Lombok Post
Metropolis

Produksi Perikanan Melimpah, Kontribusi Minim

PERIKANAN: Ikan-ikan hasil tangkapan nelayan dijual ke pasar ikan Tanjung Luar, Lombok Timur, beberapa waktu lalu.

MATARAM-Provinsi NTB sangat beruntung. Potensi perikanan melimpah dan lengkap. ”NTB ini ibarat Indonesia mini,” kata Kepala Bidang Perikanan Budi Daya, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) NTB Sasi Rustadi, kemarin (10/2).

                Bila daerah lain seperti Jawa Barat unggul di ikan bandeng, tapi di perikanan lain dia tidak punya. ”Kalau NTB ini lengkap, periknan laut, air payau hingga ikan air tawar, termasuk kekerangan,” ujarnya.

                Dia menyebutkan, produksi perikanan tiap tahun melimpah, bahkan 70 persen produksi perikanan dikirim ke luar daerah. ”Sebagian besar komoditas hasil laut diekspor,” katanya.

                Dia menyebut produksi perikanan budi daya tahun 2019 mencapai 1,1 juta ton lebih. ”Nilainya belum kami kalkulasikan, mungkin bisa mencapai Rp 1 triliun,” katanya.

Produksi paling tinggi adalah komoditas rumput laut 920.879,15 ton, kemudian udang 131.227,26 ton, ikan bandeng 26.732,16 ton, dan ikan nila 54.584,89 ton. ”Produksi tiap tahun meningkat, terutama udang vaname kita melimpah, sebagian besar kita ekspor,” katanya.

Dari produksi 131 ribu ton udang, 70 persen dikirim untuk diekspor. ”Sisanya untuk konsumsi dalam negeri,” jelasnya.

Dengan produksi perikanan yang melimpah, NTB jarang mendatangkan ikan impor. Sebab produksi perikanan budi daya selalu surplus. ”Kecuali ikan Salmon dari Amerika, itu pun tidak banyak,” jelasnya.

Dia menyebut, dari produksi 1,1 juta ton itu konsumsi dalam negeri tidak kurang dari 30 persen. ”Sisanya kita ekspor semua,” katanya.

Karena itu, pasokan kebutuhan perikanan tidak terganggu dengan penutupan ekspor-impor ke China. ”Kalau dampak mungkin ada kalau kondisi ini lama, ekspor berkurang,” ujarnya.

Hanya saja dia tidak khawatir, bila perdagangan dengan China terhambat, pelaku usaha bisa mencari pasar baru. ”Jepang, Amerika dan Eropa merupakan pasar potensial,” katanya.

Kepala DKP NTB H Lalu Hamdi memastikan, penutupan kerja sama ekpor impor dengan China belum terlalu berdampak bagi NTB. ”Sejauh ini tidak ada, produksi dan penjualan masih normal,” katanya.

Meski produksi melimpah, kontribusi perikanan bagi pertumbuhan ekonomi di 2019 belum signifikan. Badan Pusat Statistik (BPS) NTB mencatat, kontribusi bidang pertanian, termasuk di dalamnya perikanan hanya 1,51 persen. Masih jauh dari target.

Asisten II Setda NTB H Ridwan Syah menjelaskan, minimnya kontribusi pertanian bagi pertumbuhan ekonomi disebabkan produksi pertanian terganggu akibat kemarau panjang. Bukan karena produksi perikanan. ”Kemarau panjang membuat produksi menurun,” katanya. (ili/r5)

Berita Lainnya

Ayo Lestarikan Budaya Bangsa!

Redaksi Lombok Post

Gubernur Zul : Kades Jangan Memperkaya Diri dengan Dana Desa!

Redaksi Lombok Post

Batas Waktu Rehab Rekon Tinggal Sebulan, 23.217 Rumah Masih Belum Tertangani

Redaksi Lombok Post

Sekda NTB Sambut Baik Investor Rinjani

Redaksi Lombok Post

Catat, Kades Korupsi, Penyaluran Dana Desa Bakal Dihentikan

Redaksi Lombok Post

Gubernur: Investasi di Rinjani Tidak Langsung Diterima

Redaksi Lombok Post

MotoGP Mandalika Sebentar Lagi, Ketersediaan Kamar Hotel Masih Minim

Redaksi Lombok Post

Berebut Investasi di Gunung Rinjani

Redaksi Lombok Post

Golden Palace Hotel Ajak Masyarakat Peduli Kebersihan

Redaksi Lombok Post