Lombok Post
Headline Metropolis

Dibalik Cerita Kereta Gantung, Bermanfaat atau Mudarat?

PESONA RINJANI: Keindahan danau Segara Anak Rinjani menjadi salah satu daya tarik Gunung Rinjani.

Pembangunan kereta gantung Rinjani menuai pro kontra. Pencinta lingkungan menolak. Pemerintah daerah justru memberikan “karpet merah” bagi investor. Mudarat atau bermanfaatkan kereta gantung di Rinjani?

————

Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia  (IAGI) NTB Kusnadi mengingatkan, sebelum membangun kereta gantung di Rinjani, tiga hal perlu diperhatikan yaitu, jenis batuan, struktur geologi dan morfologi Rinjani. ”Tantangan akan sangat besar, baik dari segi teknis maupun biaya,” katanya.

Kusnadi menjelaskan, Gunung Rinjani merupakan produk hasil gunung api muda yang meletus sekitar 10.000 tahun yang lalu. ”Dan masih aktif sampai saat ini,” katanya.

Gunung itu dikategorikan sebagai gunung api aktif tipe A oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Alam Geologi (PVMBG) dengan pusat aktivitas di Gunung Baru Jari, di tengah Kaldera Rinjani. Gunung ini meletus besar dengan skala VII pada volcanic eruption indexs, tahun 1257. ”Dalam babat Lombok terkenal dengan letusan Samalas,” terangnya.

Material hasil letusan menutupi bagian permukaan lereng Rinjani. Sebagian besar berupa lahar. Di beberapa tempat berselingan dengan lava yang terbentuk dari pembekuan magma yang mengalir membentuk perlapisan batuan gunungapi.

Lapisan lahar hasil letusan Rinjani masih bersifat lepas dan belum terkonsulidasi menjadi batuan yang kompak atau batuan vulkanik muda. ”Sehingga tidak kuat menjadi pondasi tiang-tiang penyangga kabel kereta gantung,” ujarnya.

Tapi lava yang merupakan lapisan yang bersifat kompak cukup baik untuk pondasi. Keberadaan lapisan lahar yang menyusun sebagian besar lereng Rinjani menjadi tantangan tersendiri untuk membuat pondasi untuk kereta gantung. ”Karena itu harus dicari lapisan lava yang cocok jadi pondasi,” katanya.

Kusnadi menjelaskan, kadang lapisan lava bisa dijumpai di permukaan, kadang harus dilakukan penggalian untuk mendapatkan lapisan yang kuat sebagai penumpu tiang kereta gantung.

Pemilihan lokasi di bagian lereng selatan memang membuat potensi dampak gempa lebih kecil daripada di bagian utara, timur dan barat  yang lebih dekat ke zona sesar naik flores. ”Tetapi tidak menutup kemungkinan terdampak,” katanya.

Dia menyarankan, pembangunan kereta gantung harus tetap memperhatikan aspek kebencanaan. Terutama potensi gempa bumi dan tanah longsor.

Secara fisiografi, lereng Rinjani tidak benar-benar mulus atau membentuk kelerengan sama tapi berupa bukit-bukit yang membentuk morfologi bergelombang. ”Kondisi berbukit-bukit bisa dimanfaatkan untuk menancapkan tiang-tiang kereta,” katanya.

Tapi bisa juga menjadi tantangan, mengingat panjang bentangan yang mencapai lebih dari 10 km. ”Sehingga dibutuhkan banyak stop poin untuk mengakomudir bentuk fisiografi yang bergelombang ini,” ujarnya.

Hal itu tentu akan meningkatkan biaya dalam pembangunan maupun operasionalnya setelah kereta jadi. ”Tentunya dapat dibayangkan harga tiket untuk naik kereta gantung ini akan cukup besar,” ulasnya.

Lebih dari itu, sebelum pembangunan dilakukan, IAGI mengingatkan, harus dilakukan kajian komprehensif. Seperti feasibility study (FS) dan detail engineering design (DED), serta Amdal untuk memastikan pembangunan kereta gantung yang ikonik, terjangkau, tidak merusak lingkungan, dan aman di kawasan Rinjani.

