Lombok Post
Feature Headline

Memadamkan Bara Amarah yang Tersisa di Wamena

Pasukan Brimob berjaga di jalan Ahmad Yani, Wamena, Jayawijaya, Papua, Minggu (6/10/19). Penjagaan aparat di sejumlah ruas jalan di kota Wamena kembali diperketat usai kejadian pembacokan kepada salah satu warga pendatang pada Sabtu (5/10). FOTO: HENDRA EKA

Air mata Wamena belum kering benar. Jangan sampai tumpah lagi. Kini saatnya meredam amarah. Lupakan permusuhan. Jangan dirikan lagi sekat bernama OAP (orang asli Papua) dan non-OAP.

SAHRUL YUNIZAR, Wamena, Jawa Pos

===============================

SENIN pagi, 23 September 2019. Defira riang betul saat tiba di sekolah. Sebelum ujian, siswa SMA Negeri 1 Wamena itu ikut mengumandangkan lagu Indonesia Raya. Upacara bendera berlangsung seperti minggu-minggu sebelumnya.

Begitu lembar ujian dibagikan, cepat tangannya bergerak. Menjawab satu per satu pertanyaan. Namun, gerakan tangannya tiba-tiba berhenti. Teriakan dari arah luar gerbang sekolah membuat Defira kaget. Ratusan pelajar bergerombol masuk. Mereka mengajak siswa di sekolah Defira ikut berdemo ke depan kantor bupati.

Defira dan teman-temannya menolak. Sikap itu dibalas lemparan batu. ”Kaca-kaca pecah. Saya punya sekolah hancur. Kepala sekolah tahan kami supaya tidak balas,” kata dia menceritakan awal terjadinya kerusuhan di Wamena.

Walau tidak melawan, banyak siswa yang tersulut emosi setelah tahu gerombolan yang melempari sekolah mereka adalah siswa SMA PGRI. Rival mereka selama ini.

Lemparan batu memang tidak langsung dibalas. Mereka memilih mendatangi gerombolan itu. Menuju kantor bupati. Menyasar siswa-siswa SMA PGRI Wamena. Bentrokan pun pecah. Demonstrasi berubah baku hantam tak terkendali. Arahan Jhon Richard Banua, bupati Jayawijaya, tak digubris. Malah kantornya ikut jadi sasaran. Dibakar. Begitu pula kendaraan yang parkir di dalam area kantor bupati.

Kabar tersebut menyebar cepat, dari mulut ke mulut, dari handphone ke handphone. Termasuk isu rasisme yang disebut melatarbelakangi demonstrasi siswa SMA PGRI Wamena. Lalu petaka datang sangat cepat. Keributan yang tidak pernah terlintas di kepala kebanyakan penduduk lembah jantung Pegunungan Tengah. Gerakan massa yang dimulai dari amuk pelajar itu meluas. Mengepung Wamena. Isu rasisme berhasil memantik amarah masyarakat. Membuat api tidak hanya menyala di kantor bupati.

Di sebuah rumah di Jalan J.B. Wenas, Ryan Hendrawan melihat asap tebal membubung tinggi. Bangunan terbakar tidak jauh dari tempat dia tinggal. ”Ribut di Hom-Hom,” sebuah pesan masuk melalui handy talky.

Ryan seakan tak percaya. Dia sempat melongok ke luar rumah. Namun, pria asal Surabaya itu buru-buru masuk lagi ke rumahnya. Dia amankan istri dan anaknya. Ryan melihat massa bergerak cepat ke arahnya. Padahal, di sekitar rumahnya hanya ada belasan orang.

”Mati sudah kami,” pikirnya kala itu. Kepanikan tampak di mana-mana. Termasuk di pasar yang sedang dipenuhi perempuan berbelanja. Semua kocar-kacir berhamburan. Menyelamatkan diri.

Massa tidak hanya mengamuk di Hom-Hom. Pasar Wouma juga membara. Api menyala di sana. ”Langit gelap sekali. Sudah asap semua,” kata Ryan. Saat itu dia belum tahu apa yang sedang terjadi. Dia heran mengapa massa membakar satu per satu rumah, toko, dan bangunan pemerintah.

Ryan baru tahu setelah prajurit TNI datang, kemudian mengevakuasi keluarganya. Saat truk TNI yang mengangkutnya melintas di Jalan J.B. Wenas, tubuh Ryan lemas. Dengkulnya serasa mau copot. ”Saya lihat orang yang sarapan sama-sama sudah terpanggang di dalam mobil,” ucap dia getir.

