Lombok Post
Headline Metropolis

Batik Sasambo, Apa Kabarmu, Dulu Dipuja, Kini Dilupa

KHAS: Seorang wanita mewarnai motif gambar peresean pada batik sasambo di SMK 5 Mataram, kemarin (8/10). Motif peresean merupakan salah satu ciri khas batik ini.

Hari Batik Nasional 2 Oktober pekan lalu, di NTB miskin perayaan. Padahal, Bumi Gora punya batik andalan. Batik Sasambo namanya. Sembilan tahun lalu, batik ini namanya sangat masyhur. Namun kini nasibnya nyaris hancur. Beginilah nasib program pemerintah, kalau kelahirannya hanya bermula dari sekadar latah.

————————

KUSMAN Jayadi dengan bangga mengenakan kemeja dari Batik Sasambo. Coraknya peresean. Warnanya merah tua. Kusman memang pengusaha Batik Sasambo. Dia punya galeri Batik Sasambo. Jaya Abadi namanya. Lokasinya di Pringgasela Selatan, Lombok Timur.

Pekan lalu, Lombok Post bertandang ke sana. Di galeri itu, aneka warna dan motif Batik Sasambo dipajang di sana. Memang jumlahnya sudah mulai berkurang. Tapi bukan karena banyak pembeli yang datang memborong. Melainkan karena memang produksi yang sudah menurun drastis.

Kusman tak akan pernah lupa. Bagaimana 10 Mei 2010 silam. Kala Gubernur NTB saat itu TGB HM Zainul Majdi melaunching program Batik Sasambo di Peringgasela. Sejak itu, para perajin berlomba-lomba membatik. Sokongan modal dari pemerintah pun berdatangan.

Sentra Batik Sasambo Jaya Abadi merupakan satu-satunya sentra batik Sasambo di Lombok Timur. Sentra ini mulai beridri tahun 2011. “Saat itu kami mendapatkan dukungan modal awal dari pemerintah sebesar Rp 150 juta,” ungkap Kusman.

Dengan modal tersebut, didukung promosi gencar-gencaran pemerintah, kerajinan batik miliknya berkembang pesat. Kata Kusman, dampak dari perkembangan tersebut dirasakan sekali oleh masyarakat sekitar di Dusun Kedondong, Desa Pringgasela Selatan.

Saat itu, perajin yang berasal dari masyarakat saja mencapai 20 orang. Bahkan, dia ingat persis, ketika istri Bupati Lombok Timur kala itu memesan ribuan lembar Batik Sasambo dari galerinya.

Dalam sebulan, omzet penjualannya mencapai Rp 100 juta lebih. Jika pun ada penurunan, tak pernah kurang dari Rp 60 sampai Rp 70 juta. “Harga per lembar kain Batik Sasambo saat itu berkisar dari Rp 130 ribu sampai Rp 1 jutaan,” ujarnya.

Namun, omzet yang tinggi itu rupanya tak bertahan lama. Memasuki periode kedua kepemimpinan TGB Zainul Majdi sebagai Gubernur, tepatnya tahun 2014, mulai ada perubahan drastis. Pemerintah kala itu seakan melupakan Batik Sasambo.

Dampaknya pun sangat terasa. Dari omzet Rp 100 juta per bulan, turun drastis menjadi hanya Rp 1 juta per bulan. Rp 99 juta raib begitu saja. Akibatnya, selembar kain yang tadinya bisa dikerjakan dalam setengah hari, harus diperlambat menjadi empat hari. Itu karena perasaan yang masih membara dalam hatinya untuk tetap memperjuangkan pengembangan batik tersebut.

Dan yang paling menyedihkan dan tak bisa bisa diterima hati nurani, Kusman harus memberhentikan pekerja. Dari 20 orang yang dulu membatik di sana, kini tersisa hanya dua orang saja.

