Lombok Post
Headline Metropolis

Byarpet Bikin Mumet

PEMELIHARAAN: Petugas PLN memperbaiki mesin pembangkit PLTU Jeranjang, Lombok Barat.

Pemadaman bergilir membuat warga menderita. Aktivitas pelayanan hingga usaha terganggu. Protes terhadap Perusahaan Listrik Negara (PLN) tidak terbendung. Kini warga bergarap “bencana” pemadaman segera berakhir.   

——————

Sial betul nasib Didik Adhipurwa. Tiga ekor ikan koi kesayangannya mati karena pemadaman listrik beberapa waktu lalu. Pemadaman oleh PLN membuat aerator kolam ikan tidak berfungsi dan menyebabkan ikan koinya mati. Satu ikan berukuran 50 cm ditaksir seharga Rp 850 ribu, total semuanya sekitar Rp 2,5 juta.

Meski sudah mengikhlaskannya, namun warga Praya, Lombok Tengah itu menyesalkan kejadian tersebut. Sebagai penghobi koi tentu tidak ingin ikannya mati seperti itu, dia merasa sangat dirugikan. Secara teknis pemadaman mungkin tidak bisa dihindari. Tapi harusnya PLN punya cara agar tidak terjadi pemadaman terlalu lama. ”Mestinya ada satu unit mesin cadangan sehingga bila ada gangguan mesin utama PLN terhindar dari pemadaman berlarut,” katanya.

Tidak hanya Didik, beberapa rekannya di Lombok Tengah dan Lombok Timur mengalami hal yang sama. Terlapor ada lima sampai enam ekor ikan koi mereka mati.

Keluhan yang sama diungkapkan Suprayitno, pemilik Bazzar Koi Lombok-Sentral Koi. Pemadaman bergilir cukup merugikan pemelihara koi, khususnya yang tidak memiliki backup listrik seperti genset, UPS, dan Aerator ACDC.  ”Kalau pemadaman singkat tidak terlalu berpengaruh, namun kalau 2 – 6 jam sangat berisiko,” kata Suprayitno.

Dia sendiri sudah memiliki backup listrik menggunakan Accu 150A dan UPS 900VA, konsumsi listrik 80 watt tahan sampai 12 jam. Sementara untuk kolam kecil bisa pakai Aerator ACDC dengan harga Rp 200 ribu hingga Rp 700 ribu. Selama pemadaman listrik Aerator ACDC sangat laris dan ludes terjual.

Dia menyarankan, kepada para penghobi koi untuk menyediakan backup listrik supaya aman. Dengan pemadaman listrik tentu akan menambah biaya bagi para penghobi ikan koi. Besaran biaya tambahan tergantung perangkat yang digunakan. ”Kalau pakai genset lebih repot lagi,” katanya.

Hal senada diungkapkan Ketua Dewan Kehormatan PHRI NTB I Gusti Lanang Patra. Dia sangat menyayangkan adanya insiden seperti ini. Seharusnya, PLN sudah mengantisipasi adanya lonjakan kebutuhan listrik. Sebab, setiap tahun, penduduk akan terus bertambah.

“PLN selayaknya mengantisipasi, dengan tambah daya, misalnya untuk dua tahun ke depan,” ujarnya.

Kata dia, pemadaman akan berdampak pada tingkat hunian hotel. Tidak hanya pada penurunan jumlah, tetapi kesan pariwisata Lombok di mata wisatawan mancanegara yang sudah jauh-jauh hari berlibur ke Lombok. Padahal sektor perhotelan di Pulau Lombok, sedang berusaha pulih pascagempa tahun lalu.

Dampaknya bukan saja dirasakan hotel berbintang, tetapi hotel dengan skala kecil. Karena ada biaya lebih yang akan dikeluarkan. Seperti perawatan barang elektronik, pembelian bahan bakar untuk mengoperasikan jenset. Ditambah dengan adanya komplain dari tamu.

“Pelanggan kalau gak bayar iuran saja langsung putus kontak, lalu bagaimana dengan kondisi sekarang? PLN harus gerak cepat untuk mengatasi ini, jangan lama-lama,” tandasnya.

Selain itu, pemadaman bergilir juga cukup merepotkan bagi para pelamar CPNS, beberapa orang mengeluhkan kondisi itu ke Badan Kepegawaian Daerah (BKD) NTB. Pemadaman membuat mereka beberapa kali gagal melakukan registrasi. ”Kami sarankan mereka untuk daftar saat lampu menyala,”kata Sekretaris BKD NTB Yus Harudian Putra.

