Lombok Post
Headline Metropolis

Delapan Pengungsi Kerusuhan Wamena Tiba di NTB

DIPULANGKAN: Beberapa warga korban kerusuhan Wamena didampingi petugas pemprov, tiba di Lombok International Airport (LIA), kemarin.

MATARAM-Delapan pengungsi kerusuhan Wamena, Provinsi Papua, tiba di NTB.  Kedatangan mereka disambut haru keluarga saat tiba di Lombok International Airport (LIA), sore kemarin. Lega bercampur haru terpacar di wajah mereka. Satu di antara mereka adalah balita.

Alhamdulillah sudah lega, anak saya pulang dengan selamat,” kata H Ahmad Jazuri, menahan isak. Dia salah seorang warga yang datang menjemput anaknya di pintu kedatangan VIP bandara, kemarin.

Warga asal Praya ini mengaku selama ini tidak tenang karena banyak informasi simpang siur tentang kejadian di Papua. Dia gelisah menunggu kepastian Syarifuddin, anaknya di Papua. Tapi begitu melihat anaknya selamat dia menjadi lega.

Hikmatul Uliyah, salah satu dari warga dari Desa Kerongkong, Kecamatan Suralaga, Lombok Timur mengaku, sangat bahagia dan lega karena sudah berada di NTB. Saat tiba di bandara, dia nampak tenang. Tidak ada ketakutan terlihat di wajahnya.

Ia menuturkan, kerusuhan di Wamena tidak membuatnya trauma. Ia pulang bersama anaknya yang masih balita dan mertuanya. Sedangkan suaminya masih tetap tinggal di Papua, tempat tinggal mereka aman.

Uliyah yang berprofesi sebagai guru honorer sekolah dasar itu mengaku, dirinya akan kembali lagi ke Wamena kalau situasi benar-benar kondusif. Ia berterimakasih kepada pemerintah NTB dan semua pihak yang membantu proses pemulangannya.

Aswadi, warga asal Penujak, Batujai, mengaku sudah tinggal dua tahun di Papua. Dia menjadi marbot masjid. Tempat tinggalnya berjarak 4 km dari Wamena. Dia merantau ke sana karena istrinya menjadi guru di sana.  Selama ini mereka hidup damai dengan warga setempat.

”Kejadian (rusuh) cuma kemarin itu saja, sebelumnya tidak pernah, aman,” katanya.

Selama di sana, mereka tidak merasa berada di rantauan. Mereka akrab dengan warga lokal dan para rantauan di sana. Mereka tidak tahu siapa pelaku kerusuhan yang membakar rumah warga. Saat itu kejadianya malam.

Kedatangan mereka disambut langsung Kepala Dinas Sosial NTB Wismaningsih Drajadiah bersama Kepala Kesbangpoldagri NTB H Muhammad Rum.

Wismaningsih dalam keterangannya mengatakan, pemulangan warga Wamena asal NTB merupakan tahap pertama yang dilakukan pemerintah. Delapan orang yang dipulangkan berasal dari Lombok Tengah dan Lombok Timur.

”Ada 30 orang yang pulang sendiri, dijemput keluarga,” katanya.

Dengan dipulangkannya delapan orang itu, berarti sudah 38 orang warga Wamena asal NTB yang telah pulang. Dengan demikian, masih ada sisa 97 orang di Papua. Terdiri dari 77 orang dari Kabupaten Bima, empat orang dari Sumbawa, dan tiga orang dari Kabupaten Dompu.

Jumlah keseluruhan warga yang akan dipulangkan 105 orang. Sementara 55 orang warga NTB di Papua tidak mau pulang, karena keadaan aman.  Mereka adalah petugas negara seperti TNI, Polri dan ASN di  Wamena, Papua. Mereka merupakan orang-orang yang ikut membatu dalam proses pemulangan warga NTB.

Pemulangan tahap kedua akan dilakukan Ahad esok, sebanyak 50 orang. Kemudian Senin sebanyak 27 orang langsung ke Kabupaten Bima. Diperkirakan masih ada 10 orang menunggu giliran pemulangan karena baru kemarin turun dari Wamena.

Wismaningsih memastikan, semua warga Wamena asal NTB di Papua dalam kondisi baik. Untuk itu, Pemprov NTB berterimakasih atas bantuan Yonif 571 Japaura, yang telah melayani warga NTB di Papua.

