Lombok Post
NASIONAL

Megawati Pimpin PDIP untuk Kelima Kalinya

Tutup Spekulasi Adanya Ketua Harian dan Wakil Ketua Umum

Jusuf Kalla, Joko Widodo, Megawati, Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto saat Kongres V PDI Perjuangan (PDIP) akan digelar di Bali pada tanggal 8-11 Agustus 2019.--RAKA DENNY/JAWAPOS

DENPASAR–Kongres V PDIP di Bali menjadi panggung penegasan Megawati Soekarno untuk kembali memimpin partai banteng moncong putih itu. Pengukuhan berjalan mulus melalui aklamasi peserta kongres dari 514 DPC dan 34 DPD se-Indonesia. Bertempat di Grand Inna Bali Beach Hotel, Sanur, Bali, Megawati membacakan sumpah janji jabatan secara tertutup tadi malam.

Dengan demikian, Megawati menjadi ketum umum (ketum) partai terlama di Indonesia. Presiden RI ke-5 itu memipin PDIP sejak partai itu masih bernama PDIP tahun 1996. Setelah reformasi, dia terpilih sampai lima kali secara berturut-turut. Yaitu kongres I PDIP pada 1999, Kongres II 2005, Kongres III 2010, Kongres IV 2015 dan Kongres V 2019 ini.

Seusai dikukuhkan, Megawati langsung menyampaikan konferensi pers. Disampaikan, dalam struktur kepengurus baru nanti, dipastikan tidak ada jabatan ketua harian maupun wakil ketua umum. Dia mengaku mendengar munculnya wacana jabatan baru di struktur DPP. Yaitu wacana ketua harian dan wakil ketua umum. Pertimbanganya adalah regenerasi partai.

’’Memang muncul pertanyaan. Apakah saya tidak jadi ketua umum lagi? Apakah saya akan menyerahkan kepada ketua harian atau wakil ketua umum? Sekarang sudah dijawab, semua itu tidak ada,” tegas Megawati.

’’Saya tetap ketua umum yang diberi hak prerogatif dalam membentuk DPP partai,” tambahnya.

Kesempatan itu sekaligus dijadikan Megawati untuk bicara juga soal isu regenerasi partai. Megawati mengatakan anak muda harus bekerja keras mendapatkan rekomendasi partai. Setelah itu bekerja keras lagi untuk belajar kepemimpinan dan manajeril. Juga harus rajin turun di masyarakat.

’’Saya harap media bisa memberi penjelasan kepada rakyat apakah seseorang itu benar-benar mampu dan memiliki pengalaman untuk menjadi pemimpinnya,” imbuhnya.

Bukan hanya dalam struktur partai. Dua juga menyandingkannya dengan isu kabinet menteri milenial. Dia bilang, anak muda harus teruji lebih dahulu. Minimal, ujar dia, dengan cara terpilih sebagai anggota DPR dan bekerja di parlemen. Dari sana seorang pemimpin akan belajar dinamika. Bagaimana sulitnya membuat undang-undang karena harus bekerja lintas parpol.

’’Dia harus berkomunikasi dengan banyak pihak. Dari sinilah proses dia berpengalaman,” ujarnya.

Megawati mengatakan dirinya bukan tidak mendukung anak muda yang masuk di kabinet. Dirinya pun bukan merendahkan kualitas anak-anak muda.

Hanya saja membandingkan sosok tua dan muda dinilainya sangat tidak relevan.

Dia bilang, anak muda yang dikenal pintar belum tentu bisa berhasil di tingkat pemerintahan. Baginya, faktor penting yang mengasah calon pemimpin adalah pengalaman di bidang politik. “Bukan saya tidak pro milenial. Tapi ini masalah bangsa dan negara. Jadi harus kompeten, punya pengalaman bidang politik,” tegasnya.

Pidato Kebangsaan

Pukul 13.30 kemarin, menandai pembukaan kongres, Megawati juga menyampaikan pidato politiknya. Di hadapan ribuan kader dan petinggi partai lain, putri Bung Karno itu berpidato selama 1,5 jam. Orasinya dinilai membakar semangat para kader PDIP.

’’Dulu saya merasakan pahitnya mengurus partai ini. Sekarang kita sudah jadi pemenang dua kali berturut-turut,” katanya lalu disambut pekikan ’’Merdeka” oleh para kader.

Dalam pidatonya, Megawati banyak menyorot tentang fenomena intoleransi akhir-akhir ini. Menurutnya, sikap intoleran dapat memecah-belah bangsa. Bahkan bisa menimbulkan disintegrasi bangsa. ’’Demokrasi tanpa toleransi akan timbulkan perpecahan,” ujarnya.

Dia prihatin dengan fenomena itu. Megawati mengaku banyak merenung dengan ancaman disintegrasi pada pemilu 2019. Dia bilang, ancaman disintegrasi karena sikap tidak toleran adalah satu satu kekhawatiran Bung Karno. Dia pun mengutip pidato Bung Karno bahwa gejala-gejala intoleransi bisa mengancam keutuhan Indonesia.

’’Kader-kader PDI Perjuangan yang saya cintai, resapi kata-kata Bung Karno. Toleransi dan demokrasi adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam berpolitik,” seru Megawati.

