Lombok Post
Headline Kriminal

Para Pembunuh Bayi Tak Tersentuh

AUTOPSI: Dokter spesialis dr Arfi Syamsun SpF (dua dari kanan) melakukan autopsi mayat bayi yang ditemukan di Tanjung Karang, pekan lalu.

Mereka sebenarnya berhak hidup. Tetapi, orang tua mereka terlampau kejam dan tega membunuh. Mayat bayi-bayi tak berdosa itu dibuang seperti sampah. Sayang dari serangkaian kasus pembuangan dan pembunuhan bayi yang terjadi, para pelaku seolah tak tersentuh.   

===

Maret lalu, dalam dua hari berturut-turut dua mayat bayi ditemukan. Selasa (12/3)  warga menemukan mayat bayi di aliran sungai Jangkuk, Lingkungan Lendang Re, Sayang-sayang, Cakranegara. Kondisi mayatnya masih segar. Karena, mayat bayi itu masih memiliki tali pusar

Sehari kemudian mayat bayi lainnya ditemukan di aliran Sungai Lingkungan Geguntur, Jempong Baru, Sekarbela Mataram. Kondisi bayinya juga masih sama. Hingga kini pelaku tak diemukan.

Malah pekan lalu pembuangan bayi tak bernyawa  kembali terjadi. Kali ini, lokasinya di wilayah Tanjung Karang, Kota Mataram.

Bayi itu pertama kali ditemukan salah seorang warga dalam dus.

 ”Mayat bayi langsung dibawa ke Rumah Sakit Bayangkara,” kata Kapolsek Ampenan AKP M Nasrullah.

Sampai sejauh ini polisi belum menemukan pelakunya. Polisi beralasan belum ditemukan saksi yang melihat orang yang membuang kardus berisikan bayi tersebut. ”Kita masih melakukan pendalaman,” ujarnya.

Pihaknya juga belum mendapatkan laporan hasil autopsi. Begitu juga hasil tes DNA-nya belum didapatkan dari dokter ahli.“Belum kita dapatkan hasil dari rumah sakit,” bebernya.

Dia berharap, dari hasil autopsi itu ada petunjuk lain. Sehingga, pelakunya ditemukan. ”Kalau ada dugaan pelaku nanti kita kembangkan,” kata dia.

Dari tiga peristiwa pembuangan bayi yang terjadi sejak Januari hingga Oktober ini pelakunya belum juga ditemukan.

Juru Bicara Rumah Sakit Bhayangkara Polda NTB AKP I Wayan Redana mengatakan, bukan wewenang dari pihak rumah sakit untuk menjelaskan terkait dengan pelaku. Dokter hanya dimintakan koordinasi untuk melakukan autopsi. ”Dari hasil autopsi itu, dapat diketahui penyebab kematiannya dan berapa lama kematiannya,” kata Redana.

Dari hasil autopsi tersebut juga dapat dipastikan, apakah bayi itu mati setelah lahir atau mati saat masih di dalam kandungan. “Mengenai teknis pembuktiannya hanya dokter yang mengetahuinya,” ujarnya.

Setelah ada kesimpulan dari dokter, pihaknya nanti akan melaporkan ke penyidik. Sehingga dapat dikembangkan. ”Nanti penyidik yang mengembangkan,” kata dia.

Jika penyidik telah menemukan tersangka baru bisa dilakukan tes DNA. Langkah itu untuk mencocokkan apakah DNA bayi dengan tersangka cocok atau tidak. “Kalau sekarang mana bisa dilakukan cek DNA,” ungkapnya.

Proses cek DNA itu juga cukup panjang. Ada metode-metode yang dilakukan. “Tetapi yang bisa menjawab hanya dokter spesialis,” kata dia.

Dokter forensik RS Bhayangkara Polda NTB dr Arfi Syamsun SpF mengatakan, dia sudah memeriksa mayat bayi yang ditemukan pekan lalu. Dia menjelaskan, mayat bayi masih segar. Sehingga, lebih mudah dilakukan autopsi. “Yang sulit kita autopsi, ketika mayat bayi telah membusuk,” kata dokter Arfi.

Mayat yang sudah membusuk organnya sudah berubah. Sehingga, sulit untuk melakukan identifikasi.

Tetapi, ada metode untuk bisa mengetahui penyebab kematiannya apabila mayatnya sudah membusuk. Yakni dengan pemeriksaan lanjutan. “Nanti bisa menggunakan mikroskop,” jelasnya.

