Lombok Post
Headline Metropolis

Biar Betah, Wisatawan Butuh Event

JALAN-JALAN: Dua wisman sedang menikmati keindahan Gili Trawangan dengan cara berkeliling menggunakan sepeda, belum lama ini

MATARAM-Anggota DPRD NTB angkat bicara atas hasil surve terbaru BI yang memaparkan tentang lama tinggal wisman di NTB rendah. Hanya tiga hari dan pengeluaran sekali perjalanan hanya Rp 5,5 juta sampai Rp 5,6 juta.

“Menjadi PR (pekerjaan rumah) lama pemerintah kalau soal ini,” kata anggota DPRD NTB Misbach Mulyadi, kemarin (25/11).

Ia menyebut, baik pemprov maupun pemkab-pemkot, masih berkutat pada potensi Sumber Daya Alam (SDA) saja. Belum secara kreatif menciptakan berbagai macam kreasi dan atraksi. Sebagai alasan wisman betah berlama-lama di NTB.

“Pemda kabupaten dan kota harus lebih kreatiflah, mereka ini yang punya wilayah,” jelasnya.

Tanpa kreativitas, rasanya sulit membangun branding pariwisata wisata yang kuat. NTB punya wisata halal, keindahan Rinjani tak diragukan. Pesona Senggigi dan KEK Mandalika tak bisa disangsikan.

Tetapi, jika tidak ada kegiatan tambahan wisman, kondisi ini akan tetap berulang. “Ya begini-begini saja, gak ada pengaruhnya pariwisata ini,” ujar Misbach.

Selain atraksi, konektivitas juga diperlukan. Di sinilah Pemprov NTB berperan. Melihat peluang negara-negara lain yang selama ini menjadi penyumbang terbesar wisman. Caranya, membuka lebih banyak penerbangan langsung. Seperti dari Tiongkok, Bangkok, dan Singapura ke Lombok.

“Selama ini kan ke Bali dulu, baru ke Lombok, kalau bisa langsung kita buat, itu lebih bagus,” kata dia.

Anggota DPRD NTB Nauvar Furqony Farinduan melihat, pariwisata Bumi Gora kurang dengan transportasi yang terintegrasi. Mulai dari bandara, penginapan sampai ke destinasi wisata.

“Hal-hal seperti ini luput dari penglihatan, padahal sebenarnya penting,” kata dia.

Belum lagi masing-masing destinasi wisata, jarang sekali tersedia transportasi. Padahal, tipe wisman yang liburan ke Lombok, paling banyak adalah backpacker. Ini juga harus menjadi perhatian serius.

“Kalau ini tersedia, bisa menjadi bahan cerita para wisman, mengajak yang lain datang ke Lombok,” terang politisi Gerindra ini.

Terkait buah tangan di destinasi wisata, pria yang kerap disapa Farin ini menjelaskan, masih jarang menunjukkan kekhasan. Bukan tidak ada, namun kurang menonjol. Jika kondisi ini diubah, dia yakin wisman pun siap merogoh kantongnya. “Mungkin bukan backpacker, wisman yang berbulan madu juga bisa,” ujarnya.

Banyak PR yang harus dituntaskan. Termasuk, infrastruktur memadai ke destinasi wisata. Tidak semua harus dipermak. Bisa dilihat mana yang lebih potensial.

“Perhatikan jembatan, kondisi jalan, bahkan PJU sekalipun,” terang Farin.

Pengelolaan kebersihan di destinasi wisata juga harus jelas. “Tugas pemda dan pemkot  bergerak,” kata dia.

Dia berharap, Pemprov NTB jangan terlalu bangga dengan tingginya angka kunjungan wisatawan. Karena, kunjungan wisman, harus punya dampak bagi ekonomi masyarakat.

“Ini berpengaruh atau tidak? Jelas berpengaruh, pada akhirnya ini tercermin dari lama tinggal itu,” pungkasnya. (yun/r5)

Berita Lainnya

Pastikan Ujian Nasional Dihapus

Redaksi Lombok Post

Di Bawah Bayang-Bayang PT Gili Trawangan Indah

Redaksi Lombok Post

Tiga Pelajar di Lotim Tertangkap Saat Pesta Sabu

Redaksi Lombok Post

Warga Sekarbela Sumbang Rp 162,5 Juta untuk Palestina

Redaksi Lombok Post

Perhimpunan Intervensi Kardiologi Indonesia Klarifikasi Pernyataan Menkes

Redaksi Lombok Post

Jangan Mau Merariq Kodek, Gak Keren Tau!

Redaksi Lombok Post

Atlet Menembak dan Selancar NTB Sumbang Emas untuk Indonesia

Redaksi Lombok Post

Hitung Mundur, 24 Bulan Menuju MotoGP

Redaksi Lombok Post

Sembilan Produk Rucika Raih Green Label Indonesia

Redaksi Lombok Post