Lombok Post
Metropolis

Pemprov NTB dan Pemkot Mataram Jangan Lupakan Sejarah

Gubernur NTB 2003-2008 HL Serinata memberi ucapan selamat kepada anggota DPRD NTB periode 2019-2024 yang baru dilantik, Senin (2/9).

MATARAM–Gubernur NTB periode 2003-2008 HL Serinata mengingatkan Pemprov NTB di dibawah kepemimpinan Gubernur H Zulkieflimansyah dan Pemkot Mataram di bawah kewpemimpinan H Ahyar Abduh agar jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Pada sejarahlah, jati diri dan harga diri Bumi Gora mewujud.

“Jika pemerintahan melupakan sejarah, maka pemerintahan di NTB dan di Mataram akan kehilangan jati diri dan harga diri,” kata Serinata di Mataram, kemarin (4/9).

Serinata menegaskan, dirinya terpanggil menyuarakan hal tersebut, menyusul mengemuka ke publik soal adanya upaya program-program di Pemprov NTB di periode kepemimpinan sekrang ini yang hendak menghilangkan pondasi pembangunan yang sudah diletakkan kepala daerah sebelumnya. Hal itu kemudian tercermin pada porsi dan alokasi anggaran dalam APBD tahun 2020.

Indikasi yang sama kemudian dimaknai serupa dalam peringatan puncak hari ulang tahun ke-26 Kota Mataram di Lapangan Sangkareang, Sabtu (31/8). Kala itu, nama mantan Penjabat Wali Kota Mataram Hj Putu Selly Andayani tidak dibacakan pembawa acara pada sejarah daftar para pemimpin di Kota Mataram.

“Bangsa yang melupakan sejarah, maka ia telah kehilangan jati diri dan harga diri sebagai sebuah bangsa dan negara,” tandas Serinata.

Politisi senior ini menjelaskan, pentingnya mengingat sejarah tersebut dimaksudkan agar seluruh masyarakat NTB tidak melupakan cita-cita besar dilahirkannya Provinsi NTB dan Kota Mataram. Apalagi, capaian program pembangunan yang sudah dirintis para pemimpin NTB terdahulu.

Ditegaskannya, Provinsi NTB yang lahir semenjak tahun 1958 bukanlah pemberian. Namun, lahir dari hasil perjuangan. Pun juga Kota Mataram.

Di sisi lain, Serinata mengungkapkan, upaya mengingat sejarah juga merupakan salah satu bentuk penghormatan terhadap para pendiri dan para pemimpin daerah terdahulu. Karena itu, kesinambungan program adalah keniscayaan. Dan sejarah kepemimpinan sebelumnya tak bisa dihapuskan.

Apalagi, semua pemimpin daerah di masa kepemimpinannya memiliki tujuan yang sama. Yakni agar masyarakat yang dipimpinnya bisa makmur dan sejahtera.

Karena itu, politisi senior NTB yang juga mantan Ketua DPD Golkar NTB ini mengapresiasi langkah Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh yang responsif untuk meminta maaf. Adanya periode kepemimpinan di Kota Mataram yang terlewatkan bukanlah sebuah kesengajaan.

“Yang harus diperhatikan, pola komunikasi antara pemerintahan baik sebelum dan yang sudah menjabat itu harus terus dilakukan,” kata Serinata.

Karena itu, dia menyarankan agar saling kunjung mengunjungi dalam bingkai silaturahmi. Dan bukan untuk sekali dua kali. Namun, harus intensif.

“Kalau ini sudah terjadi, tidak akan ada lagi kebekuan. Pasti akan cair semua masalah itu,” tandas Serinata.

Pada kesempatan yang sama, Serinata juga mengingatkan pentingnya Pemprov NTB dan Pemkot Mataram saat ini fokus pada peningkatan kualitas pendikan dan menurunkan angka kemiskinan. Sudah saatnya hal ini menjadi gerakan bersama. Tak hanya eksekutif. Tapi juga legislatif.

Khusus kepada generasi muda NTB, mereka harus meningkatkan keilmuan dan keterampilan agar mampu mengambil peran dalam roda pembangunan daerah.

“Sejarah juga akan menuntun generasi muda untuk selalu menghormati orang tua,” katanya.

Generasi muda juga dimotivasi untuk tidak pernah takut mengambil peran dan mencoba untuk mengukir prestasi. Jangan pernah takut berbuat, apalagi takut salah dan gagal.

“Sejarah membuktikan, tidak ada orang yang menuai sukses besar tanpa kerja keras,” katanya.

Sementara itu, terpisah sebelumnya, terkait munculnya tudingan bahwa era pemerintahannya mengenyampingkan kerja-kerja pemimpin daerah sebelumnya, Gubernur H Zulkieflimansyah menegaskan, tidak ada niat sama sekali pihaknya melakukan hal tersebut. Justru, ia merasa tengah memodifikasi dan melanjutkan dengan program yang lebih baik lagi.

“Misalnya soal Pijar. Kan nggak harus kita buat pijar lanjutan atau pijar jilid dua,” ujarnya.

Beberapa program saat ini, dipastikannya sebagai upaya meneruskan apa yang telah dirintis gubernur sebelumnya. Misalnya dengan industrialisasi pakan ternak. Atau mengolah jagung mentah menjadi bahan siap jadi.

“Apa bedanya?” kata Gubernur.

Malah, inovasi program yang dibuatnya membuat mata rantai keterlibatan masyarakat lebih banyak lagi. Manfaatnya pun lebih banyak yang merasakan. Sebab, dari hulu ke hilir ada banyak tangan yang dilibatkan di industrialisasinya.

“Itulah cara kami memaknai apa yang telah dilakukan gubernur pendahulu,” ujarnya. (kus/r6/adv)

Berita Lainnya

Hutan Rinjani Terbakar, Pendakian Ditutup

Redaksi Lombok Post

TGB Mendapat Pengakuan Dunia, Terima Penghargaan dari Al-Azhar

Redaksi Lombok Post

Pemprov NTB Cari 414 CPNS

Redaksi Lombok Post

Mobil Mewah Terbakar di Dakota

Redaksi Lombok Post

Petugas Dinsos Bongkar Modus Gepeng

Redaksi Lombok Post

Gubernur Harus Turun Tangan Evaluasi Pengelolaan TPA Kebon Kongok

Redaksi Lombok Post

Guru Honorer Digaji Rp 2,5 Juta, Dana Disiapkan Pemerintah Pusat

Redaksi Lombok Post

Dicari 197.111 CPNS, Kuota untuk NTB Diumumkan Akhir Oktober

Redaksi Lombok Post

Pelamar CPNS NTB Bisa 74 Ribu

Redaksi Lombok Post