Lombok Post
Sumbawa

Petani Keluhkan Anjloknya Harga Garam

SPANDUK PROTES: Petani garam di Teluk Bima memasang spanduk protes di jalan raya Bima-Sumbawa, tepatnya di lokasi Tambak Desa Sanolo, Kecamatan Bolo kemarin (14/8).

BIMA-Harga garam di Bima kian anjlok. Akibatnya para petani garam di daerah ini merugi. Mereka pun melakukan aksi protes. Menuntut pemerintah berbuat sesatu untuk menormalkan harga garam tersebut.

Protes para petani garam itu tampak dari deretan spanduk yang dipasang di jalan lintas Bima-Sumbawa. Tepatnya, di sekitar area tambak garam di Dusun Muku, Desa Sanolo, Kecamatan Bolo. Spanduk berbentuk protes itu salah satunya bertuliskan, “Petani Garam Teluk Bima Sengsara, Gubernur Sibuk Apa?” Ada juga yang bertuliskan “Harga Garam Anjlok Bupati Sibuk Apa?”.

Keberadaan sejumlah spanduk yang dipasang pinggir jalan negara tersebut cukup menyita perhatian pengguna jalan. Banyak warga yang melintas, berfoto dengan latar belakang spanduk tersebut.

Salah seorang petani garam asal Desa Sanolo, Kecamatan Bolo Sukardin mengaku prihatin dengan anjloknya harga garam saat ini. Akibatnya para petani garam mengalami kerugian yang tidak sedikit. Padahal mereka adalah para patani kecil, yang tidak memiliki banyak modal.

Kasus seperti ini kerap dialami para petani garam. Namun nyaris tidak ada upaya serius dari pemerintah untuk mengantisipasinya. Para petani seolah dibiarkan sendiri menghadapi anjloknya harga garam, terutama saat panen garam berlangsung.

“Sampai hari ini belum ada perhatian untuk petani garam,” keluh Sukardin kemarin (14/8).

Harga garam, kata dia, saat ini turun menjadi Rp 9 ribu per zak, di mana satu zak berisi 50 kilogram garam. Sebelumnya, harga garam sempat bertahan di angka Rp 10 ribu per zak. Harga yang rendah tersebut jelas membuat petani rugi.

“Tahun lalu harga garam tembus Rp 30 sampai Rp 50 per zak. Tahun ini turun drastis,” katanya.

Sukardin mengaku, para petani garam sudah sering mengeluh. Klimaksnya, mereka lantas memasang sejumlah spanduk yang menyindir pemerintah yang tidak banyak berbuat dalam melindungi para petani garam seperti dirinya.

Ia sendiri tidak tahu siapa yang memasang spanduk-spanduk tersebut. Namun diakui isinya mewakili perasaan para petani garam.

“Saya sangat setuju, harga garam perlu diperjuangkan,” harapnya.

Ia berharap, pemerintah benar-benar serius memperjuangkan agar harga garam tidak terus anjlok. Sebab banyak petani garam di Bima yang menggantungkan hidupnya dari usaha tersebut.

Sementara itu, Plt Kepala Diskoperindag Kabupaten Bima H Qurban yang dihubungi Radar Tambora (Lombok Post Grup), belum dapat dikonfirmasi. (dam/r4)

Berita Lainnya

Mitra Binaan Amman Mineral Raih Penghargaan ISTA 2019

Redaksi Lombok Post

Pengedar Diciduk Bersama Gadis Muda

Redaksi Lombok Post

Pemuda Ditemukan Gantung Diri

Redaksi Lombok Post

Warga Keluhkan Fasilitas Puskesmas Bolo

Redaksi Lombok Post

Pembangunan PLTU Sumbawa II Terancam Gagal

Redaksi Lombok Post

45 Anggota DPRD Sumbawa Dilantik

Redaksi Lombok Post

Duh, Anjing Gila Teror Anak-anak

Redaksi Lombok Post

Pemkab Susun Rencana Konservasi Hiu Paus

Redaksi Lombok Post

Gubernur Janji Datangkan Pengusaha Garam

Redaksi Lombok Post