Lombok Post
Headline Metropolis

Tidak Dipilah, Sampah Ditolak, Usia TPA Kebon Kongok Tinggal Dua Tahun

MENGAIS REZEKI: Seorang pemulung sedang mengais sampah di TPA Kebon Kongok, Lombok Barat, kemarin (1/30).

MATARAM-Sampah yang dikirim ke TPA Kebon Kongok harus sudah dipilah. Bila tidak, pengelola TPA akan menolak. Truk-truk sampah dari kabupaten/kota akan disuruh balik kanan.

”Kita minta mereka bawa lagi, dipilah dulu baru datang ke TPA,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB H Madani Mukarom usai rapat pengelolaan TPA regional di ruang Anggrek, kantor gubernur NTB, kemarin (1/10).

Kebijakan itu rencananya akan diterapkan tahun 2020. Pemprov kini tengah melakukan persiapan. Dimulai dengan rapat koordinasi bersama kabupaten/kota, penyiapan regulasi hingga perjanjian kerja sama.

Perjanjian Kerja Sama (PKS) itu nanti akan mengatur hak dan kewajiban masing-masing pihak. Sehingga penggunaan TPA lebih efektif. ”Salah satu yang diatur dalam PKS itu (pemilahan sampah) tadi,” kata mantan Kepala KPH Rinjani Barat itu.

Dia menjelaskan, kebijakan itu mungkin akan memberatkan kabupaten/kota. Namun dia menilai harus ada upaya serius dari pemerintah dalam pengelolaan sampah. Terlebih usia TPA diperkirakan tinggal dua tahun lagi.

Kapasitas TPA Kebon Kongok sekitar 900 ribu meter kubik lebih. Area yang sudah terpakai mencapai 700 ribu meter kubik. Dalam dua tahun ke depan, TPA akan penuh dan tidak bisa dipakai kembali.  Artinya, tempat pembuangan sampah itu  saat ini sedang sekarat.

Dengan kondisi itu, pemerintah berupaya mencari solusi supaya bisa memperpanjang usia TPA. Salah satunya dengan memilah sampah-sampah yang dibuang ke TPA. Sehingga sampah yang masuk langsung diolah dan habis.

Dia menyadari kebijakan itu pasti akan mendapat protes. Sebab faktanya pemilahan sampah dari rumah tangga jarang dilakukan. Tapi bila tidak dibiasakan, pola lama penanganan sampah tidak akan pernah berubah. Sistem itu nanti akan memaksa pemerintah, pada akhirnya membiasakan warga memilah sampah.

Selain itu, pemprov juga akan membuka TPA baru di Dusun Rincung, Desa Banyu Urip, Kecamatan Gerung, Lombok Barat. Di sana pemprov menyiapkan lahan sekitar 20 hektare (ha). Tapi polanya lebih modern, TPA akan menjadi pusat industri pengolahan sampah. Sampah-sampah yang dikirim akan dijadikan berbagai bahan berguna. ”Ini bagian dari industrialisasi juga,” katanya.

Sampah yang dibawa ke TPA Rincung adalah sampah yang bisa diolah. Jika tidak bisa diolah, akan dibuang ke TPA Kebon Kongok. Di Kebon Kongok juga akan dibuat tempat pengolahan sampah. Dengan pola itu, sampah yang dibawa ke TPA habis dan tidak menumpuk.

Kepala TPA Regional Kebon Kongok Didik Mahmud menyebutkan, sampah yang masuk setiap bulan antara 7.500 hingga 9.100 meter kubik. Kondisinya TPA memang mulai kacau. Sehingga perlu disiapkan kebijakan untuk mengantisipasi TPA penuh. ”Ini salah satu cara untuk mengurangi sampah di TPA,” ujarnya.

Rencananya, truk yang masuk akan dibagi menjadi dua. Truk warna hijau untuk sampah organik dan truk kuning membawa sampah anorganik. Sehingga ketika masuk TPA, petugas bisa membedakan sampah plastik dan tidak.

Meski begitu, pengelola TPA belum mendapat arahan secara teknis terkait kebijakan itu. Juga perlu didukung dengan infrastruktur sehingga dalam pelaksanaanya berjalan baik. (ili/r5)

Berita Lainnya

Berbenah Setelah Kejahatan Terbongkar

Redaksi Lombok Post

Jokowi Janjikan Kejutan di Pengumuman Menteri

Redaksi Lombok Post

Hutan Rinjani Terbakar, Pendakian Ditutup

Redaksi Lombok Post

Kecanduan Mabok Bikin Goblok, Terdorong Nyolong demi Minuman Keras

Redaksi Lombok Post

TGB Mendapat Pengakuan Dunia, Terima Penghargaan dari Al-Azhar

Redaksi Lombok Post

Pemprov NTB Cari 414 CPNS

Redaksi Lombok Post

Syafrudin Perjuangkan 52 BTS Baru Dibangun di NTB

Redaksi Lombok Post

Mobil Mewah Terbakar di Dakota

Redaksi Lombok Post

Petugas Dinsos Bongkar Modus Gepeng

Redaksi Lombok Post