Lombok Post
Headline KESEHATAN

Perhimpunan Intervensi Kardiologi Indonesia Klarifikasi Pernyataan Menkes

PELAYANAN YANG UTAMA: Direktur RSUD Provinsi NTB bersama pembicara pelatihan kardiologi intervensi tingkat dasar, Sabtu (7/12).

MATARAM-Pernyataan Menteri Terawan Agus Putranto, soal biaya pelayanan penyakit jantung yang berlebihan, langsung diklarifikasi oleh Ketua Perhimpunan Intervensi Kardiologi Indonesia (PIKI) dr Doni Firman, SpJP(K).

“Banyak sedikit itu relatif,” ujarnya kepada Lombok Post di tengah acara pelatihan Kardiologi Intervensi Tingkat Dasar di RSUD Provinsi NTB, Sabtu (7/12).

Doni menerangkan, survei kesehatan Indonesia, penyakit jantung (kardiovaskular) merupakan penyebab kematian tertinggi. “Jadi wajar apabila biayanya tinggi, mengingat jumlah pasien banyak,” timpalnya.

Doni juga menyebutkan, obat dan alat seperti ring (stent) atau pacu jantung harus dipakai seumur hidup, sehingga membutuhkan biaya. “Sebenarnya dokter spesialis jantung memiliki  semangat yang sama dengan pemerintah supaya rakyat terlayani dengan baik dan efisien,” ujarnya.

Doni menambahkan, imbauan Menkes sangat diperhatikan di tingkat organisasi Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI). “Para dokter juga harus bercermin apakah sudah melakukan efisiensi atau tidak. Tentunya titik berat tidak merugikan pasien,” kata dokter yang berdinas di Pusat Penyakit Jantung Nasional Harapan Kita Jakarta ini.

Sementara itu,  pertama kalinya PIKI mengadakan pelatihan Kardiologi Intervensi Tingkat Dasar RSUD Provinsi NTB. Dihadiri 28 peserta dokter spesialis jantung dari berbagai provinsi, pelatihan dilaksanakan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dokter spesialis jantung yang tertarik kardiologi  intervensi, baik ilmu maupun yang akan melanjutkan pendidikan subspesialis kardiologi intervensi.

Ketua PIKI, dr Doni Firman, SpJP(K) dalam sambutannya  menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada RSUP NTB.

Direktur RSUD Provinsi NTB, dr H Lalu Hamzi Fikri menyambut baik adanya pelatihan ini.  “Harapan saya pelatihan ini juga mendukung program Medical Tourism di RSUD Provinsi NTB,” ujarnya.

Pembicara pelatihan ini adalah dr Doni Firman, SpJP (K), dr Sunarya, SpJP (K) , dr Indriwanto, SpJP (K) dari Pusat Jantung Nasional Harapan Kita Jakarta,  dr Munawar, SpJP(K) dari RS Bina Waluya Jakarta, dr Fauzi Yahya, SpJP(K) dari RS Hasan Sadikin Bandung, dr Yudi Her Oktaviono, SpJP(K) dari RSUD dr Soetomo Surabaya dan dr Yusra Pintaningrum, SpJP(K) dari RSUD Provinsi NTB. (iju/r3)

Berita Lainnya

Mohan-Mujib Punya Chemistry Kuat

Redaksi Lombok Post

Pelaku Kekerasan di NTB Makin Sadis

Redaksi Lombok Post

Bebas Korona, Tiga Warga NTB Dipulangkan dari Natuna

Redaksi Lombok Post

Ngga Usah Jauh-jauh, Sunset di Pesisir Mataram Juga Keren Lho!

Redaksi Lombok Post

Gaji Minim, Lokasi Terpencil, CPNS Dokter di KLU Sepi Peminat

Redaksi Lombok Post

Gelar Simulasi, RSUD Selong Antisipasi Virus Korona

Redaksi Lombok Post

Tangani Kemiskinan, Pemkab Loteng Gelontorkan Rp 123 Miliar

Redaksi Lombok Post

Tarian Bugil Terbongkar, Polisi Usut Perizinan Metzo

Redaksi Lombok Post

Gawat, 167 Ribu Balita NTB Mengalami Stunting

Redaksi Lombok Post