Lombok Post
Metropolis

Hidup dari Permintaan Instansi

JIKA masih ada permintaan untuk Batik Sasambo, saat ini umumnya hanya ditopang oleh permintaan dari instansi. Sementara permintaan dari masyarakat umum, sudah sedemikian sulit dibanggakan.

Inilah yang terjadi di Rumah Produksi Sasambo Bumi Gora yang dikelola Lalu Darmawan. Permintaan memang masih terus ada. Meski tidak sebanyak dulu di awal-awal tahun 2020. ”Awal-awal dulu permintaan perbulan 200-300 lembar,” Darmawan.

Kadang, kalau ada event, permintaan bisa banyak. Baru-baru ini misalnya, Darmawan mendapatkan orderan Batik Sasambo dari Kementerian Pekerjaan Umum. Yang kebetulan sedang berkegiatan di Makassar. Pesanannya sebanyak 650 lembar.

Bahkan, untuk MTQ tingkat provinsi yang kini sedang berlangsung di Lombok Barat, ia mendapatkan pesanan 180 lembar Batik Sasambo. Kemampuan produksi batik di tempat Darmawan memang besar. Bisa mencapai 1.500 lembar dalam sebulan. Untuk permintaan dari luar NTB pun masih ada. Tapi, tak banyak.

Diungkapkan, satu lembar batik ukuran 2,5 meter x 1,5 meter harganya Rp 250 ribu hingga Rp 350 ribu. Bila dengan permintaan khusus menggunakan kain sutra, ukuran yang sama bisa seharga Rp 750 ribu.

Soal omzet, Darmawan mengaku masih cukup baik. Meski diakui Batik Sasambo meredup. “Sekarang omzetnya masih bisa mencapai Rp 250 juta,” sebulan” katanya.

Kekayaan motif pun kata dia terus dikembangkan. Hal ini untuk menjaga permintaan tetap tinggi. ”Dulu saya kerjakan berdua dengan istri. Alhamdulillah sekarang yang kerja ada 20 orang,” kata Darmawan.

Di Lombok Tengah, sentra Batik Sasambo di Dusun Sade, Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, juga masih terus berdenyut. Batik Sasambo di sini dikenal dengan motifnya yang khas. Di antaranya lumbung padi, jaran atau cidomo, belencak atau cecak, bale tani atau rumah petani.

Aktivitas membatik di sini sudah ada semenjak tahun 1991. Syamsir, adalah pendiri sentra Batik Sasambo Rambitan. Kini, setiap hari ada saja yang datang membeli. Yang paling banyak, pesanan dari sentra oleh-oleh di Mataram dan Lombok Barat.

            Dalam sehari, dia memproduksi Batik Sasambo antara 2-3 lembar atau per bulannya 50 lembar. Itu dikerjakan oleh empat karyawan tetap dan empat karyawan lepas. Selain itu, Syamsir memberdayakan 15 siswa di SMPN 7 Pujut.

Pria tiga anak tersebut menjelaskan, batik berbentuk lembaran kain, bukan baju, celana atau sarung. Seluruh bahan bakunya didatangkan dari Solo dan Jogjakarta. Kainnya pun, 100 persen katun, sehingga memiliki kualitas tinggi. Sedangkan, harganya tergantung dari tingkat kesulitan membantik, motif dan gambar batik. Yang paling mahal dijualnya seharga Rp 500 ribu per lembar, dengan panjang 2,5 meter. Kemudian, yang paling murah seharga Rp 130 ribu per lembar.

Hasil kerajinan batik Sasambo Syamsir pun kini sudah diakui Yayasan Batik Indonesia. Artinya, tekan Syamsir perkembangan batik Sasambo, tidak sampai meredup. Dia pun rutin mengikuti pameran batik di Pulau Jawa. (nur/dss/r6)

Berita Lainnya

Pemprov-Gojek Latih Pengusaha Lokal

Redaksi Lombok Post

Dibalik Cerita Kereta Gantung, Bermanfaat atau Mudarat?

Redaksi Lombok Post

Ruslan Turmuzi : Pembangunan Kereta Gantung Bukan Skala Prioritas

Redaksi Lombok Post

Ikut Pilkada 2020, Selly dan Saswadi Akan Dimutasi

Redaksi Lombok Post

Kelompok Pecinta Alam Tolak Pembangunan Kereta Gantung Rinjani

Redaksi Lombok Post

Pemprov Berharap Investor Kereta Gantung di kawasan Gunung Rinjani Serius

Redaksi Lombok Post

Pasien BPJS Sumbang Rp 166,2 Miliar

Redaksi Lombok Post

TKI NTB Sumbang Devisa Tertinggi

Redaksi Lombok Post

Dishub Pastikan Rute Lari dan Bersepeda Ironman 7.3 Lombok 2020 Aman

Redaksi Lombok Post