Pagi itu Wamena diselimuti duka. Di sepanjang perjalanan menuju markas Kodim 1702/Jayawijaya, Ryan mendengar dan melihat kepanikan. Beberapa saat setelah sampai lokasi aman, dia mendengar kabar menyakitkan. Belasan orang meninggal. Tidak lama kemudian, kalimat tersebut berubah. Puluhan orang meninggal.

Kerusuhan tidak berlanjut sampai malam. Namun, ketegangan masih ada. Sampai sepekan pasca kerusuhan. Ketika Jawa Pos tiba di Wamena, tatapan saling curiga masih terasa. Gap antara penduduk asli dan pendatang tercipta. Luka sudah terbuka. Masyarakat yang merasa jadi target amuk massa memilih pergi. Satu demi satu keluar Wamena. Mereka eksodus. Data terakhir yang diperoleh Jawa Pos, ada 16.500 orang yang keluar dari Wamena.

Bagi Wamena yang juga ibu kota Jayawijaya, angka itu termasuk tinggi. Sepinya aktivitas masyarakat menjadi bukti. Roda ekonomi bergerak pelan. Jaminan keamanan terus dipertanyakan.

***

”Kita di sini tidak ada kebencian sedikit pun terhadap teman-teman non-Papua,” tutur Pendeta Esmon Walilo. Hubungan baik dibangun sejak lama. Jauh sebelum Indonesia berdiri. Ketika penjelajah dan misionaris dari negeri nan jauh di sana datang, penduduk Lembah Baliem sudah membuka diri. ”Kami dalam konteks budaya di Baliem ini, kalau orang luar datang dari mana-mana, sudah dianggap keluarga seumur semati,” tandasnya.

Sejak lama masyarakat Wamena hidup berdampingan dengan pendatang dari banyak daerah. Mereka bahu-membahu saling memenuhi kebutuhan masing-masing. Tidak ada sekat. Itu pula yang membuat Wamena hidup, cepat berkembang, sampai menjadi salah satu kota paling sibuk di Papua. ”Ini tidak ada hujan tidak ada angin, tiba-tiba meledak begitu saja,” sesal pria yang juga ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Jayawijaya tersebut.

Wamena yang saat ini sakit, lanjut Esmon, harus disembuhkan kembali. Bukan cuma oleh penduduk asli. Tapi juga para pendatang. ”Kami senang ada teman-teman pendatang di sini. Kita bangun kembali Wamena bersama,” tuturnya. Dia menyadari, masyarakat butuh waktu untuk menghilangkan trauma. ”Membutuhkan waktu yang panjang,” tambahnya.

Esmon berharap masalah di kota yang dia cintai itu tidak berlarut-larut. Kian cepat Wamena pulih kian baik. Dia tahu betul ada banyak pendatang yang menggantungkan hidup di Wamena. Mereka yang sejak lahir tinggal di Wamena. Mereka yang membangun keluarga di Lembah Baliem. Juga mereka yang merajut mimpi-mimpi besar di sana.

Misalnya Yuliani Rahmawati. Perempuan asal Cileungsi, Bogor, yang menikah dengan lelaki Papua. Tiga tahun lalu Yuli –sapaan Yuliani– mengikat janji suci dengan seorang pria bernama Kantius Wenda, OAP yang lahir di Lanny Jaya, tapi besar di Wamena. ”Kami bertemu di tempat kerja,” ucap Kantius dan Yuli serentak. Malu-malu. Mereka menceritakan bahwa tidak ada beda di antara pendatang dan penduduk asli Wamena. Apalagi mereka yang dilahirkan di sana. Dari suku mana pun, mereka disebut asli Wamena.

Berjalan tiga tahun, pernikahan Yuli dengan Kantius semakin membahagiakan keduanya. Mereka kini dikaruniai dua putri. Katsi Aurora Wenda dan Kayla Obelom Wenda. Seperti ayahnya, keduanya punya rambut keriting. Sedangkan senyum Katsi dan Kayla manis seperti milik ibu mereka. ”Tidak ada yang sulit saat kami menikah. Semua baik-baik saja,” kenang Kantius.

Selama tinggal di Wamena, pria 29 tahun itu mengatakan, hubungan dengan para pendatang tidak pernah bermasalah. Sedikit salah paham antar tetangga tentu wajar saja. Namun, masalah besar yang sampai harus dibayar nyawa tidak pernah ada. Dia termasuk salah seorang yang berharap besar hubungan baik di antara masyarakat Wamena terus berlangsung. Jangan sampai musnah pasca kerusuhan. Masyarakat dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, serta daerah lainnya sudah menunjukkan mampu selaras membangun kebersamaan. Bertahun-tahun dipertahankan dan diwariskan turun-temurun. ”Tidak boleh hilang,” ujarnya.

