Lombok Post
Headline Metropolis

Hutan Rinjani Terbakar, Pendakian Ditutup

KEBAKARAN: Petugas Balai TNGR berusaha memadamkan api yang membakar hutan di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani.

MATARAM-Kebakaran hebat melanda hutan di kawasan Gunung Rinjani. Sekitar 2.557 hektare luas kawasan hutan terbakar. Seluruh jalur pendakian terpaksa ditutup. Namun 61 orang pendaki masih berada di Gunung Rinjani, mereka belum turun saat pintu pendakian ditutup total, kemarin.

Kebakaran melanda Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) sejak Sabtu (19/10). Hingga kemarin api belum bisa dipadamkan. Tiupan angin kencang ditambah cuaca ekstrem membuat api cepat menjalar.

Sementara petugas memadamkan api dengan alat seadanya. Utungnya, tidak ada korban jiwa. ”Kami menutup semua jalur pendakian, supaya dapat memastikan keselamatan pengunjung,” kata Kepala Balai TNGR Dedy Asriady, pada Lombok Post, kemarin (20/10).

Keputusan menutup jalur pendakian diambil karena situasi membahayakan. Jika tetap dibuka, pihaknya khawatir pendaki bisa jadi korban. Apalgi kemarau panjang tengah melanda, api dengan cepat merembet. Meski ada pihak yang protes, namun keputusan itu menurutnya sudah tepat.

Sebelum menutup, Balai TNGR sudah berkoordinasi dengan semua pihak, termasuk Dinas Pariwisata, DInas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB, serta pemerintah pusat. Langkah itu juga demi menjaga nama baik pariwisata NTB. ”Kalau sampai ada pendaki meninggal akan berdampak buruk bagi pariwisata NTB,” katanya.

Bagi mayarakat yang sudah membeli tiket online, diharapkan mereka melakukan penjadwalan ulang. Mereka bisa mengubah jadwal pendakian secara online.

Pelaksana harian (Plh) Kepala Balai TNGR Dwi Dwi Pangetstu menerangkan, pihaknya mendapat laporan kebakaran di wilayah kerja resort Senaru, Anyar dan Santong. Sejak hari pertama, Balai TNGR mengirimkan tiga tim ke resort Senaru, Anyar, Santong. Mereka berusaha mencegah api tidak mengganggu jalur pendakian. Sedangkan tim Anyar dan tim Santong mencegah agar api tidak turun ke pohon tegakan.

Tim Senaru terdiri dari 10 orang MMP/MPA dan dua orang petugas. Mereka bergerak menuju jalur pendakian Senaru, pukul 15.00 Wita. Sekitar pukul 20.30 Wita, tim tiba di bawah pos III, dengan pertimbangan keselamatan tim memutuskan bermalam. Dari pantauan tim Senaru, wilayah yang terbakar mulai dari pos III Senaru ke arah barat, hingga wilayah Resort Anyar dan Santong.

Mengingat lokasi yang terbakar luas dan kondisi angin bertiup kencang, pukul 22.40 Wita tim mengusulkan penutupan jalur pendakian. Berdasarkan pantauan dari Pos Senaru, pukul 20.00 Wita kondisi titik api di wilayah Stampol tidak terlihat lagi.

Pada Minggu (20/10), tim melakukan pemantauan lokasi kebakaran. Terlihat savana di sekitar pos III jalur pendakian habis terbakar. Sisa-sisa api masih terlihat di tajuk pohon.  Petugas Resort Sembalun juga mendapat informasi dari pengunjung, dia melihat titik api (hotspot) di sekitar pelawangan Sembalun dan mengarah ke camp area. ”Penyebab kebakaran diduga karena api dari hutan Danau Segara Anak Senaru yang sedang terbakar,” katanya.

Dengan kebakaran jalur pendakian Senaru dan Sembalun, Balai TNGR memutuskan menutup semua jalur pendakian. Baik Senaru, Sembalun, Timbanuh, dan Aik Berik. Aturan itu berlaku sejak kemarin sampai batas waktu yang belum ditentukan. ”Pelayanan registrasi pendakian di semua jalur dihentikan,” tegasnya.

Bagi pengunjung diharapkan mencari titik aman dan segera meninggalkan lokasi. Hingga kemarin, dia memastikan jalur Senaru klir, semua pendaki sudah turun. Sementara di jalur Sembalun masih ada 29 orang, turis asing 25 orang, pendaki lokal empat orang. Namun mereka masih aman karena lokasi camping mereka aman.

Sementara jalur selatan masih aman, seperti Aikberik dan Timbanuh. Di jalur Akiberik ada 22 orang pendaki lokal dan jalur Timbanuh ada 10 orang. Terdiri dari turis asing tiga orang, lokal tujuh orang. ”Hari ini tim akan kembali turun,” katanya.

Berdasarkan pantauan aplikasi LAPAN hotspot  per 20 Oktober, terdapat 36 hotspot di kawasan TNGR. Sebaran kebakaran mengarah ke barat selatan Gunung Rinjani. Berdasarkan prakiraan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Bandara Internasional Lombok, beberapa waktu ke depan cuaca cerah berawan, arah angin timur-selatan dengan kecepatan maksimal 35 km per jam, suhu 22-35 derajat Celcius dan kelembaban 40-95 persen. ”Tim kami terus memantau kondisi di lapangan,” tandasnya.

Sementara itu, kebakaran hutan di Gunung Sangkareang yang berlangsung sejak Sabtu (19/10), belum bisa dipadamkan hingga kemarin.

