Lombok Post
Headline Metropolis

Kontribusi Pariwisata Masih Rendah

PELANCONG MANCANEGARA: Penumpang kapal pesiar Princess Cruise gembira saat tiba di Pelabuhan Lembar, Lombok Barat, Maret lalu.

Provinsi NTB boleh bangga dengan pariwisata halal kelas dunia. Bentang alamnya salah satu yang terindah di muka bumi. KEK Mandalika dengan sirkuit MotoGP menjanjikan segalanya. Jutaan turis datang silih berganti. Tapi prestise itu belum sejalan dengan kontribusinya untuk perekonomian NTB.

—————-

                Dalam survei Bank Indonesia (BI) tahun ini, sumbangan pariwisata NTB untuk Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) rendah. Pada triwulan III 2019, kontribusi lapangan usaha penyedia akomodasi makanan minuman terhadap PDRB hanya 1,97 persen. ”Lebih rendah dibandingkan Bali yang mencapai 23,59 persen,” ungkap Wahyu Ari Wibowo, Deputi Kepala Perwakilan BI NTB saat memaparkan hasil risetnya di Hotel Santika Mataram, beberapa waktu lalu.

                Lama tinggal wisman di NTB masih rendah. Survei bulan Juli-Agustus menunjukkan, lama tinggal wisman hanya tiga hari. Jauh di bawah rata-rata tinggal wisatawan 10 hari. Sementara survei bulan November, lama tinggal lima hari. ”Masih lebih rendah dibanding rata-rata tinggal wisatawan 10 hari,” paparnya.

                Dari sekian banyak destinasi wisata, hanya tiga lokasi yang jadi favorit wisman. Yakni kawasan tiga gili, Senggigi, dan Kuta, Mandalika. Sementara tempat lain masih sedikit seperti Mataram, Senaru, Sembalun, Sade, Sumbawa dan Bima. ”Setelah ke gili, Senggigi kemudian ke Gunung Rinjani lalu mereka balik,”  terangnya.

                Wisman yang datang ke NTB sebagian besar merupakan turis backpacker. Usianya antara 20-29 tahun. ”Turis backpacker gak punya uang,” kelakarnya.

                Pengeluaran wisman saat berlibur ke Lombok juga belum banyak. Rata-rata pengeluaran dalam sekali perjalanan hanya Rp 5,5 juta sampai Rp 5,6 juta. ”Tergolong masih sedikit,” kata dia.

                Pengeluaran itu jauh di bawah rata-rata pengeluaran turis di Bali USD 900 atau Rp 12,6 juta per orang. ”Lombok masih menjadi agenda tambahan setelah Bali,” kata Kepala BI NTB Achris Sarwani.

Dari hasil survei, wisman sangat sedikit yang belanja suvenir. ”Yang belanja suvenir kebanyakan wisatawan nusantara,” katanya.

Achris menyarankan, untuk meningkatkan lama tinggal wisman, pemerintah perlu memperbanyak event yang menarik bagi wisatawan. ”Promosi diperkuat di tiga gili yang paling banyak dikunjungi turis asing,” imbuhnya.

Survei perilaku wisman dilakukan BI pada periode kunjungan sepi, puncak kunjungan dan tingkat kunjungan sedang. ”Survei ini sebagai refrensi perbaikan pengembangan pariwisata ke depan,” katanya.

Peluang pariwisata NTB berkembang sangat besar. Bentang alam indah, kekayaan budaya, dan keramahan penduduknya mendapat nilai sangat tinggi. Tidak heran, keinginan wisman untuk kembali ke Lombok dalam survei mencapai 85 persen. ”Ini adalah peluang yang harus kita manfaatkan,” seru Wahyu Ari Wibowo.

Karena sebagian besar wisman berkunjung ke tiga gili, pemerintah harus meningkatkan aksesibilitas dan konektivitas tiga gili ke destinasi lainnya.  ”Juga menerapkan sistem retribusi dan ticketing untuk meningkatkan pendapatan daerah,” sarannya.