Entis Sutisna, ketua Paguyuban Sunda yang tergabung dalam kelompok masyarakat Jawa, Sunda, Madura (Jasuma), pun sepakat. Selama 14 tahun tinggal di Wamena, dia tidak ingin fondasi kebersamaan dihancurkan segelintir orang. Yang tidak jelas asal usulnya, yang ingin memecah masyarakat lewat isu rasisme.

Bagi Entis, pihak-pihak yang ingin memecah belah masyarakat akan senang jika hubungan menjadi renggang. Karena itu, dia memilih bertahan. Tidak pergi meninggalkan Wamena meski banyak yang eksodus ke Jayapura. ”Saya akan tetap di sini,” tegasnya. Tentu dia tidak melarang siapa pun keluar Wamena. Namun, kembali membangun Wamena juga penting.

Karena itu, Entis mengajak seluruh masyarakat yang selama ini tinggal dan hidup di Wamena untuk kembali. Bersama-sama membangun kota tempat mereka mengais rezeki. Pendatang maupun penduduk asli dibutuhkan untuk menggerakkan lagi roda ekonomi.

”Tapi, kalau seperti ini kan orang bubar semua. Satu minggu (belakangan) ini kota seperti kota mati,” tambah Pendeta Esmon. Kondisi tersebut tidak boleh dibiarkan. Mulai hari ini (7/10) sekolah dibuka. Dia berharap keputusan itu membuat Wamena kembali hidup. Yang sudah keluar dari Wamena segera kembali; yang sebelumnya takut keluar rumah mulai memberanikan diri. Menghidupkan lagi Wamena.

Pendeta Aser Asso, tetua suku Lani, ikut sedih begitu tahu Wamena dibuat hancur oleh sekelompok pengacau. Dia menyebutkan, masyarakat Lembah Baliem tidak pernah memusuhi pendatang. Dari mana pun orang datang diterima dengan baik. ”Dari Jawa, Sumatera, Kalimantan. Mereka semua manusia, tidak boleh dibunuh,” tegasnya.

Saat kejadian, Aser memang tidak berada di Wamena. Dia sedang ada urusan di Jayapura. Begitu mendengar rusuh pecah di Wamena, dia langsung bertolak dari Sentani. Melihat kota kelahirannya hancur, Aser sedih. Menurut dia, ada masalah yang belum selesai di sana. Namun, sampai saat ini solusi yang diambil belum menyentuh akar. ”Rasisme dan diskriminasi itu harus dibuat hilang,” ucapnya.

Untuk merekatkan lagi kebersamaan masyarakat asli dengan pendatang di Wamena, ungkap Aser, diperlukan konsistensi. ”Harus ada tim yang dibuat pemerintah,” ujarnya. Tim itu bisa diisi tokoh masyarakat, kepala suku, tetua adat, dan semua pihak yang dapat mewakili masyarakat. Menurut dia, cara tersebut cukup ampuh untuk menyelesaikan masalah yang muncul pasca kerusuhan Wamena.

Perlu juga diambil langkah yang tidak berpotensi memantik kerusuhan lagi. ”Jangan sembarangan tangkap orang,” tuturnya. Aser tahu aparat kepolisian terus bergerak memburu dalang kerusuhan di Wamena. Dia juga mendukung semua perusuh diadili. Sebab, mereka memang harus bertanggung jawab. (*/c9/oni)

Berita Lainnya

Berbenah Setelah Kejahatan Terbongkar

Redaksi Lombok Post

Jokowi Janjikan Kejutan di Pengumuman Menteri

Redaksi Lombok Post

Hutan Rinjani Terbakar, Pendakian Ditutup

Redaksi Lombok Post

Kecanduan Mabok Bikin Goblok, Terdorong Nyolong demi Minuman Keras

Redaksi Lombok Post

TGB Mendapat Pengakuan Dunia, Terima Penghargaan dari Al-Azhar

Redaksi Lombok Post

Pemprov NTB Cari 414 CPNS

Redaksi Lombok Post

Syafrudin Perjuangkan 52 BTS Baru Dibangun di NTB

Redaksi Lombok Post

Gubernur Harus Turun Tangan Evaluasi Pengelolaan TPA Kebon Kongok

Redaksi Lombok Post

Pengamen Gomong Bacok Tukang Parkir

Redaksi Lombok Post