Lombok Post
Feature Headline KESEHATAN

Sakit Jantung Apa Bisa Dicegah?

dr. Yusra Pintaningrum, SpJP(K), FIHA, FAPSC, FAsCC
dr. Yusra Pintaningrum, SpJP(K), FIHA, FAPSC, FAsCC Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Fakultas Kedokteran Universitas Mataram–RSUD Provinsi NTB

AKHIR-akhir ini banyak sekali kita mendengar berita orang meninggal mendadak yang diduga serangan jantung. Bahkan trend saat ini usia muda yang terkena. Menurut federasi jantung dunia (world heart federation), 17,5 juta kematian pertahun disebabkan oleh penyakit jantung pembuluh darah atau penyakit kardiovaskular (PKV), dan 1 dari 10 orang berusia 30-70 tahun meninggal karena penyakit jantung.

Sebanyak 31% dari semua kematian berasal dari PKV. Yang menarik di Eropa, dari kematian sebelum usia 75 tahun akibat penyakit jantung ini, 42% terjadi pada perempuan dan 38% terjadi pada laki-laki. Di Indonesia, hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 menunjukkan bahwa sebesar 1,5% atau 15 dari 1.000 penduduk Indonesia menderita penyakit jantung koroner.

Jika dilihat dari penyebab kematian tertinggi di Indonesia, menurut survei Sample Registration System tahun 2014 menunjukkan 12,9% kematian akibat Penyakit Jantung Koroner. Sementara dari sisi pembiayaan, berdasarkan data BPJS Kesehatan, penyakit jantung menduduki peringkat teratas untuk biaya rawat inap diantara penyakit katastropik lainnya.

Untuk itulah, kita harus mulai peduli dengan kesehatan, utamanya terhadap pencegahan penyakit jantung. Sehubungan dengan hari jantung sedunia (world heart day) yang diperingati setiap tanggal 29 September, saya mengajak  semua elemen masyarakat untuk turut serta berkomitmen menjaga kesehatan jantung baik untuk dirinya, keluarga, dan masyarakat di sekitarnya.

Apakah Penyakit Kardiovaskular Itu?

 Salah satu dari penyakit kardiovaskular adalah penyakit jantung koroner (PJK), yaitu suatu penyempitan pembuluh darah koroner yang disebabkan oleh atherosklerosis atau kolesterol yang menumpuk pada pembuluh darah arteri (plak) dan mengalami keradangan, sehingga menyebabkan aliran darah yang membawa oksigen dan nutrien menuju ke jantung terganggu. Bila terjadi sumbatan total pada arteri koroner maka akan terjadi serangan jantung dan bisa menyebabkan kematian mendadak.

Gejala yang terjadi pada pasien PJK di antaranya nyeri dada kiri seperti ditindih, kadang sampai menjalar ke lengan kiri, rahang, bahkan sampai ke punggung. Gejala ini timbul terutama saat aktivitas, dan mereda saat istirahat. Kadang pula disertai rasa sesak bila berjalan, berdebar, bahkan keringat dingin. Faktor risiko yang bisa menyebabkan PJK  terbagi menjadi dua, bisa dimodifikasi dan tidak bisa dimodifikasi. Untuk yang tidak bisa dimodifikasi diantaranya usia, jenis kelamin, genetik. Sedangkan yang bisa dimodifikasi diantaranya diabetes, kolesterol, hipertensi, dan merokok.

Untuk mengetahui lebih lanjut apakah memang benar sakit jantung maka harus melalui berbagai pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, diantaranya elektrokardiografi (EKG), uji latih beban (tridmil), echocardiografi, atau CT Scan kardiak bila diperlukan.

Benarkah Sakit Jantung Bisa Dicegah?

