Lombok Post
Headline NASIONAL

Menteri Harus Loyal ke Presiden

Menteri Pertahanan: Prabowo Subianto--raka denny/jawapos

KEBERADAAN Prabowo Subianto dan Edhy Prabowo dalam gerbong kabinet pemerintahan Jokowi-Ma’ruf memicu kekhawatiran publik. Maklum kedua menteri tersebut adalah figur sentral di Partai Gerindra. Mereka punya kedekatan secara pribadi maupun organiasi kepartaian. ’’Semua orang tahu bahwa Edhy Prabowo sangat loyal ke Pak Prabowo,”  kata Pakar Hukum Tata Negara Prof Juanda, di kompleks parlemen, kemarin.

                Nah, sebagai menteri kelautan dan perikanan, kebijakan Edhy Prabowo dikhawatirkan memicu rawan diintervensi. Muncul dugaan bahwa Edhy Prabowo akan lebih loyal pada Prabowo ketibang Presiden Jokowi sebagai atasannya di pemerintahan. ’’Mungkin saja kecendrungan itu ada,” ujar Juanda.

                Meski demikian, tidak ada alasan bagi Prabowo dan Edhy Prabowo untuk berkhianat. Baik Prabowo maupun Edhy Prabowo harus taat garis koordinasi di dalam pemerintahan. Menteri sebagai pembantu presiden harus satu komando di bawah presiden.

                Apalagi, papar Juanda, Jokowi sudah mengingatkan para menterinya untuk tidak membuat visi-misi sendiri. Harus satu visi dan misi yang dibuat presiden dan wakil presiden. Bahwa loyalitas kepada partai berakhir saat loyalitas kepada negara dimulai. ’’Sebagai purnawirawan jenderal, Pak Prabowo tentu tahu betul dengan prinsip itu. Saya kira beliau tidak akan main-main,” paparnya.

                Juanda menyampaikan, boleh saja Edhy Prabowo berkoordinasi dengan Prabowo Subianto. Namun harus dipastikan terkait dengan urusan-urusan kepartaian. Sebab urusan partai dan urusan kabinet di kementerian harus dipisahkan. ’’Memang tidak ada salahnya memberikan masukan. Tapi bukan berarti intervensi. Menteri harus tegak lurus dan loyak ke presiden,” tandas guru besar Universitas Bengkulu itu.

                Sementara itu, saat ditemui usai pelantikan di Kementerian Kelautan dan Perikanan, Edhy bercerita mengenai hubungannya dengan Prabowo.  ”Bagi saya, beliau (Prabowo Subianto, Red) salah satu tokoh yang mewarnai hidup saya. Segala celah buruk saya diperbaiki oleh beliau,” terangnya. Prabowo adalah sosok yang mendukung dirinya secara akademis, karir, motivasi, mengajarkan prinsip hidup dan kepemimpinan.

                ”Jika menghadapi masalah, nggak boleh lagi nyalahin orang. Pak Prabowo bilang kamu harus ambil tanggung jawab itu. Itulah belajar tanggung jawab dan disiplin itu yang saya pikir mahal sekali. Itu jadi kunci yang beliau ditanamkan kepada saya,” beber politisi Gerindra itu.

                Edhy mengatakan, Prabowo adalah orang yang menolongnya saat dirinya dikeluarkan dari Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) tahun 1993. Saat itu dia masih tingkat II. Dia menemui Prabowo di Ancol. Saat acara ulang tahun keponakan Prabowo. Bahkan, Edhy masih ingat betul tanggal kejadian itu. ”Malam Senin tanggal 2 April 1993 kalau nggak salah,” ucapnya.

                Saat itu Edhy menghadap dan ingin bekerja sambil kuliah. Banyak pilihan saat itu. Ingin rasanya kembali ke kawah candradimuka AKABRI sampai dikirim bersama Angkatan Darat ke Kalimantan. ” Eh, pak Prabowo nggak mengizinkan. Katanya, kalau kerja statusnya cuma tamat SMA hitungannya. Yaudah disuruh latihan silat sama belajar (kuliah) yang benar. Dikasih uang saku Rp 50 ribu per bulan,” urainya.

                Sejak saat itu Edhy tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Berlatih silat sampai masuk TC (training camp) dan kemudian berhasil bermain di PON (Pekan Olahraga Nasional) 1996. Kuliah sambil mencari uang tambahan untuk hidup. Dari bonus juara kompetisi dan gaji dari TC.