Perhatian pemerintah pusat yang begitu besar ke NTB juga harus dimanfaatkan. Dukungan dana pengembangan kawasan pasti besar. ”KEK Mandalika menjadi super prioritas nasional,” katanya.

Menanggapi hasil survei, Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah menilai, survei tersebut sangat penting untuk menentukan kebijakan pengembangan pariwisata. ”Hasil survei ini menjadi masukan buat kami, masih banyak yang harus dibenahi,” katanya.

Pemprov juga tidak ingin industri pariwisata hanya dinikmati kalangan tertentu saja. ”Maka kami  buat program pengembangan desa wisata,” ujarnya.

Pengembangan desa wisata menurutnya tidak hanya untuk mendapatkan manfaat kunjungan. Tapi juga bagian dari upaya menjaga lingkungan. ”Kalau sudah jadi desa wisata warga akan menjaga keasrian lingkungannya,” katanya.

Lombok, menurut Rohmi, banyak disebut sebagai surga dunia. Keindahan alamnya sangat menakjubkan. Dia meminta warga ikut menjaga kebersihannya. ”Seindah apapun pantai kita, kalau ada sampah orang tidak akan mau,” kata Rohmi.

General Manager (GM) Hotel Lombok Raya Gusti Lanang Patra menilai, kurangnya lama tinggal wisman karena tidak ada atraksi yang bisa dinikmati. “Inilah yang kita hadapi saat ini,” ujarnya.

Pemerintah saat ini terlalu fokus pada peningkatan angka kunjungan wisman, tetapi tidak dibarengi lama tinggal. Padahal, ini juga berpengaruh pada ekonomi masyarakat. Dengan kondisi ini, maka wisman menanggap tidak apa bermalam selama tiga hari. Toh, tidak ada yang bisa dinikmati, selain pantai dan gunung.

“Makanya perlu sebenarnya kita mengangkat pariwisata budaya,” tegasnya.

Bila penginapan di Tiga Gili, Senggigi dan Kuta Mandalika, lama tinggal total tiga hari bisa tercapai. Sebab, ada alam yang dinikmati. Kondisi kontras dialami hotel dalam kota.

Lanang menyebut, jumlah wisman yang menginap kurang 10 persen, dari total tamu. Belum lagi lama tinggal, hanya sehari saja. Karena sifatnya hanya tempat transit.

“Misalnya mau mendaki Rinjani, mereka menginap semalam di kita, baru besoknya mereka ke Sembalun,” jelasnya.

Penanggung jawab Toko Oleh-Oleh Lestari Ali Samudra mengatakan, keberadaan wisman jarang memiliki pengaruh. Karena yang masih tinggi penyumbang pembeli produk NTB adalah wisatawan domestik.

“Mereka cari makanan gak bawa pulang, icip sebentar ya udah habis,” ujarnya.

Ali menjelaskan, nominal yang dibelanjakan wisman juga sedikit. Kurang Rp 150 ribu. Mereka tidak pernah berpikir membawa pulang oleh-oleh atau buah tangan. Karena kebanyakan fokus pada liburan saja.

“Meski yang datang juga pada bulan madu, tetap saja gak ada pengaruh ke oleh-oleh makanan,” jelasnya. (ili/yun/r5)

Berita Lainnya

Pastikan Ujian Nasional Dihapus

Redaksi Lombok Post

Di Bawah Bayang-Bayang PT Gili Trawangan Indah

Redaksi Lombok Post

Tiga Pelajar di Lotim Tertangkap Saat Pesta Sabu

Redaksi Lombok Post

Warga Sekarbela Sumbang Rp 162,5 Juta untuk Palestina

Redaksi Lombok Post

Perhimpunan Intervensi Kardiologi Indonesia Klarifikasi Pernyataan Menkes

Redaksi Lombok Post

Jangan Mau Merariq Kodek, Gak Keren Tau!

Redaksi Lombok Post

Atlet Menembak dan Selancar NTB Sumbang Emas untuk Indonesia

Redaksi Lombok Post

Hitung Mundur, 24 Bulan Menuju MotoGP

Redaksi Lombok Post

Sembilan Produk Rucika Raih Green Label Indonesia

Redaksi Lombok Post