu mulut,” aku Syamsul. Berlaku kasar pun dia hindari. Dia pun bersyukur, debitur yang berurusan dengannya kooperatif.

Dan kebanyakan dari mereka, menolak ditagih ke rumah. Soalnya, kata Syamsul, rata-rata mereka malu kalau ada tetangga tahu mereka sedang ada utang.

Tapi, lain halnya jika sudah menghadapi nasabah yang waktu nyicilnya sepekan sekali atau sebulan sekali. Nah, kalau kelompok ini banyak yang bandel. Nakal mereka. Selalu mencari cara supaya menghindar dari bertemu tukang tagih.

Pernah Syamsul mendatangi satu nasabah ke tempat usahanya langsung. Tapi, sang debitur meminta Syamsul datang ke rumahnya saja. Permintaan disanggupi. Namun, ketika datang ke rumah nasabah, sang pemilik rupanya tidak berada di rumah. Padahal waktu kedatangan Syamsul sesuai dengan jam yang telah ditentukan.

”Saya pernah nunggu sampai tiga jam, yang punya rumah malah gak balik-balik,” ungkap dia. Bahkan, pola serupa terus berulang hingga tiga kali. Karena itu, tak ingin dikibuli lagi, Syamsul memilih untuk menunggu nasabah di tempat jualannya. Tagihan nasabah lain pun pada hari yang sama terbengkalai.

Dan biasanya, kalau sudah telat bayar, nasabah-nasabah seperti itu akan kena black list. Masuk daftar hitam. Sulit jika hendak mengajukan pinjaman lagi.

 Merata di Seluruh NTB

 Profesi macam Syamsul ini merata ada di seluruh NTB. Mereka umumnya bekerja pada lembaga keuangan dengan badan hukum koperasi. Meski tentu ada pula yang tanpa badan hukum sama sekali. Dan karena mereka menagih debitur saban hari, lembaga-lembaga keuangan ini pun punya julukan unik. Kadang disebut Bank Rontok. Kadang pula jamak disebut Bank Subuh. Sementara kalau di Pulau Jawa, disebutnya Bank Plecit. Maksudnya, bank yang menagih nasabah dengan terbirit-birit.

Saat ini, di seluruh NTB, total ada 4.169 unit koperasi yang terdaftar. Sebanyak 2.633 di antaranya tergolong dala koperasi aktif. Semantara sebanyak 1.536 unit, merupakan koperasi tidak aktif.

Sementara untuk tahun 2019 ini, hingga Juli, baru 1.194 unit di antaranya yang telah menggelar rapat anggota tahunan atau RAT. Rapat ini adalah agenda wajib setiap badan usaha koperasi, karena di dalamnya akan dibahas tentang pertanggunjawaban pengurus koperasi selama satu tahun kepada anggota koperasi yang bersangkutan. Sebagian besar koperasi-koperasi di NTB ini memiliki lini usaha simpan pinjam.

Dan keberlangsungan usaha simpan pinjam koperasi-koeprasi ini, kerap bertumpu pada penagih utang seperti Syamsul. Para penagih utang addalah ujung tombak. Di tangan mereka pinjaman debitur bakal termasuk pinjaman macet, atau justru sebaliknya.

Dan sebagai ujung tombak, hidup para tukang tagih ini sungguh begitu berwarna. Kadang mereka akan menjadi orang yang sangat dibenci. Tentu saja bagi orang yang sedang ditagih. Namun, kadang dia akan menjadi orang yang paling dicari. Tentu saja oleh mereka yang kepepet dan sedang butuh pinjaman.

Di Lombok Tengah ada Sahroni. Dia karyawan salah satu koperasi simpan pinjam yang kantornya di Kopang, Lombok Tengah. Setiap hari Sahroni harus bergelut dengan panas dan dinginkan udara. Menyusuri rumah per rumah, dusun per dudun hingga desa per desa.

Tidak saja Loteng, tapi sampai Lombok Timur. Dia biasanya mulai berkeliling menagih nasabah mulai pukul 09.00 Wita. Dan dia akan beruntung kalau seluruh nasabah sudah selesai didatangi pada pukul 15.00 Wita. Setelah itu, dia harus kembali ke kantor, melaporkan hasil tagihan harian.

            Nasabah Sahroni meminjam paling rendah Rp 500 ribu. Paling tinggi Rp 30 juta. Untuk pinjaman Rp 500 ribu, umumnya harus lunas dalam delapan sampai 10 kali setoran. Jadi tidak disetor harian. Atau tidak disetor bulanan.