Wisatawan yang akan mendaki dengan mengambil jalur Senaru diimbau untuk tidak melanjutkan pendakian. “Hari ini (kemarin, Red) kami sudah pasang spanduk penutupan sementara jalur pendakian Senaru,” ungkap Kepala Balai TNGR Dedy Ariadi, melalui Sub Bagian Tata Usaha Dwi, kemarin (20/10).

Ia menuturkan, semua agen travel yang membawa wisatawan mengambil jalur Senaru sudah diminta untuk menjadwalkan ulang rencananya. “Kita masih lakukan penanganan bersama, baik dengan pihak kepolisian, TNI maupun pemerintah dan masyarakat. Karena, api bukan hanya membakar savana saja, melainkan sudah mengarah ke hutan,” terangnya.

Biasanya setiap tahun, lanjutnya, kebakaran selalu terjadi di wilayah pintu timur seperti Jalur Sembalun. Baru kali ini kebakaran terjadi di wilayah utara. Tim dari TNGR dibantu semua pihak berupaya memadamkan di titik-titik kebakaran termasuk tambahan personel.

Lebih lanjut dikatakan, luasan titik api belum bisa dihitung. Pihaknya hanya mengkhawatirkan, kebakaran merambah lebih luas lagi hingga ke kawasan hutan.

“Api semakin meluas karena angin kencang. Kita umumkan penutupan sampai batas waktu yang belum ditentukan. Tetapi kami perkirakan seminggu ini tutup,” tandasnya.

Ia menambahkan, tim dari Senaru yang terdiri 10 orang MMP/MPA dan 2 petugas sudah bergerak membantu memdamkan dan bergerak dari jalur pendakian Senaru. Sekitar pukul 20.30 Wita, tim tiba di sekitar KM 5 (bawah pos 3) jalur Pendakian senaru. Dengan pertimbangan keselamatan, tim memutuskan utuk bermalam di lokasi.

Dari pantauan tim, wilayah yang terbakar dari atas Pos 3 jalur pendakian Senaru ke arah barat hingga ke wilayah Resort Anyar dan Santong sepanjang Lendang Penyeranan serta sudah mengarah ke bawah mencapai tegakan hutan, setara Pos 2 untuk wilayah Anyar.

“Mengingat lokasi yang terbakar luas dan kondisi angin yang bertiup kencang, tepat pukul 22.40 wita tim menyampaikan perlu dipertimbangkan untuk dilakukan penutupan jalur pendakian seandainya kebakaran dijalur tidak dapat diatasi,” jelasnya.

Sementara itu Danpos 02 Pos Bayan Damkar KLU Riwadi menuturkan, kebakaran diduga berasal dari Gunung Sangka Reang di sebelah barat Pos 3 pendakian Gunung Rinjani. Namun karena tiupan angin kencang, api bergeser ke bagian Utara Gunung Setampol.

Dari Gunung Setampol, api kemudian menjalar turun ke sebelah selatan menuju danau. Di bagian tersebut banyak terdapat rumput kering, hingga kemudian menjalar ke sebelah Timur Gunung Rinjani. “Jadi sampai saat ini apinya masih menjalar, susah untuk melakukan pemadaman. Letak titik api itu ada di lereng sebelah timur, dan di gunung Setampol tidak ada akses untuk masuk menuju titik api itu,” bebernya.

Hingga saat ini, kata Riwadi, anggota Damkar KLU, tentara, polisi, dan Dinas Kehutanan tetap standby di lokasi untuk memantau perkembangan sekaligus berjibaku memadamkan  api.

Sementara kaitannya dengan ada tidaknya pendaki yang terjebak di lokasi kebakaran, Riwadi mengaku belum mendapatkan informasi. Asap yang tebal membuat pihaknya tidak bisa turun ke bawah untuk memastikan.

“Kita lihat lahan yang terbakar itu sekitar kurang lebih 200 hektare,” katanya.

Ia mengakui, proses pemadaman titik api cukup sulit dikarenakan akses yang terbatas. Kebakaran di lereng Sangka Reang membuat pihaknya kesulitan menjelajahi lokasi titik api. Sebab itu, satu-satunya penanganan yang bias dilakukan yakni dengan menggunakan helikopter.

“Dan sekarang kita antisipasi supaya api tidak menjalar ke dekat dengan pemukiman penduduk dan hutan,” tandasnya.

Terpisah, Pelaku Usaha Traker Senaru Rudy mengaku, tidak sedikit pendaki yang sudah sampai setengah perjalanan harus kembali turun karena asap yang ditiup angin. “Banyak yang kembali, padahal sekarang ini wisatawan sedang ramai-ramainya,” tutupnya. (ili/fer/r3)

Berita Lainnya

PLN NTB Akui Ada Gangguan di PLTU Jeranjang

Redaksi Lombok Post

Petugas Kejari Mataram Kembali Lakukan Penggeledahan Kantor Dispar Lobar

Redaksi Lombok Post

Waspadai Hujan Lebat Disertai Angin Kencang

Redaksi Lombok Post

Global Hub Tak Boleh Disepelekan, Dewan Minta Gubernur Aktif Lobi Pusat

Redaksi Lombok Post

Sumbang PNBP Terbesar Kedua Bidang Kepatuhan, Amman Mineral Raih Penghargaan Dirjen Minerba

Redaksi Lombok Post

Empat Spesialis Pencuri Mobil di Lotim Dihadiahi Timah Panas

Redaksi Lombok Post

Tambang Rakyat Boleh, Asalkan?

Redaksi Lombok Post

Manfaatkan Limbah Plastik untuk Campuran Aspal

Redaksi Lombok Post

Status Jabatan Ispan Junaidi Ditentukan Hari Ini

Redaksi Lombok Post