Dari hasil pemeriksaan, penyebab kematian bayi X itu karena organ di otaknya sudah tidak berfungsi. Biasanya penyebabnya karena sang ibu bekerja terlalu keras atau meminum obat penggugur kandungan. ”Itu penyebab bayi meninggal,” ujarnya.

Dia belum menyimpulkan apakah bayi tersebut meninggal murni karena pekerjaan ibunya  atau karena obat penggugur. ”Memang ada cara menggunakan obat. Kami juga tahu nama obatnya. Tetapi, kami tidak etis menjelaskannya,” ujarnya.

Dokter yang sudah 10 tahun menjalani autopsi mayat itu mengatakan, selama dia melakukan autopsi mayat bayi, kebanyakan organ otaknya sudah tidak berfungsi. ”Makanya kalau kami lakukan autopsi terhadap bayi yang kita lihat pertama kali adalah organ di otaknya,” ujarnya.

 Apakah ada dugaan karena menggunakan obat penggugur kandungan?. Menurutnya, bisa saja seperti itu. Karena, fungsi obat penggugur kandungan itu berfungsi mengkontraksi rahim bukan pada waktunya. ”Sehingga, menyebabkan bayi yang masih dalam kandungan lebih cepat keluar,” bebernya.

Sementara itu, untuk mengungkap kasus pembuangan bayi merupakan wewenang dari penyidik. Pihaknya hanya berkoordinasi untuk membuktikan secara medis. ”Kita bisa ungkap melalui cek DNA,” ujarnya.

Melalui tes DNA bisa diketahui siapa ibu dari bayi tersebut. Begitu juga dengan bapaknya. ”Dengan catatan penyidik sudah menangkap tersangka atau seseorang yang diduga membuang bayi,” ujarnya.

RS Bhayangkara Tangani Tujuh Kasus Sejak Januari

Wayan Redana mencatat ada sebanyak 15 permintaan melakukan autopsi. Tujuh diantaranya merupakan kasus pembuangan bayi. “Semua itu wilayah hukum Polres Mataram, Lobar (Lombok Barat), dan Loteng (Lombok Tengah),” kata Redana.

Dibanding tahun lalu, kasus pembuangan mayat bayi meningkat. ”Kalau tidak salah tahun lalu ada tiga kasus atau empat kasus,” jelasnya.

Biasanya, pelaku yang melakukan tindakan tersebut melakukan tindakan tersebut diluar nikah. Dan terjadi konflik asmara atau untuk menutupi aibnya harus membuat bayi dalam kandungannya. ”Motif pelaku biasanya seperti itu,” kata dia.

”Saya berharap, ke depan, kasus pembuangan mayat bayi lebih sedikit,” harapnya.

dr Arfi Syamsun SpF mengatakan, tahun ini sebanyak delapan mayat bayi yang sudah dilakukan autopsi. Itu dilakukan diseluruh NTB. “Itu baru dari saya saja. Karena dokter spesialis itu ada dua orang. Belum dihitung dari rekan saya itu,” kata dokter Arfi.

Tahun ini,  Arfi juga sudah tiga kali bertindak sebagai saksi ahli di persidangan. Dua kali di Loteng, dan satu kali di Lotim. ”Di sini (Mataram) belum menjadi saksi tahun ini. Mungkin karena pelakunya belum diketemukan,” ujarnya. (suharli)

Berita Lainnya

PLN Harus Beri Kompensasi Akibat Seringnya Pemadaman

Redaksi Lombok Post

Pemerintah Loteng Maunya Minimal 20 Persen Anak Miliki KIA

Redaksi Lombok Post

Byarpet Bikin Mumet

Redaksi Lombok Post

Pemadaman Bergilir Resahkan Pelanggan, Mahasiswa Gedor Kantor PLN

Redaksi Lombok Post

Target Pembangunan Pembangkit Meleset, Manajemen PLN Klarifikasi ke Ombudsman

Redaksi Lombok Post

Lalu Irwan Janjikan Perbaikan Jembatan dan Tempat Pemakaman Dasan Geres Tahun Depan Melalui Pokir

Redaksi Lombok Post

Gubernur Terima DIPA dan Dana Transfer dari Presiden

Redaksi Lombok Post

Mulai 2020, Calon Pengantin Wajib Ikuti Sertifikasi Pra Nikah

Redaksi Lombok Post

PLN NTB Akui Ada Gangguan di PLTU Jeranjang

Redaksi Lombok Post