Lombok Post
Metropolis

NTB Karnaval Heritage Berlangsung Meriah

PAKAIAN DARI SAMPAH: Seorang peserta menari mengenakan pakaian adat dalam acara Lombok Sumbawa Karnaval di depan Taman Sangkareang, kemarin (1/9). Sementara itu, peserta dari rombongan lain berbaris menunggu giliran tampil di depan panggung utama.

MATARAM-Geopark Rinjani Lombok tidak hanya kaya dengan sumber daya alam, tapi juga warisan budaya. Beragam kesenian, adat dan tradisi menjadi jiwa yang hidup di tengah masyarakat. Masing-masing warisan budaya memiliki ciri khas dan filosofi tersendiri.

Hal itu tergambar dalam Karnaval Heritage Lombok-Sumbawa, di Kota Mataram, kemarin (1/9). Berbagai atraksi budaya, tradisi, seni tari, pakaian adat, makanan tradisional, hingga tarian kolosal ditampilkan dalam karnaval tersebut.

Busana berbahan sampah plastik dan dedaunan menjadi pembuka dalam karnaval itu. Meski bebahan sampah, namun para model yang menggunakan busana nampak anggun dengan desain busana yang megah. Busana berbahan sampah itu sengaja ditampilkan sebagai bagian dari kampanye “Zero Waste”. Sekaligus mengajak masyarakat mengelola sampah menjadi barang bermanfaat.

Selain itu, keragaman tradisi budaya NTB, dari Ampenan hingga Sape Bima ditampilkan. Gelaran budaya tersebut berlangsung sangat meriah. Tidak hanya warga lokal, para peserta  Asia Pacific Geopark Network (APGN) Symposium 2019 dari 30 negara juga hadir menyaksikan atraksi budaya itu.

Termasuk Prof Dr He Qingcheng selaku koordinator APGN, Setsuya Nakada, wakil koordinator APGN, dan Tan Vn Tran selaku anggota APGN Advisory Committee hadir dalam karnaval itu. Mereka tampak antusias menyaksikan atraksi budaya peserta karnaval.

Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah mengatakan, karnaval warisan budaya menjadi momentum menunjukan NTB sebagai salah tempat paling indah di dunia. NTB menjadi tempat yang nyaman untuk dikunjungi.  ”Semoga seluruh dunia bisa melihat NTB siap menerima seluruh visitornya,” tuturnya.

Selain atraksi budaya, rangkaian karnaval juga menampilkan demo membuat makanan cerorot, jajanan khas Lombok. Cara pembuatan jajanan tradisional dilakukan Wagub Sitti Rohmi juga peserta APGN dari berbagai negara.

Prof He Qiencheng yang  hadir bersama delegasi peserta simposium APGN menyatakan kagum dengan Carnaval Haritage tersebut.  Dia ikut demo untuk membikin bungkus cerorot yang terbuat dari janur kuning. Beberapa kali mencoba melilitkan janur ia tidak berhasil.

Pegelaran simposium APGN membangkitkan optimisme warga akan pulihnya pariwisata NTB pascagempa. Terlebih dengan gelaran karnaval yang melibatkan ratusan orang. Lalu Irfan, salah seorang warga mengaku sangat bangga dengan acara itu. Sebab budaya NTB bisa ditunjukkan sebagai aset daerah dan negara.

”Harapan saya, kita sama-sama  bekerja sama melestarikan budaya,” katanya.

Penuturan serupa juga disampaikan Kepala Desa Labulie, Mahjat yang ikut dalam karnaval terseut. Mahjat berharap, acara simposium APGN dapat menjadi awal untuk acara-acara internasional lainnya di NTB. Sehingga pariwisata NTB kembali bangkit. (ili/r3)

Berita Lainnya

Ruslan Turmuzi : Pembangunan Kereta Gantung Bukan Skala Prioritas

Redaksi Lombok Post

Ikut Pilkada 2020, Selly dan Saswadi Akan Dimutasi

Redaksi Lombok Post

Kelompok Pecinta Alam Tolak Pembangunan Kereta Gantung Rinjani

Redaksi Lombok Post

Pemprov Berharap Investor Kereta Gantung di kawasan Gunung Rinjani Serius

Redaksi Lombok Post

Pasien BPJS Sumbang Rp 166,2 Miliar

Redaksi Lombok Post

TKI NTB Sumbang Devisa Tertinggi

Redaksi Lombok Post

Dishub Pastikan Rute Lari dan Bersepeda Ironman 7.3 Lombok 2020 Aman

Redaksi Lombok Post

BPJS Bantah Nunggak Enam Bulan

Redaksi Lombok Post

Dewan Minta BPJS Segera Bayar Tunggakan

Redaksi Lombok Post