Lombok Post
Headline Kriminal

Vonis Liliana Lebih Ringan dari Tuntutan JPU

MENERIMA PUTUSAN: Terdakwa kasus suap penyalahgunaan izin tinggal WNA Liliana Hidayat berdiskusi dengan penasihat hukumnya dalam usai mendengarkan vonis majelis hakim di PN Tipikor Mataram, kemarin (23/10).

MATARAM-Terdakwa kasus suap penyalahgunaan izin tinggal warga negara asing (WNA), Liliana Hidayat divonis, kemarin (23/10). Mantan General Manajer Whyndam Sundancer tersebut divonis lebih ringan dari tuntutan jaksa.  ”Menjatuhkan pidana penjara satu tahun delapan bulan,” kata  ketua majelis hakim Isnurul Syamsul Arif membacakan putusannya kemarin.

Selain itu, Liliana juga dibebankan membayar denda Rp 200 juta. Apabila tidak dibayarkan, maka akan diganti dengan pidana kurungan selama tiga bulan.

Beberapa hal yang meringankan terdakwa. Seperti, berkelakuan baik selama persidangan, belum pernah melakukan tindakan pidana, dan memberikan keterangan sebaik-baiknya. ”Majelis hakim menerima permohonan Justice Collabolator (JC) terdakwa,”  ujarnya.

Sebelumnya, Liliana dituntut Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan pidana penjara dua tahun. Serta denda Rp 200 juta subsider tiga bulan kurungan.

Usai membacakan vonis terdakwa, Isnurul memberikan kesempatan ke Liliana untuk melakukan upaya hukum jika tidak menerima putusan majelis hakim. Dia diberikan waktu selama tujuh hari untuk melayangkan banding.”Apabila ada yang tidak puas, silakan tempuh proses hukum selanjutnya. Silakan berunding dulu dengan penasihat hukumnya,” perintah Isnurul.

Setelah berunding, penasihat hukumnya Maruli Rajagukguk mengatakan, kliennya sudah menerima vonis majelis hakim. Tidak akan melakukan upaya hukum. ”Kami menerima vonis majelis hakim yang mulia,” tutup Marulli.

Menurutnya, vonis majelis hakim sudah memenuhi rasa keadilan untuk kliennya. Tidak ada lagi yang dipersoalkan. ”Pas sudah hukumannya,” ujarnya usai persidangan.

Diketahui, Liliana terseret kasus tersebut karena dia bertindak selaku penyuap. Tujuannya, untuk menyelesaikan kasus penyalahgunaan izin tinggal dua WNA Geoffrey William dan Manikam Katherasan.

Aksi suap tersebut terendus KPK, pada Mei 2019 lalu. Sehingga, Liliana ditangkap bersama Kepala Imigrasi Kelas IA Mataram Kurniadie dan  Kasi Inteldakim Yusriansyah Fazrin. Mereka ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut.

Karena Liliana bersikukuh agar dua pegawainya tidak dideportasi, mau tidak mau dia harus memenuhi permintaan Kurniadie. Liliana memberikan uang Rp 1,2 Miliar ke Kurniadie dengan cara membuang uang gratifikasi itu ke tong sampah. Lalu anak buah Yusriansyah mengambilnya dan memberikannya ke Kurniadie.(arl/r2)

Berita Lainnya

Honda Awali 2020 Dengan Edukasi Keselamatan Berkendara

Redaksi Lombok Post

Ruslan Turmuzi : Pembangunan Kereta Gantung Bukan Skala Prioritas

Redaksi Lombok Post

Ikut Pilkada 2020, Selly dan Saswadi Akan Dimutasi

Redaksi Lombok Post

Kelompok Pecinta Alam Tolak Pembangunan Kereta Gantung Rinjani

Redaksi Lombok Post

Pemprov Berharap Investor Kereta Gantung di kawasan Gunung Rinjani Serius

Redaksi Lombok Post

Pasien BPJS Sumbang Rp 166,2 Miliar

Redaksi Lombok Post

TKI NTB Sumbang Devisa Tertinggi

Redaksi Lombok Post

Dishub Pastikan Rute Lari dan Bersepeda Ironman 7.3 Lombok 2020 Aman

Redaksi Lombok Post

All New Honda BeAT Series dengan Berlimpah Teknologi Baru

Redaksi Lombok Post