Nasib Serupa

Tak cuma di Lombok Timur. Di Lombok Barat, nasib para perajin Batik Sasambo pun sama. Bak pinang dibelah dua. Lombok Post mendatangi Ponpes Tarbiyatul Ikhlas, di Desa Jembatan Kembar, Kecamatan Lembar. Dulu, ponpes ini adalah kebanggaan NTB. Sebab, Batik Sasambo menjadi salah satu kegiatan ekstrakurikuler bagi para siswa. Kegiatan esktrakurikuler itu pun dicanangkan Gubernur NTB TGB M Zainul Majdi kala itu.

Dukungan dari pemerintah pun mengalir. Ponpes Tarbiyatul Ikhlas banyak mendapatkan bantuan ruangan hingga bahan untuk membatik. H Marliadi, Pembina Ponpes Tarbiyatul Ikhlas kepada Lombok Post mengungkapkan, setidaknya ada 30 orang santrinya yang kala itu aktif membatik di sekolah. Dua jenis batik yang dibuat saat itu adalah batik jenis cap dan canting. Dalam sebulan, 100 hingga 200 lembar kain batik dihasilkan di Ponpes Tarbiyatul Ikhlas.

Pria yang juga Sekretaris Majelis Ulama Indonesia Lombok Barat ini mengungkapkan, harga normal Batik Sasambo per potongnya sekitaran Rp 175 ribu sampai Rp 200 ribu. Dengan ukuran lebar 75 centimeter dan panjang 2,5 meter. Dengan harga ini, omzet per bulan yang dihasilkan per bulannya bisa puluhan juta rupiah.

“Dulu, setiap pameran dulu kami diundang untuk memperkenalkan batik ini,” kenangnya.

Penjualan pun tinggi. Para PNS di lingkup kabupaten/kota maupun provinsi saat itu diimbau oleh kepala daerah untuk menggunakan Batik Sasambo. Otomatis, kain batik yang dihasilkan para santri di Desa Jembatan Kembar tersebut laku keras. Karena pangsa pasar mereka saat itu sudah jelas.

Tapi, itu dulu. Sekarang semuanya sudah lewat. Permintaan pun terus anjlok. Bahkan nyaris tiada sama sekali. Pihak Ponpes pun terpaksa menghentikan kegiatan produksi. Tak ada lagi aktivitas membatik. Tak ada lagi Batik Sasambo yang diproduksi di Ponpes ini.

“Tepatnya, kami total berhenti pada tahun 2017,” kata Marliadi.

Sepinya pembeli memang merembet kemana-mana. Termasuk ke minat para santri. Kini, tak ada lagi minat para santri untuk membatik. Santri yang dulu sudah memiliki keterampilan, juga telah lulus. Karena peminat sepi, regenerasi pun mandek.

Tanda-tanda masa depan Batik Sasambo bakal suram di Ponpes ini sudah mulai terlihat pada 2015. Semenjak itu, semangat membudayakan batik mulai menurun. Baik dari sumber daya tenaga manusia yang membatik maupun masyarakat umum yang menggunakan batik.

Harga kain batik boleh terajangkau. Namun, masyarakat rupanya masih kurang memiliki minat terhadap penggunaan kain batik ini. Akibatnya, pengembangan batik di lingkungan Ponpes tidak berjalan baik. Sehingga dihentikan tahun 2017.

Pantauan Lombok Post, ruangan membatik yang biasa dilakukan para siswa Ponpes kini sudah tidak digunakan lagi. Ruangan tersebut sudah beralih fungsi sebagai gudang untuk menyimpan beberapa barang.

Anjlok Drastis

Beranjak ke Mataram. Kondisi yang sama juga terjadi. Lombok Post mendatangi SMKN 5 Mataram. Pada tahun 2010, ini adalah SMK pertama di NTB yang mengajarkan kegiatan membatik pada para siswanya. Dan dilaunching oleh pemerintah sebagai pusat kreasi Batik Sasambo di NTB. Banyak motif-motif Batik Sasambo lahir dari SMKN 5 Mataram. Jumlahnya bahkan ratusan.

