Lombok Post
Headline Selong

Pemkab Minta Tambang MBLB Ditutup

HAMPIR GUNDUL: Salah seorang petani Desa Tirtanadi, Kecamatan Labuhan Haji memperlihatkan tanaman padi di sawahnya yang tidak tumbuh dengan baik akibat pencemaran irigasi tambang MBLB di Kalijaga dan Wanasaba, belum lama ini.

SELONG-Dampak dari keberadaan tambang MBLB di Kecamatan Wanasaba direspons serius oleh Pemkab Lotim. Belum lama ini, Bupati Lotim HM Sukiman Azmy bersama OPD terkait dikabarkan turun langsung melihat lokasi tambang tersebut.

“Ya, bupati dan OPD terkait sudah melihat langsung dampak dari tambang tersebut,” kata Kabag Humas Setda Lotim Iswan Rakhmadi kepada Lombok Post, kemarin (9/9).

Pencemaran lingkungan yang dirasakan oleh masyarakat khususnya petani di hilir merupakan salah satu yang diamini bupati. Kata Iswan, dari peninjauan tersebut, Pemkab Lotim melakukan rapat koordinasi mengenai langkah yang diambil untuk menyelesaikan persoalan yang ada.

“Hasilnya, Pemkab Lotim akan bersurat ke gubernur untuk meminta tambang tersebut dievaluasi dan bila perlu ditutup,” terang Iswan.

Iswan mengatakan, Pemkab Lotim mengharapkan adanya solusi terbaik dari pemerintah provinsi. Melihat dampak nyata yang selama ini dirasakan masyarakat di hilir. Terutama bagi para petani.

“Surat akan segera dilayangkan. Mudah-mudahan ada solusi terbaik untuk kita semua,” harapnya.

Kadis DLHK Lotim H Marhaban juga menjelaskan hal serupa. Ia bersama bupati telah turun meninjau langsung lokasi-lokasi tambang tersebut. “Sabtu lalu kita turun. Ada tiga tambang yang kita datangi,” jelas Marhaban.

Menurut Marhaban, hanya pemprov yang bisa menyetop tambang tersebut. Meskipun rekomendasi dari DLHK Lotim ada, akan tetapi proses dari pengerjaannya yang saat ini menjadi evaluasi bersama. Kata Marhaban, dalam rekomendasi, pihaknya menerima laporan UKL/UPL yang telah ada.

“Sementara untuk pelaksanaannya kita tidak tahu akan seperti ini. Makanya saat ini kita minta dievaluasi. Karena ternyata tidak sesuai dengan ketentuan yang ada,” jelasnya.

Salah satu yang dilanggar oleh penambang adalah melakukan pencucian melalui badan sungai. Marhaban menerangkan, seharusnya penambang membuat saluran irigasi berupa kolam. “Bukan langsung dicuci di sungai. Terkadang pekerja ini kan maunya mudahnya saja,” jelasnya. (tih/r5)

 

 

Berita Lainnya

Berbenah Setelah Kejahatan Terbongkar

Redaksi Lombok Post

Jokowi Janjikan Kejutan di Pengumuman Menteri

Redaksi Lombok Post

Hutan Rinjani Terbakar, Pendakian Ditutup

Redaksi Lombok Post

Kecanduan Mabok Bikin Goblok, Terdorong Nyolong demi Minuman Keras

Redaksi Lombok Post

TGB Mendapat Pengakuan Dunia, Terima Penghargaan dari Al-Azhar

Redaksi Lombok Post

Pemprov NTB Cari 414 CPNS

Redaksi Lombok Post

Syafrudin Perjuangkan 52 BTS Baru Dibangun di NTB

Redaksi Lombok Post

Gubernur Harus Turun Tangan Evaluasi Pengelolaan TPA Kebon Kongok

Redaksi Lombok Post

Pengamen Gomong Bacok Tukang Parkir

Redaksi Lombok Post