Usai dilakukan penyambutan oleh pihak Dinas Sosial Provinsi NTB, selanjutnya di lakukan proses serah terima kepada Dinas Sosial Kabupaten Lombok Tengah dan Lombok Timur. Untuk selanjutnya dilakukan pemulihan, apabila terdapat gangguan psikis akibat trauma dan lainnya, dengan melibatkan peran serta dari keluarga masing-masing.

Terpisah Gubernur NTB H Zulkieflimansyah menjelaskan, sejak hari pertama meletusnya konflik, dia sudah memantau proses pengamanan di sana. Bahkan dia sudah perintahkan tim Dinas Sosial NTB untuk turun membantu warga di sana. ”Terus kami pantau,” kata Zul.

Karena isu Papua sangat sensitif, Pemprov tidak ingin gegabah dalam bersikap. Zul terus berkoordinasi dengan Danrem 162/WB, apakah perlu berkunjung langsung ke sana atau tidak. Disimpulkan, gubernur dan bupati tidak perlu ke sana.

Dikhawatirkan, kunjungan gubernur NTB justru memperkeruh suasana. Dia menjaga perasaan pemerintah daerah Papua dan pemerintah pusat yang bertugas menangani.

”Kalau kita ke sana kesannya nanti kebinekaan akan terganggu,” katanya.

Artinya seorang gubernur atau bupati di Indonesia tidak bisa mengambil keputusan semuanya. Mereka harus tetap berkoordinasi, apalagi menyangkut provinsi lain. Tapi pemprov tidak diam. Warga Wamena asal NTB yang ingin pulang, pemprov berusaha membantu.

”Kita sedang coba pulangkan, tapi kita tidak mau membuat kegaduhan,” katanya.

Terhadap warga Papua di NTB, Zul juga menjamin keamanan mereka. Dia meminta mahasiswa tidak terprovokasi. Jangan sampai terpenaruh orang yang ingin membuat gaduh. NTB tetap aman dan kondusif bagi warga Papua.

“Semua warga Papua di sini kita jamin keamanannya, jangan gampang diadu domba,” imbuhnya.

Wakil Rektor Universitas Mataram Prof Muhammad Natsir menambahkan, beberapa waktu lalu Unram mengumpulkan mahasiswa asal Papua. Tujuannya untuk mengecek kondisi kesehatan fisik dan mental mereka. Sekaligus memotivasi mereka agar tetap semangat belajar.

Dalam waktu dekat mereka akan menghadapi ujian tengah semester. Mereka harus dalam kondisi kesehatan menjelang ujian. “Jangan terpengaruh oleh isu-isu provokatif,” ujarnya.

Jumlah mahasiswa Papua yang kuliah di Unram 102 orang. Sembilan orang yang sudah pulang. Beberapa orang lainnya belum bisa dikontak. Selaku wakil rektor dia akan terus melakukan kontrol.

Natsir mengakui, para mahasiswa mendapatkan teror melalui media sosial. Teror itu bukan dari NTB, melainkan dari Papua. Untungnya mahasiswa responsnya dengan baik. Ada yang meminta peneror tidak mengancam lagi, sebab mereka hidup aman dan nyaman. Tapi ada beberapa mahasiswa yang pulang karena orang tuanya sakit dan meninggal.

Dia juga menjamin hak-hak mahasiswa tetap diberikan. Mahasiswa Papua akan ditempatkan di asrama. Tapi karena Asrama Unram sedang diperbaiki, Januari tahun depan baru mereka bisa masuk asrama.

Selama kuliah, tidak ada perlakuan rasis terhadap mahasiswa. Bahkan mahasiswa lain sangat toleran. Mereka juga aktif berdiskusi seperti mahasiswa umumnya. (ili/r6)

Berita Lainnya

Berbenah Setelah Kejahatan Terbongkar

Redaksi Lombok Post

Jokowi Janjikan Kejutan di Pengumuman Menteri

Redaksi Lombok Post

Hutan Rinjani Terbakar, Pendakian Ditutup

Redaksi Lombok Post

Kecanduan Mabok Bikin Goblok, Terdorong Nyolong demi Minuman Keras

Redaksi Lombok Post

TGB Mendapat Pengakuan Dunia, Terima Penghargaan dari Al-Azhar

Redaksi Lombok Post

Pemprov NTB Cari 414 CPNS

Redaksi Lombok Post

Syafrudin Perjuangkan 52 BTS Baru Dibangun di NTB

Redaksi Lombok Post

Mobil Mewah Terbakar di Dakota

Redaksi Lombok Post

Petugas Dinsos Bongkar Modus Gepeng

Redaksi Lombok Post