                Lulus kuliah dan berprestasi, Edhy menjadi asisten pribadi Prabowo. Dari situ, karirnya menanjak. Berlanjut menjadi sekretaris pribadi, dipercaya mengelola beberapa perusahaan Prabowo, lanjut studi S-2, dan akhirnya menjadi politisi Gerindra.  ” Sekarang saya sedang menyelesaikan studi S-3 saya di Unpad, jurusan komunikasi. Sempat tertunda karena beberapa kegiatan politik di daerah, pilpres, pileg,” pungkasnya.

                Hingga kemarin sore, Menhan Prabowo Subianto belum melaksanakan serah terima jabatan dengan Ryamizard Ryacudu. Berdasar informasi yang diterima Jawa Pos dari Karo Humas Setjen Kemhan Brigjen TNI Totok Sugiharto, agenda tersebut akan dilaksanakan hari ini. ’’Rencana besok sertijab di Kemhan,” ungkap dia. Meski begitu, Ryamizard sebagai pejabat lama tetap datang. Kemarin dia memberi arahan terakhir kepada seluruh jajaran pegawai di Kemhan. ”Besok saya akan serahkan tanggung jawab saya,” kata dia kemarin. Mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) itu menyampaikan bahwa Prabowo merupakan salah seorang purnawirawan TNI yang dekat dengan dirinya.

                Keduanya memang satu angkatan saat menempuh pendidikan militer. ”Selamat kepada Prabowo, kawan saya satu tingkat, satu kompi, sama-sama terus. Sekarang menggantikan saya, Alhamdulillah,” ungkap Ryamizard. Dia mengakui, Prabowo sudah mengerti seperti apa dan bagaimana tugas yang diemban seorang menhan.

                Karena itu, Ryamizard percaya, Prabowo cepat beradaptasi walau sudah lama tidak berkomunikasi secara langsung. ”Dia lebih tahu,” imbuhnya. Yang pasti, Ryamizard menitipkan supaya Prabowo tidak terlalu memikirkan anggaran untuk Kemhan. ”Besar kecil sama saja. Karena itu duit rakyat. Jangan sampai besar terus kita ngiler,” harapnya.

                Dia juga mengingatkan bahwa TNI adalah tentara rakyat. Sehingga rakyat harus selalu didahulukan. ”Kalau tentara didahulukan, dia bukan tentara rakyat,” tegasnya. Dalam sejumlah kesempatan, Ryamizard memang menyampaikan bahwa alat utama sistem persenjataan (alutsista) tidak lebih penting dari kebutuhan rakyat.

                Karena itu, Ryamizard memaklumi apabila belanja alutsista terbatas atau tertunda karena anggaran negara harus dibagi untuk kebutuhan lainnya. Dia berharap itu juga dilakukan Prabowo. ”Dari dulu saya nggak memikirkan anggaran,” imbuhnya. Dia pun meminta supaya seluruh jajaran Kemhan melaksanakan tugas sebaik mungkin dan patuh pada pimpinan.

                Ryamizard mengingatkan, sumpah prajurit di bawa sampai mati. Sehingga kesempatan yang diberikan untuk mengabdi kepada negara lewat Kemhan harus dilaksanakan. ”Karena kita digaji sama negara, dipercaya negara. Jangan sampai kepercayaan negara itu kita sia-siakan. Kita mengkhianati kepercayaan negara,” tambahnya. (mar/ han/syn/JPG/r6)

Berita Lainnya

Batas Waktu Rehab Rekon Tinggal Sebulan, 23.217 Rumah Masih Belum Tertangani

Redaksi Lombok Post

Catat, Kades Korupsi, Penyaluran Dana Desa Bakal Dihentikan

Redaksi Lombok Post

Demi Anak, Yuli Ingin Bebas dari Candu Narkoba

Redaksi Lombok Post

Banjir Bandang Terjang Sambelia, Ratusan Warga Mengungsi

Redaksi Lombok Post

Sebelum Terlambat, Yuk, Dampingi Anak Saat Menonton Youtube!

Redaksi Lombok Post

Ahyar Minta Tender Proyek Pemkot Mataram Dipercepat

Redaksi Lombok Post

Catat Nih, Pesan Chef William Wongso untuk Pengusaha Kuliner Lombok!

Redaksi Lombok Post

Pelabuhan Gili Mas Rampung, Kapal Pesiar Akan Lebih Mudah Bersandar

Redaksi Lombok Post

Mataram Butuh 300 CPNS Baru, Sebagian Besar Tenaga Guru

Redaksi Lombok Post