BKD berharap pemadaman listrik tidak mengganggu proses rekrutmen CPNS tahun ini. Terutama saat pelaksanaan CAT untuk kompetensi dasar dan kompetensi bidang. Kalau listrik mati saat tes, tentu akan sangat menggangu seleksi.

Pemadanan listrik kali ini akan berlangsung hingga akhir tahun. Penyebabnya, PLN tengah melakukan pemeliharaan sejumlah mesin pembangkit. Selain itu, terjadi peningkatan penggunaan daya cukup signifikan, sementara pasokan daya berkurang karena faktor alam dan pemeliharaan rutin.

Meski demikian, Kepala Ombudsman NTB H Adhar Hakim meminta PLN tidak latah. Pihaknya memahami kendala dan kesulitan yang dialami petugas PLN di lapangan. Namun kondisi itu tidak lantas menjadi alasan pembenar untuk mengurangi pelayanan kepada masyarkat. ”Kami akan terus memantau,” katanya.

Setelah bertemu manajemen PLN di kantornya, akhir pekan kemarin, Adhar mengaku banyak mendapat catatan terkait pemadaman yang terjadi saat ini. Mereka akan menindaklanjuti hasil pertemuan itu dalam waktu dekat. ”Kami harap kelistrikan di Lombok segera pulih,” ujarnya.

Terpisah, PT PLN (Persero) terus melakukan percepatan perbaikan gangguan dan juga pemeliharaan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jeranjang di Desa  Taman Ayu, Lombok Barat dan juga Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) untuk memenuhi kebutuhan daya listrik di Pulau Lombok.

Pemeliharaan Unit 1 PLTU Jeranjang, dari normal pekerjaan dilaksanakan 56 hari, akan dipercepat menjadi 45 hari. PLN akan mengerahkan seluruh sumber daya yang ada.

Selain itu, PLN juga fokus kepada percepatan pengoperasian Unit 2 PLTU Jeranjang kapasitas 25 Mega Watt (MW)dan PLTMG Lombok Peaker kapasitas 150 MW. Keduanya saat ini sedang masa uji coba.

Saat ini, satu pembangkit di PLTD Paokmotong telah kembali memperkuat sistem kelistrikan Lombok, setelah sebelumnya memasuki masa pemeliharaan. Pemeliharaan PLTD Ampenan juga diupayakan lebih dipercepat. PLTD Ampenan memiliki daya listrik sebesar 16 MW. Di samping itu, hujan yang turun mulai Selasa lalu diharapkan dapat meningkatkan debit air untuk Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH).

Pada saat normal, seluruh PLTMH dapat memasok daya hingga 8,5 MW. Saat ini hanya mampu memasok daya listrik sebesar 3,5 MW. Terdapat penurunan daya mampu sebesar 5 MW. Hal tersebut diakibatkan menurunnya debit air yang membuat PLTMH tidak beroperasi maksimal.

“Tim pemeliharaan terus bekerja di semua titik, mulai dari Jeranjang, Ampenan, Paokmotong dan Lombok Peaker supaya sistem Lombok dapat kembali normal,” jelas Manager  Komunikasi PLN Unit Induk Wilayah NTB, Taufiq Dwi Nurcahyo.

Saat ini sistem kelistrikan Lombok memiliki daya mampu sebesar 223 MW. Beroperasinya kembali PLTD Paokmotong akan menambah pasokan daya listrik 5 MW. Dengan demikian daya mampu listrik kelistrikan Lombok menjadi 228 MW. Dengan beban puncak mencapai 259 MW, maka defisit yang sebelumnya 36 MW berkurang menjadi 31 MW.

 “Kami mohon maaf sebesar-besarnya kepada masyarakat Pulau Lombok. Kami mohon doa dan dukungannya agar seluruh rangkaian proses dapat berjalan aman dan lancar,” tandas Taufiq. (ili/yun/r5)

Berita Lainnya

Pastikan Ujian Nasional Dihapus

Redaksi Lombok Post

Di Bawah Bayang-Bayang PT Gili Trawangan Indah

Redaksi Lombok Post

Tiga Pelajar di Lotim Tertangkap Saat Pesta Sabu

Redaksi Lombok Post

Warga Sekarbela Sumbang Rp 162,5 Juta untuk Palestina

Redaksi Lombok Post

Perhimpunan Intervensi Kardiologi Indonesia Klarifikasi Pernyataan Menkes

Redaksi Lombok Post

Jangan Mau Merariq Kodek, Gak Keren Tau!

Redaksi Lombok Post

Atlet Menembak dan Selancar NTB Sumbang Emas untuk Indonesia

Redaksi Lombok Post

Hitung Mundur, 24 Bulan Menuju MotoGP

Redaksi Lombok Post

Sembilan Produk Rucika Raih Green Label Indonesia

Redaksi Lombok Post