Lombok Post
Headline Praya

Bau Nyale Ditetapkan 14-15 Februari

PENENTUAN WAKTU: Wakil Bupati Lombok Tengah HL Pathul Bahri (kiri), didampingi Plt Kepala Disbudpar Lendek Jayadi (tengah) saat menentukan waktu bau nyale di Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Sabtu (11/1).

PRAYA-Tradisi bau nyale atau menangkap cacing di laut selatan Lombok Tengah ditetapkan 14-15 Februari mendatang. ”Hari Jumat-Sabtu,” beber Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Loteng Lendek Jayadi, Sabtu (11/1).

      Keputusan itu diambil melalui sangkep warige atau musyawarah bersama para tokoh spiritual empat penjuru mata angin. Termasuk melibatkan tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh budaya. Kegiatan dilaksanakan di Desa Wisata Dusun Ende, Desa Sengkol, Kecamatan Pujut.

      Para tokoh memulai acara dengan menyalakan kemenyan. Selanjutnya tembang-tembang Sasak dan doa dibacakan. Kalender nasional dan kalender Sasak lantas dicocokkan. Membaca fenomena bintang rowok dan tanda-tanda alam seperti hujan, petir atau angin dilakukan. Hasilnya angka 20 bulan 10 penanggalan Sasak, jatuh pada 14-15 Februari.

”Setelah ini akan dilaksanakan sederetan ritual gaib,” ujarnya.

Harapannya, tradisi tahunan di Gumi Tatas Tuhu Trasna ini terhindar dari musibah. Baik ombak deras, angin kencang, longsor, gempa, kebakaran, dan gejolak sosial masyarakat. ”Tradisi turun temurun ini juga, sebagai salah satu promosi pariwisata,” ujar ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Loteng tersebut.

Dia berharap tahun ini jumlah kunjungan wisatawan semakin meningkat. Itu seiring dengan persiapan perhelatan MotoGP di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika.

      ”Kita bersyukur bau nyale ditetapkan sebagai tradisi dan kebudayaan nasional,” kata Wakil Bupati HL Pathul Bahri.

Selevel dengan 10 kegiatan terbaik Indonesia. Salah satunya, Jember Fashion Carnaval (JFC) di Kabupaten Jember, Jawa Timur.

      Dia memastikan, setiap tahun ada rangkaian kegiatan bau nyale yang berbeda. Tujuannya, agar yang menyaksikan tidak merasa bosan. Kendati demikian, puncak dari tradisi tersebut tetap menangkap cacing laut dari Pantai Torok Aik Belek Desa Montong Ajan, Kecamatan Praya Barat Daya hingga Pantai Ujung Kelor Desa Semoyang, Kecamatan Praya Timur.

      Lokasi utama di Pantai Seger Desa Kuta. Di tempat itulah konon Putri Mandalika yang kemudian menjadi perwujudan nyale menceburkan dirinya ke laut. Dia menghindari perpecahan dan tumpah darah para pangeran kerajaan yang ingin memperebutnya. ”Mari datang dan meriahkan acara,” serunya. (dss/r9)

Berita Lainnya

Dibalik Cerita Kereta Gantung, Bermanfaat atau Mudarat?

Redaksi Lombok Post

Alokasi Pupuk Bersubsidi Berkurang, Pemerintah Klaim Aman

Redaksi Lombok Post

Aduh, Masih Ada 15 Titik Nihil Sinyal di Loteng

Redaksi Lombok Post

Honda Awali 2020 Dengan Edukasi Keselamatan Berkendara

Redaksi Lombok Post

Ruslan Turmuzi : Pembangunan Kereta Gantung Bukan Skala Prioritas

Redaksi Lombok Post

Ikut Pilkada 2020, Selly dan Saswadi Akan Dimutasi

Redaksi Lombok Post

Kelompok Pecinta Alam Tolak Pembangunan Kereta Gantung Rinjani

Redaksi Lombok Post

Pemprov Berharap Investor Kereta Gantung di kawasan Gunung Rinjani Serius

Redaksi Lombok Post

Pasien BPJS Sumbang Rp 166,2 Miliar

Redaksi Lombok Post