Dia memberi contoh. Untuk nasabah yang meminjam Rp 500 ribu, maka nasabah wajib menyetor sebesar Rp 75 ribu per minggu selama delapan kali setoran. Sehingga dalam dua bulan, pinjaman Rp 500 ribu, kembali Rp 600 ribu.

Syarat pinjaman itu mudah. Cukup dengan fotokopi KTP, lalu memiliki usaha seperti menjadi pedagang. Sementara jika pinjaman Rp 30 juta, tiap pekan wajib setor Rp 3,6 juta. Pinjaman harus lunas dalam 10 pekan. Sehingga dalam dua setengah bulan, pinjaman Rp 30 juta kembali Rp 36 juta. Untuk yang ini, syaratnya harus ada jaminan seperti BPKB kendaraan roda empat atau sertifikat tanah. Tapi, prosedurnya tidak sesulit dan serumit meminjam di bank.

Muluskan hari-hari Roni? Ternyata tidak. Sudah beberapa kali, Roni pulang dengan tangan kosong. Ada nasabah yang bahkan kabur ke Malaysia. Atau ke Arab Saudi. Atau bahkan pergi merantau ke Pulau Jawa.

            “Kalau sudah seperti itu kejadiannya, mau tidak mau saya cari keluarga dan kerabat terdekatnya,” katanya.

“Mereka yang harus bertanggung jawab,” kata pria yang sudah delapan bulan bekerja sebagai tukang tagih ini.

            Ditanya, apakah pernah sampai dihadang menggunakan senjata tajam. Roni mengaku bersyukur, tidak pernah merasakan hal-hal seperti itu. Kecuali, sebatas nasabah nakal saja. Kabur dan nomor telepon genggamnya tidak aktif. Terkadang saling kucing-kucingan. Namun akhirnya ketemu juga.

            “Jika mentok atau segala usaha tidak bisa saya jalankan, maka saya lapor ke atasan. Biasanya, atasan saya langsung turun,” katanya. Intinya, tekan Roni pinjaman wajib kembali, tidak boleh tidak.

            Sebagai tukang tagih, telepon genggam Roni juga tidak boleh mati. Harus hidup 24 jam setiap hari. Kecuali, hari Ahad atau tanggal merah. Begitu pula isi bahan bakar motor tidak boleh kosong. Karena mana tahu, ada nasabah yang membayar pinjaman, atau yang mengajukan pinjaman.

Kalau Roni bisa memenuhi target, biasanya kantornya memberi bonus. “Pernah saya dikasi bonus Rp 4,5 juta,” bebernya. Senang bukan main dia atas bonus itu. Tapi jarang-jarang juga bonus segitu.

Pemicu Prahara Rumah Tangga

Ada juga Yuniar Ariandi. Dia seorang karyawan salah satu koperasi simpan pinjam di Lombok Timur. Pekan lalu, Lombok Post mendapati ada ratusan nama nasabah terpampang dalam lembaran kertas yang dipegangnya. Nama-nama itu setiap hari menunggu didatangi.

Sebanyak nama-nama nasabah dalam lembaran itu, sebanyak itu pula cerita mengenai suka duka menagih setoran para nasabah yang dialami Yuniar.  Setiap hari, ia menjadwalkan diri berkunjung ke ratusan nama yang terpampang dalam lembar para debitur.

Wilayah kerja Yuniar luas. Mulai dari Kecamatan Selong hingga ke Lombok Timur bagian selatan. Seperti Sakra, Sakra Barat, Sakra Timur, Keruak, sampai yang paling ujung di Jerowaru.

Selalu muluskan perjalanan harian Yuniar? Rupanya tidak. Sebab, ada saja debitur yang ingkar janji. Sudah memastikan akan membayar tepat waktu, malah tak kunjung kelar sampai jatuh tempo.

“Yang paling berat sih ketika yang ketemu istrinya, dan si Istri ini baru tahu dari saya kalau ternyata suaminya ngambil hutang,” kata pemuda asal Lingkungan Balwo, Kelurahan Pancor, Selong, tersebut.

Di saat seperti itu, perasaan serba salah biasanya akan berkecamuk. Mau pergi salah, mau tinggal, juga pasti dia akan mendengar istri ngomel-ngomel pada suami. Pertengkaran dalam rumah tangga yang diakibatkan oleh kehadiran Yuniar tak sekali dua terjadi.

“Terkadang di sana saya bingung. Bagaimana bisa nasabah saya tidak memberitahukan istrinya,” katanya. Padahal, waktu mengajukan pinjaman, KTP istri wajib dicantumkan.

Jumlah pinjaman nasabah Yuniar bervariasi. Sementara bunga pinjaman yang diterapkan kata dia tidak besar. Sekitar 3 persen dari total pokok pinjaman. Denda atas keterlambatan membayar pun tidak berlaku.