Sayangnya, hingga kini belum ada pengajuan izin analisis dampak lingkungan (Amdal) ke Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB. ”Belum ada, permohonan Amdal saja belum,” kata Kepala Bidang Penataan dan Pengawasan Lingkungan Hidup, Dinas LHK NTB Ahmad Fathoni.

Rencananya, kereta gantung akan dibangun PT Indonesia Lombok Resort. Kereta gantung sepanjang 10 kilometer (km) itu akan dibangun dari Karang Sidemen, Kecamatan Batukliang Utara, Lombok Tengah menuju atas area hutan lindung. Tinggi kereta gantung direncanakan 60 meter, sedangkan tinggi pohon maksimal 20 meter.

”Apapun alasannya, kami menolak keras pembangunan kereta gantung ini,” tegas Dedy Aryo, anggota Forum Rinjani Bagus.

Jika pemerintah ingin menyedot wisatawan, pembangunan kereta gantung justru membuat wisatawan tidak tertarik lagi. ”Wisatawan datang ke tempat kita untuk mengenal alam dan budaya secara natural bukan polesan modern,” kata Dedy.

Dia dan komunitas pendaki menolak keras pembangunan itu karena khawatir dengan dampak ekologisnya. ”Kita harus membayar mahal untuk itu,” katanya.

Penolakan juga dilontarkan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) NTB. “Memberi dampak perusakan lingkungan,” kata Direktur Walhi NTB Murdani.

Dia menyebut, kondisi alam di sekitar Rinjani saat ini sudah mengkhawatirkan. “Keadaan ini yang menyebabkan munculnya bencana alam, dari banjir bandang hingga paling parah, kekurangan air,” tegasnya.

Menurutnya, pemprov sangat tergesa-gesa. Pembangunan belum dilengkapi berbagai dokumen pendukung. “Padahal semuanya memuat informasi rinci proyek ini, apakah bisa diwaktu ini mengkaji seluruhnya,” kata dia.

Pemprov jangan hanya memperhatikan keuntungan pariwisata saja. “Kabel kereta gantung dan tiang pancang, bisa mengubah perilaku dan pergerakan fauna, bisa-bisa punah,” terangnya.

Sekda NTB H Lalu Gita Ariadi punya pandangan lain. Dengan pembangunan kereta gantung, justru pengusaha akan menjaga kelestarian lingkungan. ”Karena alam yang hijau itu menjadi tontonan,” katanya.

Menurut Gita, objek yang dijual kereta gantung adalah lingkungan yang hijau dan asri. ”Justru kalau ada investor, dia yang jaga,” katanya.

Pembangunan kereta gantung menurutnya tidak butuh waktu lama, sebab investor asal Tiongkok akan menggunakan teknologi. ”Mereka sudah pengalaman di bidang ini,” katanya.

Keberadaan kereta gantung juga tidak akan mengurangi esensi pendakian. Sebab segmen pendaki sudah punya peminat sendiri. ”Pendakian dari Lombok Tengah ekstrem

Berita Lainnya

Jelang Pensiun Guru SMK 5 Mataram Bikin Mural Sepanjang 120 Meter

Redaksi Lombok Post

Akhirnya, Berkas Dugaan Korupsi Dermaga Gili Air Rampung

Redaksi Lombok Post

Nasi Balap Puyung Bakal “Tampil” di MotoGP Mandalika

Redaksi Lombok Post

Jangan Obral Rinjani Lagi! Walhi NTB Minta Fokus Benahi Sampah

Redaksi Lombok Post

Walhi : Fokus Benahi Sampah, Jangan Lagi Obral Rinjani!

Redaksi Lombok Post

Pertahankan Juara Dunia, Honda Ikat Marquez Sampai 2024

Redaksi Lombok Post

Dapat Wildcard, Satu Pesilat NTB Lolos ke PON Papua

Redaksi Lombok Post

Cuaca Buruk, Nelayan Ampenan Takut Melaut

Redaksi Lombok Post

Wapres Sorot Tingginya Jumlah Balita Stunting di NTB

Redaksi Lombok Post