Lombok Post
Opini

Dua Peran Strategis Kaum Ibu dalam Pembangunan Sumber Daya Manusia

Oleh:
Anita Qurroti Ayuni, Lc., M.Pd.
(Pengurus Dharmayukti Karini Cabang Selong)

Pembangunan sumber daya manusia menjadi program prioritas Presiden Joko Widodo pada periode kedua pemerintahannya. Setelah megaproyek infrastruktur yang digalakkan di seluruh penjuru tanah air, kini saatnya sumber daya manusia Indonesia dibangun, dikelola dan ditingkatkan kualitasnya dengan lebih masif dari sebelumnya. Visi Indonesia Maju tidak akan terwujud tanpa partisipasi seluruh rakyat.

Kaum ibu menjadi bagian dari ratusan juta rakyat Indonesia. Kaum ibu memiliki peran yang strategis dalam pembangunan sumber daya manusia. Ada dua peran kaum ibu yang sangat strategis dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Pertama, peran mereka sebagai ibu. Kedua, peran mereka sebagai istri.

Ibu berperan penting dalam membentuk karakter anak. Mereka mengandung, merawat, memelihara dan mendidik calon generasi bangsa sejak mulai tumbuh dalam rahimnya. Ibu juga yang pertama kali meletakkan bibit kebaikan dan kejahatan dalam hati manusia. Kaum ibu tidak boleh berpendidikan rendah, bila menginginkan peradaban bangsa yang maju. Peradaban dan kepandaiannya akan diturunkan kepada anak-anaknya. Anak-anak perempuannya akan menjadi ibu pula, sedangkan anak-anak laki-laki kelak pasti akan menjadi penjaga kepentingan bangsanya. Demikian Raden Ajeng Kartini menulis suratnya pada Prof. Anton dan Nyonya pada 4 Oktober 1902. Oleh karena itu, anak-anak perempuan harus diberi pendidikan setinggi-tingginya sebagai bekal mereka untuk menjadi ibu yang berkualitas di masa depan.

Menjadi ibu adalah tugas yang sangat berat sekaligus mulia. Dalam Surat Luqman Ayat 14 Allah SWT berfirman, “Dan Kami wasiatkan manusia menyangkut kedua orang tuanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan kelemahan di atas kelemahan dan penyapiannya di dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kamu kembali”.

Dalam ayat di atas, Alquran menggunakan kata wahnan yang berarti kelemahan atau kerapuhan. Patron kata yang digunakan ayat ini mengisyaratkan betapa mengandung merupakan tugas yang amat berat. Betapa lemahnya sang ibu sampai-sampai ia dilukiskan bagaikan kelemahan itu sendiri. Ibu yang tengah mengandung, mengalami kelemahan yang berlipat ganda.

Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menjelaskan bahwa ayat tersebut tidak menyebut jasa ayah, tetapi menekankan jasa ibu. Peranan bapak dalam konteks kelahiran anak lebih ringan dibanding dengan peranan ibu. Setelah pembuahan, semua proses kelahiran anak dipikul sendirian oleh ibu. Bukan hanya sampai masa kelahiran, tetapi berlanjut dengan penyusuan, bahkan lebih dari itu. Ketika calon-calon ibu telah memiliki bekal pengetahuan yang cukup, diharapkan mereka mampu melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas.

Suami sepatutnya mendampingi istri yang tengah mengandung dengan memenuhi segala kebutuhan mereka dari makanan bergizi serta kasih sayang. Lindungi pula kaum ibu dari berbagai macam kekerasan. Agama Islam menyeru setiap manusia untuk selalu berbuat baik kepada keluarga.

Dalam riwayat At-Tirmidzi dari Aisyah, Rasulullah SAW bersabda, Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam memperlakukan keluarganya, dan aku adalah sebaik-baik dari kalian dalam memperlakukan keluargaku”. Hadis tersebut memberi pesan agar memperlakukan keluarga kita dengan baik.