Pencegahan PKV memiliki definisi suatu aksi terkoordinasi pada populasi dan individu, dengan tujuan eradikasi, eliminasi, dan meminimalkan dampak PKV serta kaitannya dengan disabilitas. Pencegahan penyakit jantung terbagi menjadi dua, pencegahan primer dan sekunder. Pencegahan primer terutama untuk orang yang belum mengalami sakit jantung sebelumnya. Sedangkan pencegahan sekunder adalah pencegahan terjadinya serangan jantung berulang pada penderita PJK.

Menurut pedoman European Society of Cardiology (ESC) tahun 2019, terdapat beberapa target pencegahan PKV. Pertama, berhenti merokok dan menjauh dari paparan tembakau dalam berbagai bentuk. Kedua, diet rendah lemak jenuh dengan fokus memperbanyak produk gandum, sayur-sayuran, buah, dan ikan. Diet mediteranian yang berbasis tanaman, saat ini dikenal menurunkan risiko kematian akibat penyakit jantung. Contoh daripada diet mediterian adalah dengan memperbanyak konsumsi buah-buahan, kacang, sayur-sayuran, tanaman polong, dan protein hewani terutama ikan. Namun, kita juga harus mengurangi asupan lemak trans seperti gorengan, kue kering, margarin,  mengurangi daging merah, daging yang telah dilakukan pemrosesan terlebih dahulu, karbohidrat, dan gula.

Ketiga, melakukan aktivitas fisik, paling tidak 150 menit dalam seminggu dengan aktivitas fisik aerobik sedang (30 menit selama 5 hari perminggu) atau 75 menit seminggu dengan aktivitas fisik aerobik yang kuat (15 menit selama 5 hari perminggu).

Keempat, pengendalian berat badan dengan mempertahankan indeks massa tubuh (IMT) 20-25kg/m2, lingkar pinggang <94 cm untuk laki-laki atau < 80 cm untuk perempuan. Kelima, mempertahankantekanan darah kurang dari 140/90 mmHg. Dan keenam,  mengendalikan kadar kolesterol. Untuk pasien risiko sangat tinggi target LDL <70 mg/dL atau penurunan LDL paling tidak 50% jika nilai awal yaitu antara 70 sampai 135 mg/dL. Untuk pasien risiko tinggi target LDL < 100 mg/dL) atau penurunan LDL paling tidak 50% jika nilai awal diantara 100 sampai 200 mg/dL. Sedangkan untuk pasien dengan risiko rendah sampai sedang, target LDL < 115 mg/dL. Penentuan risiko ini bisa dikonsultasikan dengan dokter setempat. Untuk kolesterol HDL-C tidak ada target khusus, namun pada kadar HDL-C > 40 mg/dL pada laki-laki dan > 45 memiliki risiko PKV yang lebih rendah. Untuk kadar trigliserida juga tidak ada target khusus, namun bila < 150 mg/DL mengindikasikan resiko rendah, dan bila sangat tinggi harus dicari faktor risiko lainnya. Target pencegahan PKV yang terakhir adalah pengendalian diabetes dengan mempertahankan HbA1c < 7%.

Status sosio-ekonomi yang rendah, kurangnya dukungan sosial, stres saat bekerja dan di dalam keluarga, permusuhan, depresi, kecemasan, kelainan mental, memberikan kontribusi terhadap kejadian PKV dan memperburuk prognosis. Jika faktor risiko psikososial tersebut dapat diatasi maka dapat menjadi pendekatan terapi, dan memperbaiki kualitas hidup.

Pendekatan risiko PKV ini sangat penting dan harus dilakukan sepanjang hidup mengingat baik risiko kardiovaskuler maupun pencegahan sangat dinamis dan berkesinambungan seperti halnya bertambahnya usia pasien serta penyakit lain yang menyertai.

