Lombok Post
NASIONAL

Tarif Listrik Tak Naik hingga 2020

Ignasius Jonan

JAKARTA–Sejumlah harga komoditas seperti batu bara dan gas bumi kini dalam tren menurun. Hal tersebut membuat pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan tidak akan ada kenaikan tarif listrik hingga 2020.

Menteri ESDM Ignasius Jonan mengatakan, pertimbangan tidak ada kenaikan tarif listrik, salah satunya, lantaran nilai kurs mata uang rupiah terhadap dolar AS yang cukup stabil di posisi Rp 14 ribuan per USD. ”Nanti kami lihat lagi, tapi kalau menurut saya kalau kurs di Rp 14 ribuan mestinya minimal tidak naik,” kata Jonan kemarin.

Selain itu, pihaknya mencatat, dalam 6 bulan terakhir ini, harga gas dan batu bara mengalami penurunan. ”Penurunan paling terlihat di harga batu bara. Untuk kalori 6.322 GAR harganya sekitar USD 65 per ton jadi mestinya harga listrik tidak perlu ada penyesuaian naik,” ujar Jonan.

Tercatat, HBA (harga batu bara acuan) pada periode September 2019 sebesar USD 65,79 per ton atau turun 9,4 persen dibanding periode Agustus sebesar USD 72,67 per ton. Pemerintah menggunakan patokan batas atas untuk PLN sebesar USD 70 per ton yang berlaku sejak 12 Maret 2018 hingga 31 Desember 2019.

Kebijakan tersebut mengatur harga khusus batu bara bagi pembangkit listrik ditetapkan USD 70 per ton jika HBA di atas USD 70 per ton. Namun, bila harga di bawah USD 70 per ton, transaksi batu bara bagi pembangkit listrik merujuk pada HBA.

Selama ini faktor yang menjadi penentu tarif listrik adalah kurs, Indonesian crude price (ICP), dan inflasi. Sesuai Peraturan Menteri ESDM Nomor 41 Tahun 2017, apabila terjadi perubahan terhadap asumsi makro ekonomi (kurs, ICP, dan inflasi) yang dihitung secara triwulanan, akan dilakukan penyesuaian terhadap tarif tenaga listrik.

ICP sendiri dalam beberapa bulan terakhir ini juga berada di bawah asumsi APBN 2019 sebesar USD 70 per barel. Rata-rata ICP selama semester pertama 2019 mencapai USD 63 per barel, lalu turun lagi ke Juli menjadi USD 6,32 per barel dan menjadi USD 57,27 per barel pada Agustus 2019. Di sisi lain, PLN pun mengusulkan harga patokan gas untuk pembangkit kelistrikan tanah air guna meringankan beban biaya produksi listrik PLN.

Pelaksana Tugas Direktur Utama PLN Sripeni Inten Cahyani mengatakan, harga gas maupun biaya pengangkutan gas bumi (toll fee) tak menentu lantaran masih mengikuti harga minyak mentah Indonesia.

”Nah, ini harus ketemu, kalau kita kan maunya rendah, tapi nggak bisa begitu. ESDM kan nanti membuat titik optimal di mana para investor dari gas bisa terpenuhi pengembalian investasi untuk eksplorasi gasnya,” terang Sripeni.

Pada pertengahan tahun lalu, PLN sempat mengusulkan agar ada pembatasan harga menjadi USD 6,5 per mmbtu untuk di Pulau Jawa dan USD 7 per mmbtu untuk di luar Jawa. Selama ini PLN masih terbebani biaya pembelian gas dengan rentang harga USD 7 per mmbtu hingga USD 11 per mmbtu. Variasi harga beli gas tersebut tergantung lokasi, liquefied natural gas (LNG), dan saluran pipa yang dilalui.

Energi primer memegang porsi yang paling dominan, yakni 60–70 persen dalam struktur biaya pokok penyediaan (BPP) pembangkitan listrik. Selain itu, PLN meminta adanya perpanjangan harga patokan domestic market obligation (DMO) batu bara untuk kelistrikan USD 70 per ton, yang akan berlaku hingga akhir tahun ini.

Saat ini, batu bara dan gas memang memegang porsi dominan dalam bauran energi PLN. (vir/c25/oki/JPG/r6)

Berita Lainnya

Jokowi Janjikan Kejutan di Pengumuman Menteri

Redaksi Lombok Post

Delapan Hari, Polisi Tangkap 40 Terduga Teroris

Redaksi Lombok Post

Polisi Telurusi Motif Penusukan Wiranto, Diduga Terkait JAD Bekasi

Redaksi Lombok Post

40 Kapal Ilegal Asing Kembali Ditenggelamkan

Redaksi Lombok Post

Begini Jadinya kalau Bupati Main Proyek, Diciduk KPK, dari Dua Dinas Dapat Fee Rp 1,2 M

Redaksi Lombok Post

Gelar Kedelapan Baby Alien

Redaksi Lombok Post

Sertifikasi Guru Berbayar Dimulai, Biayanya Rp 7,5 Juta – Rp 9,5 Juta per Semester

Redaksi Lombok Post

Butuh 52 Ribu Guru PNS Agama Islam

Redaksi Lombok Post

Warga NTB Dievakuasi ke Jayapura

Redaksi Lombok Post