“Kita hanya mengambil jika keterlambatannya melebih jatuh tempo. Itu pun sebenarnya tidak ditentukan berapa,” jelasnya.

Berbicara mengenai denda, Yuniar mengenang cerita seorang nenek pedagang yang sudah jatuh tempo dua bulan. Sedang ia tak memiliki uang untuk membayar denda. Di saat itu, yang ada hanya uang pas-pasan yang diambil dari laci lapak dagang yang kecil. Di saat seperti itu, Yuniar mengaku teriris hatinya.

“Saya tidak pikir panjang. Saya potong dendanya sampai 80 persen. Saya terangkan pada kantor kondisinya,” jelas Yuniar mengenang kejadian tersebut.

Dituntut Kepekaan

Menurut Yuniar, kerja menjadi penagih mengharuskannya lebih peka. Pandai melihat suasana, dan cekatan melihat celah baik atau pun buruk. Sebab tak semua orang memiliki rizki yang sama di bulan yang sama. Ada kalanya naik, ada kalanya turun.

            Apalagi mereka yang berbisnis. Sehingga meskipun target mengikat dari kantor, tapi sepintar mungkin, ia mesti bisa mengakali di mana harus menekan nasabah, di mana harus landai dan sabar menunggu. Itu sebabnya, Yuniar lebih sering mengajak nasabah dengan santai. Mengajak bercanda.

“Kalau sudah merasa nyaman, bukan kita yang mencarinya. Tapi sebaliknya, dia yang mencari kita,” jelasnya.

            Tapi adakalanya juga Yuniar tak bisa menahan emosi.  Melihat lebar nama nasabah yang sebagian besar mendapat keterangan jatuh tempo, keinginan untuk tegas dan sekaligus gerampun tak bisa dielakkan. Namun itu hanya di waktu tertentu.

Selain meningkatkan kepekaan, seorang penagih hutang juga mesti pandai bermain peran. Kata Yuniar, tak jarang ia menemukan nasabah yang malu diketahui berhutang oleh tetangga atau masyarakat di sekitar lingkungannya.

Orang-orang seperti itu biasanya akan berpesan untuk tidak menyebut namanya saat saya cari. Tapi menyebut nama anaknya. “Dan saya harus bisa mengaku sebagai teman anaknya,” jelasnya.

Berpura-pura sebagai teman siapapun bagi Yuniar tak masalah. Selama setiap hari, setoran masuk. Sesuai tanggal pembayaran. Sebab, diiyakan atau tidak, jumlah nasabah yang  malas bayar, jauh lebih banyak dari  yang rajin. Untuk yang rajin, Yuniar memberi tanda dengan mencentang namanya dibuku daftar nasabah.

Yuniar mengatakan, pekerjaan sebagai juru pungut hutang memang melelahkan. Tapi ia sendiri bertahan karena merasa telah menemukan celah dan cara sesuai dengan pengalaman. Cara dan celah tersebut ketika bekerja dengan baik, membuatnya merasa nyaman. Dengan sendirinya, rasa nikmat pun datang. Bertahan adalah hasilnya.

“Sekarang juga tidak mudah cari pekerjaan. Kalau cari kerjaan lain sulit buat adaptasi lagi,” jelasnya.

            Tentu Yuniar juga mendengar ada stigma negatif di masyarakat soal profesinya sebagai tukang tagih itu. Toh, hal begitu telah dia telan mentah-mentah. Telinganya sudah kebal dengan pandangan negatif itu. Juga kata-kata tak sedap yang ditujukan untuknya.

 Adu Mulut Jadi Wajar

Ada pula Abdul. Usianya 32 tahun. Warga salah satu desa di Kecamatan Gerung, Lombok Barat. Profesinya tukang tagih pula. Bukan hanya di koperasi. Dia juga pernah bekerja sebagai tukang tagih lembaga finance. Hal yang bagi Abdul tiada bedanya.

Berhubungan dengan berbagai macam karakter nasabah, pria ini sudah hafal betul strategi menagih setoran. Namun demikian, Abdul tak bisa juga menghindari keributan dengan nasabah terkait masalah penagihan.

“Kalau yang namanya nagih itu pasti pernah saja ribut dengan nasabah. Bahkan saya ribut dengan suaminya,” tuturnya kemarin malam (30/7) kepada Lombok Post.