Kaum ibu juga memiliki peran strategis dalam pembangunan sumber daya manusia dalam posisinya sebagai istri. Istri adalah belahan jiwa suami. Dalam bahasa Jawa istri disebut garwo alias sigare nyowo (belahan jiwa). Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 187 Hunna libaasullakum wa antum libaasullahunna artinya mereka (para istri) adalah pakaian bagimu (wahai suami) dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.

Kalau pakaian berfungsi menutup aurat dan kekurangan jasmani manusia, demikian pula pasangan suami istri harus saling melengkapi dan menutup kekurangan masing-masing. Jika pakaian merupakan hiasan bagi pemakainya, maka istri adalah hiasan bagi suaminya, begitu pula sebaliknya. Istri adalah orang yang paling dekat dengan suami. Sedekat-dekatnya suami dengan rekannya, tetap lebih dekat dengan istrinya. Tidak jarang suami mendapatkan jalan keluar mengenai masalah yang di hadapinya di kantor, setelah berdiskusi dengan istrinya di atas ranjang.

Di balik kesuksesan seorang lelaki, ada perempuan hebat di belakangnya. Demikian pepatah mengatakan. Dapat disaksikan bagaimana Ibu Ainun berperan besar bagi kesuksesan Bapak B.J Habibie. Demikian pula peran Ibu Ani bagi kesuksesan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Serta peran Ibu Iriana bagi kesuksesan Bapak Joko Widodo. Ada banyak istri yang rela mengorbankan jiwa raga mereka demi pengabdian mereka pada suami.

Para istri bisa menjadi ahli gizi, perawat kesehatan, partner kerja, konsultan bisnis, akuntan keuangan, penghibur, hingga fashion stylist bagi suaminya sekaligus. Betapa pentingnya peran istri bagi suaminya. Istri yang baik senantiasa menyemangati suami untuk lebih giat dalam berkarya. Istri yang baik juga akan mengingatkan suaminya agar selalu mencari nafkah dari jalan yang halal. Tidak mengambil yang bukan haknya, apalagi dari jalan yang haram seperti korupsi atau mencuri.

Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa para istri memiliki peran strategis dalam pembangunan sumber daya manusia. Karena nasihat-nasihat yang istri berikan untuk suaminya akan senantiasa terngiang dalam benak sang suami, dan akan berusaha dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Untuk bisa menjadi ibu dan istri yang baik, tentu setiap anak perempuan harus diberi pendidikan setinggi-tingginya serta perlindungan dari berbagai kekerasan yang mungkin mereka hadapi. Anak-anak harus dicegah melakukan perkawinan pada usia anak, karena perkawinan dini mengakibatkan anak terpaksa meninggalkan bangku sekolah.

R.A Kartini pada 4 Oktober 1902 dalam suratnya kepada Tuan dan Nyonya Abendanon telah meminta agar anak-anak perempuan bangsanya diberi pendidikan. Bukan untuk menyaingi lelaki, namun sebagai bekal mereka menjalankan tugas berat yang diberikan Tuhan kepada perempuan. Yaitu sebagai ibu dan juga sebagai istri.

Mari berdayakan dan lindungi kaum ibu, agar dapat menjalankan dua peran strategisnya dalam pembangunan sumber daya manusia secara optimal. Mari tingkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan kaum ibu, demi mewujudkan Indonesia Maju. Perempuan Berdaya, Indonesia Maju. Selamat Hari Ibu! (*)

Berita Lainnya

Resolusi Mental 2020

Redaksi Lombok Post

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Redaksi Lombok Post

Pesatnya Perkembangan Bahasa Indonesia di Kalangan Masyarakat

Redaksi Lombok Post

Dunia Sedang Menunggu dan Melihat

Redaksi Lombok Post

Apakah Inisiatif “One Belt One Road” Dikelilingi Pertentangan?

Redaksi Lombok Post

Pemuda dan Transformasi Masa Depan

Redaksi Lombok Post

Penyaluran DAK Fisik dan Dana Desa Pascagempa Lombok

Redaksi Lombok Post

Kebijakan dan Pengelolaan Dana Desa Melalui KPPN Mataram

NTB Menuju Panggung (Politik) Nasional

Redaksi Lombok Post