SMKN 5 Mataram pun merasakan, betapa permintaan Batik Sasambo kini mulai menurun. Di awal-awal dulu, dalam sebulan, SMKN 5 Mataram mampu menjual 500 lembar kain batik Sasambo. Sekarang, tidak bisa lagi. Menurun. Kalau bisa 200 kain sebulan saja, itu sudah luar biasa.

“Pesanannya lebih didominasi oleh guru-guru sekolahan, mereka menggunakan batik Sasambo untuk pakaian kerja di hari-hari khusus,” kata Wakil Kepala Sekolah SMKN 5 Mataram sekaligus pencetus industri batik Sasambo di SMKN 5 Mataram Ahyar Suharno.

Ia menuturkan, sebagian besar konsumen yang memesan batik Sasambo yang diproduksi anak didiknya adalah pegawai di lingkup Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kalaupun ada tambahannya ada dari pegawai BUMN, dan beberapa kantor swasta.

Pemesanan dari luar daerah saat ini juga ada. Menurutnya, pesanan pembelian dari luar daerah setiap bulannya juga tetap ada. Namun jumlahnya tidak menentu. Yang paling utama di pesan yang motif lumbung, kangkung, dan sate usus.

Kini, setelah permintaan anjlok, kain batik yang diproduksi bisa mencapai 50 lembar per bulan. Jika ada permintaan yang tinggi, baru bisa naik menjadi 300 lembar.

Di SMKN 5 Mataram, batik Sasambi yang diproduksi ada tiga jenis. Yang dilukis, cap, dan campuran. Harga satu lembar kain batik Sasambo lukis mulai dari Rp 275 ribu sampai Rp 350 ribu. Sedangkan, batik cap mulai dari Rp 225 ribu hingga Rp 250 ribu. Sementara batik campuran Rp 250 ribu hingga Rp 275 ribu per lembar.

“Omzet sekarang tidak menentu. Kadang sepi, kadang ramai,” katanya.

Tapi, dulu, saat ramai, dalam sebulan omzet bisa mencapai Rp 15 juta. Sekarang, sudah jauh menurun. Dapat omzet Rp 10 juta sebulan saja, sudah sangat bagus. Mengingat, dalam sehari saja, batik Sasambo kerap hanya terjual kurang dari lima potong.

Saling Curhat

Tentu saja, tidak hanya di Lombok. Kondisi serupa juga menimpa para perajin Batik Sasambo yang ada di Pulau Sumbawa. Kusman Jayadi mengungkapkan, saat bertemu dengan para koleganya sesama perajib Batik Sasambo, keluh kesahnya pasti sama. Bahkan, Kata Kusman, curhatnya bisa berlanjut melalui telepon berjam-jam.

“Komitmen pemerintah sekarang memang mulai pudar,” katanya.

Namun, menurut Kusman, sebagian dari mereka belum menyerah. Tetap ingin bertahan. Keinginan untuk bertahan tersebut umumnya dikarenakan oleh perasaan yang sudah nyaman dan menyatu dengan batik. Sebab melalui itu, ia bisa memberdayakan masyarakat.

Namun, yang pasti, kata dia, perajin tak bisa hidup tanpa pemerintah. Sebab, membiarkan batik hasil pabrikan dan kerajinan bertarung di pasar secara bebas, tentu tak akan bisa.

Hal itu dikarenakan oleh perbedaan antara hasil pabrikan dan kerajinan. Jika pabrikan yang memproduksi dalam partai besar bisa banting harga. Beda halnya dengan pengrajin. Sampai kapanpun, prosesnya akan tetap lama.

“Itulah mengapa peranan pemerintah dalam membantu para perajin sangat diperlukan.

Belakangan, memang sudah mulai ada kenaikan omzet. Memang mulai ada intervensi pemerintah. Meski tidak segencar sebelumnya. Sudah ada surat imbauan dari provinsi untuk membeli batik Sasambo di instansi-instansi. meskipun tidak semua instansi mengamini imbauan tersebut.

