Lombok Post
Feature KESEHATAN LIFESTYLE

Vape Potensi Besar Sebabkan Penyakit

dr. Intan Wahyu Lasiaprillianty, SpOG
dr. Intan Wahyu Lasiaprillianty, SpOG

Vape, vaporizers, atau electronic cigarettes merupakan alat yang termasuk dari electronic nicotine delivery systems (ENDS), yaitu alat yang digunakan untuk menghirup nikotin, menggunakan elektronik yang merupakan rokok noncombustible, yaitu rokok yang pengeluaran asapnya tidak melalui pembakaran. FDA (Food and Drugs Administration) suatu lembaga di Amerika Serikat yang mengatur regulasi makanan dan obat-obatan, menyatakan bahwa vape atau electronic cigarettes merupakan bagian dalam rokok karena masih mengandung nikotin di dalamnya. Oleh karena regulasi dari penjualan vape di sana harus sama dengan penjualan rokok biasa, harus mencantumkan ingredients, susunan produk, sampai mencantumkan efek samping dari produk seperti ketagihan dan gangguan saluran pernapasan dan lainnya. FDA telah bekerjasama dengan berbagai lembaga penelitian menemukan beberapa penyakit akibat rokok elektronik tersebut, antara lain penyakit paru, nyeri dada, serangan jantung sampai gejala penyakit berasal dari saluran pencernaan seperti mual, muntah, diare.

Vape mempunyai keunggulan dibandingkan perokok biasa, yaitu asap yang dihasilkan berasal dari uap (vaporisasi) cairan yang berasal dari cairan di dalam vape, sedangkan rokok konvensional berasal dari pembakaran, sehingga terdapat sekitar 7000 zat beracun yang didapatkan merokok konvensional. Namun vape ternyata juga mengandung berbagai zat yang belum diketahui dan masih dalam penelitian, lebih berpotensi besar menyebabkan penyakit. Penelitian vape juga menyebabkan ketagihan seperti rokok biasa. Dan vape mengandung nikotin yang selain menyebabkan ketagihan juga berbahaya untuk organ manusia. Diantaranya mengandung propylene glycol yang menyebabkan iritasi mata dan paru-paru dan hasil vaporisasi yang mengandung carbonyl yang juga toksik, serta berbagai zat lainnya yang masih dalam penelitian yang diduga berbahaya.

Bagi ibu hamil yang melakukan vaping maupun meghirup dari orang lain mempunyai resiko seperti perokok dan perokok pasif.

Resiko wanita hamil yang terpapar nikotin akan menimbulkan komplikasi pada ibu dan janin. Pada kehamilan trimester pertama, akan beresiko menimbulkan keguguran (abortus spontan), kematian janin (fetal death) dan kelainan kongenital janin terutama pada anggota gerak, seperti kelainan pada jari-jari tangan. Hal tersebut dikarenakan pada saat trimester pertama adalah masa-masa pembentukan organ janin, mengalirnya nikotin yang dalam aliran darah ibu dapat masuk ke plasenta kemudian mengalir dalam tubuh janin, akibatnya dapat terjadi gangguan proses pembentukan organ janin.

Pada kehamilan lanjut, nikotin dapat menyebabkan ketuban pecah dini, kehamilan dengan plasenta previa (plasenta yang menempel pada bagian bawah rahim dan menutupi jalan lahir) dan dapat menimbulkan solusio plasenta (abruption placental), yaitu terlepasnya plasenta dari implantasinya terhadap rahim pada saat janin masih di rahim, sehingga menimbulkan perdarahan hebat dan resiko kematian ibu hamil dan janinnya.

Sehingga kemudian janin yang terlahir dari ibu hamil yang menghirup nikotin dapat terlahir prematur, lahir dengan berat badan yang rendah dan dapat beresiko mengalami Sudden Infant Death Syndrome (SIDS) yaitu bayi mengalami kematian mendadak.

Dalam beberapa penelitian menyebutkan bahwa nikotin juga dapat berpotensi teratogenik, yaitu mempunyai sifat yang dapat menyebabkan kelainan proses fisiologis dan pembentukan organ. Beberapa kelainan yang telah ditemukan antara lain, hydrocephaly (penumpukan cairan di otak), microcephaly (kepala janin kecil), gastroschisis dan omphalocele (keduanya merupakan kelainan pembentukan dinding perut, sehingga isi perut keluar), cleft lip and palate (bibir sumbing) dan kelainan pembentukan tangan.

Bagaimana bila janin lahir selamat tanpa kecacatan? Ternyata anak-anak yang terlahir dari ibu perokok masih beresiko mengalami akibat dari nikotin tersebut. Mereka masih beresiko terkena asma, obesitas pada masa kanak-kanak, kelainan pencernaan pada saat masih bayi.

Bagaimanakah bisa terjadi hal-hal tersebut di atas? Beberapa proses diduga mendasari kelainan-kelainan tersebut. Diantaranya kandungan rokok dan vape yang mengandung nikotin dapat masuk ke aliran darah janin melalui plasenta (ari-ari) kemudian mengakibatkan kelainan pada jantung janin, sehingga kemudian terjadilah proses keguguran, kematian janin. Proses lain yaitu tergantikannya oksigen yang seharusnya dihirup dengan asap rokok dan vape, sehingga menyebabkan darah tidak berisi oksigen, sehingga menyebabkan fetal hypoxia, yaitu janin kekurangan oksigen, atau komponen nikotin yang toksik dapat menyebabkan keracunan dalam aliran darah janin. Hal tersebut bila terjadi pada saat pembentukan organ janin, dapat mengakibatkan kelainan terbentuknya organ janin dan berakibat kecacatan. Bila hipoksia terjadi sedemikian parah maka akan menyebabkan terlepasnya ari- ari dari rahim ketika kehamilan berlangsung, sehingga menyebabkan perdarahan hebat.

Oleh karena itu FDA telah menyatakan bahwa rokok termasuk vape didalamnya, tidak aman dan tidak diperbolehkan untuk wanita hamil. Sehingga wanita hamil wajib untuk menghindari merokok vape, walaupun dengan alasan untuk keluar dari merokok konvensional untuk kesehatan diri sendiri dan janin.

 

Nama :dr. Intan Wahyu Lasiaprillianty, SpOG

Tempat bekerja : Klinik Akasia, RSI Siti Hajar, RS Biomedika

Berita Lainnya

Pengembangan RSUD Kota Mataram Tak Bisa Terlaksana Tahun Depan

Redaksi Lombok Post

Pertumbuhan Ekonomi NTB Tertinggi Keempat di Indonesia

Redaksi Lombok Post

Berkunjung ke Sekolah Cinta Bahasa Milik Yoshida Chandra

Redaksi Lombok Post

500 Orang Jadi Karyawan Permanen PT Macmahon

Redaksi Lombok Post

Masa Depan Pertembakauan NTB (1)

Redaksi Lombok Post

Ramai-Ramai Berburu Harta Bersejarah yang Diduga Peninggalan Sriwijaya

Redaksi Lombok Post

BAHAYA ROKOK ELEKTRIK BAGI KESEHATAN PARU

Redaksi Lombok Post

BRI Gelar Business Gathering Dengan PJTKI

Redaksi Lombok Post

BRI Launching Aplikasi Junio Smart di SMPN 2 Mataram

Redaksi Lombok Post