Lombok Post
Metropolis

Impor China Dihentikan, Harga Bawang Sembalun Meroket

TUNGGU PEMBELI: Seorang pedagang bawang sedang membersihkan barang dagangnya di Pasar Mandalika, Kota Mataram, kemarin (19/2).

MATARAM-Harga bawang putih masih tinggi Rp 60 ribu per kilogram. “Ini karena stok yang menipis di distributor,” kata Sekretaris Dinas Perdagangan (Disdag) NTB Baiq Nelly Yuniarti, kemarin (10/2).

Tak hanya itu, wabah virus korona diindikasi menjadi salah satu faktor yang menyebabkan stopnya proses distribusi. “Untuk saat ini, jalur impor bawang putih memang sedang distop,” tambahnya.

Ditutupnya jalur distribusi bawang putih secara tidak langsung membuat stok di pasaran menjadi berkurang. “Akibatnya, harganya naik di sejumlah pasar tradisional,” jawabnya.

Impor bawang putih merupakan wewenang pemerintah pusat. Menipisnya stok bawang putih impor harus dimanfaatkan petani lokal.

“Ini momen yang pas bagi petani lokal kita, sudah saatnya bawang putih lokal kita dilirik,” tutur dia.

Bawang putih lokal NTB lebih mahal dibandingkan impor. Hal ini dikarenakan biaya produksi petani NTB yang cukup tinggi.

“Kalau impor itu, biaya produksinya murah, jadi harga jualnya murah. Itu yang membuat kita kalah saing,” katanya.

Disdag NTB dan Dinas Pertanian NTB memprediksi, kebutuhan stok bawang putih lokal akan kembali menguat. “Kita akan panen raya pada Juni mendatang, in syaa Allah ketersediaannya cukup,” jawabnya.

Dari data Disdag NTB, stok bawang putih impor saat ini sekitar 11 ton. Sedangkan, bawang putih lokal hanya 2,6 ton. “Intinya stok kita cukup. Apalagi petani bawang putih sudah panen pada akhir 2019 lalu,” ujarnya pada Lombok Post.

Tingginya harga bapok ini membuat disdag mewanti-wanti pedagang bawang putih lokal. Untuk tidak menjual komoditasnya keluar daerah. Mengingat, ketersediaanya di dalam daerah tidaklah banyak.

“Mereka harus memenuhi kebutuhan di daerah dulu,” tutupnya.

Aminah, pedagang bawang putih di Pasar Mandalika, Kota Mataram mengaku harga bawang masih mahal..“Dari tengkulaknya sudah mahal, mau gak mau kita harus naikin harga juga biar untung,” katanya. (tea/r5)

Berita Lainnya

Ayo Lestarikan Budaya Bangsa!

Redaksi Lombok Post

Gubernur Zul : Kades Jangan Memperkaya Diri dengan Dana Desa!

Redaksi Lombok Post

Batas Waktu Rehab Rekon Tinggal Sebulan, 23.217 Rumah Masih Belum Tertangani

Redaksi Lombok Post

Sekda NTB Sambut Baik Investor Rinjani

Redaksi Lombok Post

Catat, Kades Korupsi, Penyaluran Dana Desa Bakal Dihentikan

Redaksi Lombok Post

Gubernur: Investasi di Rinjani Tidak Langsung Diterima

Redaksi Lombok Post

MotoGP Mandalika Sebentar Lagi, Ketersediaan Kamar Hotel Masih Minim

Redaksi Lombok Post

Berebut Investasi di Gunung Rinjani

Redaksi Lombok Post

Golden Palace Hotel Ajak Masyarakat Peduli Kebersihan

Redaksi Lombok Post