“Sekarang omzet perbulan bisa mencapai Rp 10 juta. Pekerja kami sudah bertambah jadi 7 orang,” jelas Kusman.

Soal intervensi pemerintah, Marliadi pun mengungkapkan hal serupa. Sebetulnya, harga batik Sasambo tidak terlalu mahal. Terutama jika melihat proses pembuatannya yang cukup panjang. Karena itu, jika harus dijual dengan harga yang lebih rendah, perajin akan kesulitan.

 Tak Punya Data

Lantas apa kata pemerintah? Dinas Perindustrian NTB pun mengakui, bahwa perhatian pemerintah kini memang sudah beralih dari Batik Sasambo. Dinas Perindustrian NTB pun mengaku tak memiliki data lengkap terkait sentra-sentra yang memproduksi Batik Sasambo. Berapa yang masih beroperasi. Berapa yang sudah gulung tikar. Tak ada data di dinas ini.

Namun begitu, Plt. Kepala Dinas Perindustrian NTB Nuryanti mengungkapkan, pemerintah kini mendorong para perajin lebih mandiri. Mereka terus didorong agar membuat inovasi produknya.

Nuryanti mengungkapkan, fokus pemerintah saat ini adalah produk khas NTB yakni tenun. Mengapa tenun? Selain memiliki corak bagus, kerajinan tenun sudah mengakar kuat di tengah masyarakat NTB. Karena itu, pemerintah sekarang memprioritaskan pengembangan tenun. Bahkan produk-produk tenun akan dibuatkan hak kekayaan intelektual (HKI) sebagai milik NTB.

”Membatik memang punya Indonesia. Cuma identitas kita tenun,” katanya.

Nuryanti meyakini, pelaku industri batik Sasambo saat ini sudah eksis. Pelaku industri sudah mampu berjalan dan banyak yang sukses. Sehingga pembinaan dialihkan ke tenun. Pemerintah pun sedang merancang, bagaimana produk tenun dijual dengan harga lebih terjangkau bagi semua kalangan.

Di tempat yang sama, Kepala Seksi Sandang dan Kerajinan Dinas Perindustrian NTB Yana Muliana menambahkan, upaya pengembangan batik Sasambo sudah dilakukan sejak lama. Sehingga, pihaknya yakin pelaku industrinya sudah mandiri.

Namun, dia tak menampik jika Batik Sasambo masih kalah saing dengan batik-batik dari Pulau Jawa. Apalagi coraknya belum melekat di benak masyarakat luas.

Karena itu, dia menyarankan agar para pelaku usaha tidak hanya sekedar menjual kain, tetapi juga menjual batik Sasambo sebagai produk fashion. Tidak hanya berupa baju, tetapi juga sepatu, tas dan lainnya.

Memang Dipaksakan

 Bagi Pengamat UMKM Anas Amrullah, program Batik Sasambo memang lahir prematur di NTB. Bahkan, kata dia, kelahirannya sangat dipaksakan. Sebab, NTB memang kata dia, tidak tradisi membatik. Tradisi di NTB adalah menenun.

Karena itu, harusnya, sedari mula, pemerintah mestinya mengembangkan tenun, yang jelas-jelas SDM sudah banyak di NTB.

Punya batik khas di NTB sebetulnya kata dia, sangat bagus. Namun, namun harus pula memerhatikan kondisi daerah. Bukan sekadar ikut-ikutan daerah lain. Atau latah.

Ia bercerita, awalnya program Batik Sasambo lahir, karena kala itu untuk memenuhi kebutuhan lokal seragam ASN yang sulit kalau hanya dipenuhi dari tenun. Sebab, memproduksi tenun ikat secara massal membutuhkan waktu panjang.

”Jadi saat itu, solusinya mengembangkan batik yang produksinya lebih cepat,” ungkapnya.