Di sisi lain, pidato politik itu juga menjadi momen bagi Megawati untuk melontarkan banyak candaan-candangan. Salah satu momen itu saat Megawati secara khusus menyebut Prabowo Subianto. Prabowo memang hadir langsung dalam pembukaan kongres kemarin.

’’Mas Bowo, saya ini sudah capai bertempur terus,” kata Megawati.

Mendengar ucapan Megawati itu, Prabowo langsung bangkit dari duduknya. Dia menangkupkan kedua tangannya di dada. Melihat itu ruang kongres bergemuruh karena tepukan tangan. ’’Ada saatnya kita tempur. Nanti 2024 kita boleh tempur lagi. Boleh nggak?,” seloroh Megawati yang kembali mendapat tepukan hadirin.

Megawati juga sempat menceritakan beberapa momen saat pilpres 2019. Salah satunya saat Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi memindahkan markas pemenangan ke Jawa Tengah (Jateng).

’’Waktu itu Pak Prabowo, mau dipindahkan poskonya ke Jateng. Saya mikir nih mau datengin juga si Bowo (Prabowo Subianto, Red),” ucap Megawati. Lagi-lagi ruang kongres bergemuruh oleh tawa peserta kongres.

Prabowo yang duduk di deretan depan bersisian dengan KH Ma’ruf Amin juga tertawa mendengar seloroh Megawati itu. Tak hanya dia, para elite koalisi Indonesia kerja (KIK) yang hadir juga ikut terbahak. Megawati mengakui kala itu situasi politik memang agak merepotkan.

Tim Prabowo dinilai sempat membuat kewalahan pihaknya di Jateng. Meski demikian, dia optimistis Jateng tetap menjadi kandang banteng. Dia meminta seluruh kader di wilayah itu merapatkan barisan.

’’Saya turun di Jateng. Saya tanya kader, kalian banteng apa bukan? Kalau banteng, berhenti merumput, gosok tanduk kamu,” tutur Megawati.

Sehingga harus merapatkan barisan untuk menjaga suara di wilayah tersebut. ’’Tapi Mas Prabowi ini, sekarang deket-deketin saya ya,” ujar Megawati dan lagi-lagi dibawa sambut hadirin.

Momen keakraban Prabowo dengan Megawati juga terlihat saat berpamitan pulang. Prabowo yang sudah di dalam mobil, tiba-tiba melihat Megawati bersama Prananda Prabowo dan Puan Maharani di lobby hotel. Ketua umum Gerindra itu langsung turun dan berpamitan.

’’Bu saya duluan ya. Terima kasih sudah diundang,” ujar Prabowo.

Tak lama berselang, Puan Maharani langsung mengeluarkan telepon genggamnya dan melakukan swafoto. Usai melakukan swafoto, Prabowo sempat membalas candaan Megawati di dalam pidato kongres.

’’Saya sudah kena banyak pukul,” canda Prabowo dibalas dengan tertawa bersama.

Minta Jatah Kursi Terbanyak

Momen itu juga dijadikan Megawati untuk berbicara kursi menteri untuk PDIP. Kepada Presiden Joko Widodo, Megawati meminta diberi prioritas. Agar partainya diberi jatah kursi menteri yang paling besar diantara parpol pengusung lainnya.

Awalnya, Megawati bercerita bagaimana dia menjaga PDIP  untuk selalu konsisten dalam perjuangan. Selama 10 tahun pemerintahan SBY, tutur dua, selalu ditawari agar bergabung ke pemerintah. Caranya adalah dengan tawaran kursi menteri. Namun Megawati selalu menolak. Nah, kondisi itu membuat beberapa kader protes.

’’Saya bilang, kalau kamu ingin jadi menteri, keluar dari PDIP,” ujarnya.

Saat itulah, lirikan Megawati tertuju ke Jokowi. Dia bilang, saat ini Jokowi mesti memberikan jatah kursi menteri kepada kader PDIP. Sebab, partainya sudah dua kali menjadikan Jokowi sebagai pemenang.

’’Kita pemenang dua kali. Betul tidak? Kalau nanti dikasih cuma 4 (menteri, Red), nggak mau. Aku emoh,” ata Megawati yang disambut tawa hadirin.

Mendapat pertanyaan itu, Jokowi langsung memberi jawaban saat berpidato. Dikatakan, dia menjamin dirinya akan memberikan jatah kursi terbanyak untuk PDIP.

’’Yang jelas PDIP pasti yang paling banyak (kursi menteri, Red). Jaminannya saya,” tegasnya yang langsung disambut tepuk tangan. (mar/JPG/r6)

Berita Lainnya

Pastikan Ujian Nasional Dihapus

Redaksi Lombok Post

Amandemen UUD 1945 Harus Sesuai Kehendak Rakyat

Redaksi Lombok Post

Ujian Lagi untuk KPK, Sofyan Basir Bebas

Redaksi Lombok Post

Daftar CPNS Mulai 11 November

Redaksi Lombok Post

Menteri Harus Loyal ke Presiden

Redaksi Lombok Post

Kerja Lambat, Menteri Dipecat

Redaksi Lombok Post

Jokowi Janjikan Kejutan di Pengumuman Menteri

Redaksi Lombok Post

Delapan Hari, Polisi Tangkap 40 Terduga Teroris

Redaksi Lombok Post

Polisi Telurusi Motif Penusukan Wiranto, Diduga Terkait JAD Bekasi

Redaksi Lombok Post