Sebabnya, nasabah tersebut diungkapkannya beberapa kali menghindar dari kewajibannya. Ia mengambil pinjaman sekitar Rp 1 juta. Dengan kewajiban per hari mengangsur Rp 40 ribu hingga setoran tersebut lunas plus bunganya. Namun, baru beberapa hari mulai menyetor, nasabahnya yang diketahui memiliki usaha kios cukup besar itu mulai membandel. Beberapa kali ditagih nasabah justru kerap mencoba menghindar.

Tepatnya saat bulan puasa. Di wilayah Gerung. Ketika Abdul datang, nasabah tersebut meminta nunggak. Karena baru sekali, Abdul pun coba memaklumi. Namun di hari-hari berikutnya, hal yang sama terulang. Bahkan, nasabah tersebut kadang tak mau membuka pintu rumahnya saat Abdul datang menagih setoran.

Karena sudah tak ada toleransi. Di hari keempat, Abdul datang pukul 09.00 pagi. Rumah diketok. Yang muncul sang suami. Tapi mukanya masam. Tak enak. Abdul yang mulai bekerja sebagai tukang tagih koperasi semenjak tahun 2015 itu pun dibentak dengan nada tinggi. Sang suami merasa terganggu karena Abdul dianggapnya datang pagi-pagi menagih utang.

“Dia keras, ya saya juga keras karena istrinya juga bandel nggak pernah mau nyetor,” aku Abdul.

Cek-cok pun terjadi. Sehingga suami nasabah tersebut meminta agar yang datang esoknya bukan Abdul. Melainkan atasannya atau orang lain untuk menagih setoran. Suami nasabah tersebut mengaku enggan membayar jika Abdul yang datang.  Akhirnya, sesuai permintaan pelanggan, maka Abdul meminta bantuan rekannya yang lain untuk datang. Agar nasabahnya tersebut bisa menyelesaikan setorannya.

“Ya betul memang diselesaikan. Cuma pelan-pelan dan molor waktunya,” akunya.

Dari hal tersebut, Abdul ambil pelajaran. Tidak selamanya nasabah yang terlihat menjanjikan justru bakal lancar melunasi setoran. Justru, pedagang kaki lima di trotoar atau emperan jalan menurutnya lebih patuh dan tertib melaksanakan kewajibannya.

Pedagang menengah ke atas seperti pemilik kios, rumah makan, atau yang lainnya, menurutnya sudah terlalu banyak terlilit utang. Ini yang membuat mereka kadang membandel. Dampaknya, sebelum mengabulkan permohonan pinjaman dari nasabah kelas menengah ke atas tersebut, ia harus melakukan survei terlebih dulu.

Cara melakukan surveinya pun unik. Abdul akan mendatangi dua hingga tiga orang tetangga calon nasabah. Ia akan berpura pura menanyakan rumah calon nasabahnya ke tetangganya. Meski sebenarnya ia sudah tahu dimana rumah nasabahnya. Sambil bertanya rumah calon nasabah, ia pun menanyakan bagaimana kondisi calon nasabahnya. Apakah yang bersangkutan sudah biasa berhutang, pernah terlilit utang, atau orang yang baik yang memang kebetulan membutuhkan uang.

Namun, kadang tidak cukup satu tetangga saja yang ditanya. Karena kadang tetangganya tersebut juga bisa jadi ada masalah dengan calon nasabah. ”Malah dia dijelek-jelekkan nanti,” ungkapnya.

Sehingga dua sampai tiga tetangga juga dijadikan referensi sebelum memberikan pinjaman ke calon nasabah. Referensi yang paling tepat juga biasanya bersumber dari nasabah yang masuk kategori lancar membayar setoran. Mereka biasanya tahu mana orang-orang di sekitarnya yang kerap bandel membayar utang.

“Tapi memang yang lancar sekalipun bisa bandel kalau memang mereka tidak ada uang,” akunya.

Sehingga, ia mengaku haru bisa memaklumi kondisi nasabah. Akibatnya, perjanjian waktu pelunasan setoran utang kadang molor dari seharusnya. Biasanya setoran yang harus selesai dalam sebulan kadang bisa mundur dua sampai tiga bulan.

Makanya kata Abdul, dirinya dituntut paham karakter nasabah. Ada yang harus dilawan dengan lembut. Ada pula yang harus dilawan dengan keras agar mereka mau nyetor.

Selama menggeluti pekerjannya ini, Abdul mengaku cek-cok dengan nasabah sudah menjadi hal yang biasa. Baik saat bekerja di finance maupun di koperasi. “Nggak ada yang tidak bayar, semuanya bayar tapi waktunya molor,” akunya.