Dijelaskan, batik itu gambaran budaya suatu daerah. Hal inilah yang tidak ada di daerah NTB. Karena batik itu bukan budaya lokal NTB. Membangun industri batik juga tidak mudah. Butuh proses dan sumber daya yang mendukung di daerah.

”Jadi wajarh kalau hanya jadi euphoria sesaat saja,” katanya.

Karena memang tidak terlahir dari akar budaya sendiri, maka wajar jika batik Sasambo banyak kurangnya. Ketua Dekranasda NTB Hj Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah pun mengakui hal tersebut.

Dia menjelaskan, kesulitan yang sampai saat ini masih dirasakan dalam mempromosikan Batik Sasambo, karena budaya membatik bukan merupakan budaya asli NTB. Sehingga butuh waktu untuk memperkenalkannya.

Untuk mengenalkan ke semua orang pun tidak mudah. Perlu proses yang lebih lama. Tidak seperti tenun yang sudah mendarah daging di masyarakat NTB.

Motif Lemah

Apakah Dekranasda NTB bisa menyamakan perlakukan Batik Sasambo seperti tenun? Niken menjawab, budaya menenun diwariskan secara turun temurun. Bahkan, salah satu syarat seorang gadis menikah, maka dia harus menenun terlebih dahulu. Maka tidak mengherankan, tenun sudah masuk menjadi bagian dari Kriya Heritage asal NTB, yang harus terus dilestarikan.

Sementara batik, kata dia, belum bisa dipromosikan seperti tenun. Bila dilihat, ada beberapa alasan mengapa batik sasambo belum terlalu membumi di NTB.

Selain karena budaya membatik bukan budaya asli NTB, motif-motif yang ditampilkan pada kain batik Sasambo masih lemah. Meski itu mencirikan budaya asli NTB. Seperti motif gendang beleq, kangkung, cabe dan semacamnya.

Meski begitu, Niken berjanji tidak akan lepas tangan. Pengembangan tetap dilakukan. Seperti yang dilakukan beberapa desainer Dekranasda NTB yang terus mendesain motif-motif terbaru Batik Sasambo. Kegiatan membatik juga tetap akan dipertahankan. Seperti di SMKN 5 Mataram. Sebab, ini bisa dijadikan alat bagi pelajar disana untuk mengembangkan kreativitas.

Diungkapkan, promosi Batik Sasambo sementara ini masih bersifat kedaerahan. Karena Dekranasda NTB belum memikirkan lebih jauh soal promosi Batik Sasambo. Misalnya promosi ke luar negeri. Seperti yang dilakukan untuk kain tenun NTB. Pihaknya hanya mempertahankan tradisi mengenakan Batik Sasambo atau kain tenun NTB setiap hari Kamis. Sesuai dengan surat edaran yang sudah ada.

“Jadi memang dua-duanya lah kita beri kesempatan, kalau ada Batik Sasambo, bisa dipakai, kalau punya tenun NTB harus dipakai,” tandasnya. (tih/ili/ton/tea/nur/yun/r6)

Berita Lainnya

Tiga Pelajar di Lotim Tertangkap Saat Pesta Sabu

Redaksi Lombok Post

Warga Sekarbela Titip Bantuan untuk Palestina

Redaksi Lombok Post

Perhimpunan Intervensi Kardiologi Indonesia Klarifikasi Pernyataan Menkes

Redaksi Lombok Post

Jangan Mau Merariq Kodek, Gak Keren Tau!

Redaksi Lombok Post

Atlet Menembak dan Selancar NTB Sumbang Emas untuk Indonesia

Redaksi Lombok Post

Hitung Mundur, 24 Bulan Menuju MotoGP

Redaksi Lombok Post

Sembilan Produk Rucika Raih Green Label Indonesia

Redaksi Lombok Post

Tipu TKI, Oknum Pegawai Disnakertrans Lotim Hilang

Redaksi Lombok Post

Rayuan Maut Calo Tipu Para TKI

Redaksi Lombok Post