Dokter dan paramedis memiliki peranan penting untuk turut serta dalam pencegahan PKV saat praktek sehari-hari, dan melakukan penyaringan pada populasi dengan faktor risiko PKV. Penilaian risiko kardiovaskular secara sistematis pada setiap individu harus dilakukan terutama bila ada riwayat keluarga dengan PKV usia muda, hiperlipidemia familial, maupun memiliki faktor risiko kardiovaskular seperti merokok, tekanan darah tinggi, diabetes atau kenaikan kadar kolesterol tanpa memandang usia.

Namun untuk dewasa usia 40 sampai 75 tahun harus rutin dilakukan evaluasi pencegahan penyakit kardiovaskular dengan menggunakan estimasi risiko Atherosclerotic cardiovascular disease (ASVCD) yang dapat dikonsultasikan dengan dokter sebelum mendapatkan terapi farmakologi seperti terapi anti hipertensi, statin, maupun aspirin.

Pentingnya Pencegahan

Penyakit jantung paling banyak dihinggapi masyarakat Indonesia. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial atau BPJS Kesehatan mencatat, selama tahun 2018 telah menghabiskan Rp 79,2 triliun  untuk membayar klaim atas 84 juta kasus penyakit warga negara Indonesia. Pembayaran terbesar diberikan untuk klaim kasus penyakit jantung, yakni sebesar Rp 9,3 triliun.

Sebenarnya angka kematian PJK dapat diturunkan setengahnya jikalau dapat menurunkan faktor risiko yang berkaitan dengan PJK. Menurut pedoman European Society of Cardiology 2019, penurunan 1% populasi risiko kardiovaskular akan mencegah kasus PKV sebanyak 25.000 dan dapat menghemat biaya 40 juta Euro pertahun di tiap negara Eropa.

Melakukan promosi gaya hidup sehat dengan memperhatikan target pencegahan PKV sangat penting agar kualitas sumber daya manusia baik, dan masyarakat bisa mengaktualisasi diri membangun bangsa dan negara.

Harus ada suatu tekad dan janji dari diri kita masing-masing untuk dapat melakukan hidup sehat mulai sekarang, berjanji untuk keluarga kita dengan menyediakan makanan sehat sesuai petunjuk pencegahan penyakit jantung, berjanji kepada anak kita dengan mengajak rutin berolahraga dan lebih aktif. Janji juga perlu dilakukan para profesional di layanan kesehatan dengan mengajak pasien untuk berhenti merokok dan menurunkan kolesterol. Dan sebagai pemegang kebijakan juga harus berjanji untuk senantiasa mempromosikan jantung sehat. Sehubungan dengan hari jantung sedunia tanggal 29 September ini, kita harus bersama-sama melakukan janji, untuk jantung saya, jantung anda, dan jantung kita. Kita harus memberikan perubahan yang lebih baik terhadap hidup kita untuk dapat menurunkan risiko penyakit jantung, memperbaiki kualitas hidup,  memberikan contoh hidup sehat untuk generasi yang akan datang. (*)

*) Penulis juga, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) Cabang Mataram.

Berita Lainnya

PLN NTB Akui Ada Gangguan di PLTU Jeranjang

Redaksi Lombok Post

Petugas Kejari Mataram Kembali Lakukan Penggeledahan Kantor Dispar Lobar

Redaksi Lombok Post

Waspadai Hujan Lebat Disertai Angin Kencang

Redaksi Lombok Post

Global Hub Tak Boleh Disepelekan, Dewan Minta Gubernur Aktif Lobi Pusat

Redaksi Lombok Post

Sumbang PNBP Terbesar Kedua Bidang Kepatuhan, Amman Mineral Raih Penghargaan Dirjen Minerba

Redaksi Lombok Post

Empat Spesialis Pencuri Mobil di Lotim Dihadiahi Timah Panas

Redaksi Lombok Post

Tambang Rakyat Boleh, Asalkan?

Redaksi Lombok Post

Manfaatkan Limbah Plastik untuk Campuran Aspal

Redaksi Lombok Post

Status Jabatan Ispan Junaidi Ditentukan Hari Ini

Redaksi Lombok Post