Untuk bekerja di koperasi simpan pinjam, seseorang dikatakannya harus bisa membaca situasi karakter nasabahnya. Begitu pun dengan di finance, hampir mirip. Bedanya, di finance ada tim penagihan level satu hingga tiga. Jika tim penagih level satu tidak bisa, maka tim penagihan level dua akan diturunkan perusahan.

Tim level dua ini diketahui lebih keras dari tim pertama. “Kalau level tiga, motor nasabah bisa langsung diangkut. Karena kalau finance kan jaminannya Surat BPKB kendaraan untuk ngambil pinjaman,” tuturnya.

Diteriaki Maling

Hidup penuh warna sebagai penagih pinjaman juga dialami Edy. Ini nama samaran. Dia menolak namanya ditulis terang benderang. Alamatnya di di Lombok Utara. Ia bekerja di salah satu tukang tagih di koperasi simpan pinjam di Bumi Tioq Tataq Tunaq. Setiap pagi hari ia nyanggong di pasar-pasar rakyat di Pemenang, Tanjung, dan Gangga. Nasabahnya tersebar di sana.

Pemuda 27 tahun tersebut tutur katanya cenderung lebih humoris. Badannya tak tegap. Jauh dari gambaran orang kebanyakan kalau penagih hutang mesti sangar.

Pria asli Lombok Tengah mengaku ada debiturnya yang sulit ditemui. Orang tersebut sudah menunggak 6 bulan cicilan. Seolah jalan buntu untuk menarik tagihan tersebut, maka Edy pun memutuskan untuk masuk rumah debitur itu dengan memanjat pagar rumah. Sayangnya, upayanya ketahuan. Dan dia diteriaki maling. Beruntung ia berhasil kabur.

            “Ibu-ibu di pasar itu sebenarnya bukan anggota koperasi. Tapi mereka butuh pinjaman modal,” ungkapnya soal mengapa koperasi tempatnya bekerja memberi pinjaman kepada para pedagang di pasar.

Edy tak menolak jika koperasinya disebut menerapkan bunga yang sangat tinggi. Simpan pinjam tempatnya bekerja menerapkan bunga 20 persen per bulan dengan masa efektif 24 hari pengembalian.  Belum lagi potongan administrasi. Misalnya pinjam Rp 1 juta dipotong biaya administrasi 10 persen. Peminjam hanya menerima Rp 900 ribu saja. Sementara peminjam harus mengembalikan sebesar Rp 1,2 juta dikarenakan bunga 20 persen tadi.

Kadang Edi merasa, apa yang dilakukannya berseberangan dengan hati nuraninya. Tapi, biasanya dia kubur dalam-dalam jika hal itu muncul ke permukaan.

Oh ya. Sebagai penagih di simpan pinjam, gaji Edy tak tinggi. Hanya digaji Rp 1,1 juta sebulan. Dia juga tidak mendapat fee saat rampung melakukan penagihan. Meski begitu, ia bekerja dengan loyalitas. Beruntungnya ia tidak ditarget harus ada setiap hari oleh kantornya. Yang penting semua setoran itu bisa tertutupi saat batas tempo berakhir.

“Dalam seminggu penagihan, tidak pernah lancar. Pelanggan sering ngumpet kalau kita datang,” akunya.

Berbicara soal sanksi bagi peminjam yang jatuh tempo itu ada. Mereka dikenakan sanksi harian Rp 10 ribu per hari. Tentu saja, sebelum melakukan pinjaman, para peminjam sudah dijelaskan mengenai hal ini.

Begitulah para penagih utang ini. Anda pasti tahu, setiap pekerjaan, memang selalu dibarengi risiko di baliknya. (dit/dss/tih/ton/fer/r6)

Berita Lainnya

NTB Banjir Narkoba Impor, Polisi Ungkap Penyelundupan Sabu Malaysia dan Thailand

Redaksi Lombok Post

Rakernas MUI di KEK Mandalika Dimulai

Redaksi Lombok Post

Dicari 197.111 CPNS, Kuota untuk NTB Diumumkan Akhir Oktober

Redaksi Lombok Post

2.064 Bahan Peledak Dimusnahkan

Redaksi Lombok Post

Pelamar CPNS NTB Bisa 74 Ribu

Redaksi Lombok Post

Polisi Telurusi Motif Penusukan Wiranto, Diduga Terkait JAD Bekasi

Redaksi Lombok Post

Mandalika Disuntik Rp 2,02 Triliun, Sirkuit MotoGP Sudah 10 Persen

Redaksi Lombok Post

Pre Sales Online Tickets MotoGP Lombok Bakal Dihadiri Alex Rins, 20 Ribu Tiket Dijual November

Redaksi Lombok Post

Dorfin Butuh Pengamanan Ekstra

Redaksi Lombok Post