Lombok Post
Selong

Cerita Para Penyadap Pohon Aren di Reban Tebu, Sandubaya (1)

Amaq Mujahidin Sudah Habiskan Ribuan Jeriken untuk Menyadap

TUKANG SADAP AREN: Amaq Mujahidin, penyadap pohon aren sedang bersiap mengambil jeriken berisi air nira di RT 18, Lingkungan Reban Tebu, Kelurahan Sandubaya, Kecamatan Selong, kemarin (3/9).

Lingkungan Reban Tebu, Kelurahan Sandubaya, Kecamatan Selong terkenal dengan air nira atau tuak manisnya. Di balik ratusan liter tuak yang masyarakat temukan di berbagai tempat, terdapat para penyadap yang setiap hari memanjat pohon aren. Salah satu yang terkenal lama dan lihai menyadap di lingkungan tersebut bernama Amaq Mujahidin.

Fatih Kudus Jaelani, Lombok Timur

=================================

Sebuah palu kayu, pahat kecil, dan beberapa bilah parang diperlihatkan Amaq Mujahidin kepada penulis koran ini. “Inilah alat yang saya gunakan,” katanya mengawali penjelasan tentang cara menyadap pohon aren untuk mencari air nira.

Tak jauh dari beberapa alat yang ditunjukkan tadi, terdapat puluhan jeriken dengan berbagai bentuk. Semuanya tergantung begitu saja di pagar pembatas rumah bagian belakang Mujahidin.

Mujahidin merupakan satu dari enam penyadap yang hidup di RT 18, Lingkungan Reban Tebu, Kelurahan Sandubaya, Kecamatan Selong. Ia menerangkan, para penyadap jumlahnya bisa ratusan jika menghitung mereka di RT-RT lainnya.

Menurutnya, semua pekerjaan ada ilmunya. Begitu juga dengan menyadap air tuak di pohon aren. Mujahidin termasuk penyadap yang cekatan jika dilihat dari jam terbangnya. “Sejak saya masih muda sampai sekarang punya anak tiga,” jelasnya.

Pengalaman selama menyadap sudah tak terhitung banyaknya. Salah satu yang diingatnya adalah jeriken yang dijadikan wadah untuk menampung air nira di batang pohon aren. Menurutnya, meski terlihat awet, wadah itu bisa rusak juga. “Kalau saya hitung-hitung, mungkin ada ribuan jeriken yang sudah saya gunakan,” terangnya.

Di luar jeriken, cerita lain yang menarik dari keseharian para penyadap adalah kepercayaan kepada para penyadap lain. Begitu juga dengan warga yang sesekali iseng meminum hasil sadapannya. “Sebenarnya bukan masalah diambil atau tidaknya. Tapi seringkali, jika diambil oleh orang lain, airnya akan kering,” kata Mujahidin.

Memang tidak semua pohon aren memiliki kesuburan mengeluarkan air nira. Tapi sejauh ini, pohon aren yang dipanjat Mujahidin selalu manjur dan mengucur deras. Bahkan sampai ada yang sampai tujuh bulan tak kering-kering. Menurutnya, itu bukan keahlian khusus. Tapi rezeki. Menyadap air nira baginya sama dengan pekerjaan lainnya.  “Ya kadang rezekinya bagus, bisa dapat banyak, kadang juga tidak bagus,” jelasnya. (bersambung/r5)

Berita Lainnya

Puncak Rinjani Tutup, Pendaki Tetap Nekat!

Redaksi Lombok Post

Empat Spesialis Pencuri Mobil di Lotim Dihadiahi Timah Panas

Redaksi Lombok Post

Warga Tebaban Gedor Kantor Desa

Redaksi Lombok Post

ACT-PWJ Ajari Warga Sajang Cara Mengelola Air

Redaksi Lombok Post

Atraksi Paralayang Warnai Hari Pahlawan di Lotim

Redaksi Lombok Post

MAN IC Praktik Lapangan di Lima Lokasi

Redaksi Lombok Post

273 Tenaga Honorer di Lombok Timur Minta Diangkat Jadi PPPK

Redaksi Lombok Post

Belum Ada yang Jadi Tersangka dalam Kasus SK Honorer Palsu

Redaksi Lombok Post

Mengenal Persata, Klub Sepak Bola Tertua di Lotim (1)

Redaksi LombokPost