Lombok Post
Headline Metropolis

Gawat, 167 Ribu Balita NTB Mengalami Stunting

Ilustrasi

MATARAM–Angka stunting di NTB masih tinggi. Sekitar 167 ribu atau 33,49 persen dari 500 ribu balita mengalami stunting. ”Makanya ini menjadi PR kita bersama,” kata Kepala Dinas Kesehatan NTB dr Hj Nurhandini Eka Dewi, kemarin (14/2).

                Angka itu, kata Eka, masih berada di atas rata-rata angka stunting nasional yakni 28 persen. ”Target penurunan tahun 2024 secara nasional turun di angka 14 persen,” katanya.

                Provinsi NTB sendiri cukup berat menekan hingga 14 persen. Karena itu, ia menargetkan stunting turun hingga 20 persen.”Tapi kita punya kabupaten yang bagus yakni KSB, angka stuntingnya 18 persen,” kata Eka.

               Penanganan stunting harus dilakukan secara menyeluruh. Tidak hanya soal memberi makanan saja. ”Ada masalah sanitasi, makanan bergizi hingga pendidikan ibu, jadi komprehensif,” katanya.

                Stunting, menurut Eka bukan hanya masalah tinggi pendek badan anak atau kurus dan gemuk tubuh anak. ”Stunting adalah kekurangan gizi secara kronis,” jelasnya.

                Jika anak mengalami gizi kronis, itu artinya dia kekurangan gizi sejak dalam kandungan atau sejak lahir. Sementara 80 persen otak anak tumbuh di bawah usia tiga tahun. ”Bila di usia itu tidak urus masalah gizi dan stunting maka akan lahir anak dengan pertumbuan otak tidak maksimal,” katanya.

                Ketika perkembangan otak tidak maksimal, intelektualitasnya rendah. ”Sehingga dia akan menjadi generasi buruh bukan intelektual,” katanya.

                Salah satu upaya menekan angka stunting adalah dengan menggalakkan aksi bergizi. Kemarin, Dinas Kesehatan NTB mengkampanyekan aksi bergizi saat peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) ke-60.di SMAN 1 Lembar Lombok Barat. ”Ini bagian dari pencegahan stunting di tahap awal, sebelum perkawinan,” katanya.

                Sebelum masa perkawinan, siswa sudah diberikan ilmu tentang gizi. Sehingga mereka punya pengetahuan tentang pencegahan stunting. ”Gerakan aksi bergizi serentak di sembilan kabupaten,” katanya.

Aksi bergizi dilaksanakan oleh 145 puskesmas dan 145 sekolah, tingkat SMP maupun SMA. Tiga aktivitas utama yang dilakukan yakni sarapan bersama, minum tablet penambah darah, dan literasi tentang gizi serta kesehatan produksi remaja.

Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah yang hadir dalam acara itu memotivasi para siswa untuk menjaga kesehatan dan tetap konsisten mengonsumsi makanan yang bergizi. ”Tidak perlu mahal asalkan bergizi,” katanya.

Dia menyebut, beberapa makanan khas NTB yang bermanfaat bagi tubuh, di antaranya sayur bening, tahu, tempe, urap-urap, pelecing dan beberok. ”Selain menjaga gizi tubuh, hal ini juga sebagai bentuk pelestarian makanan khas NTB,” katanya.

Rohmi juga menekankan agar generasi muda rutin sarapan pagi dan mengonsumsi tablet penambah darah sesuai anjuran. “Karena anak-anak di Indonesia banyak sekali yang terindikasi anemia,” ungkapnya. (ili/r5)

Berita Lainnya

Ayo Lestarikan Budaya Bangsa!

Redaksi Lombok Post

Gubernur Zul : Kades Jangan Memperkaya Diri dengan Dana Desa!

Redaksi Lombok Post

Batas Waktu Rehab Rekon Tinggal Sebulan, 23.217 Rumah Masih Belum Tertangani

Redaksi Lombok Post

Sekda NTB Sambut Baik Investor Rinjani

Redaksi Lombok Post

Catat, Kades Korupsi, Penyaluran Dana Desa Bakal Dihentikan

Redaksi Lombok Post

Gubernur: Investasi di Rinjani Tidak Langsung Diterima

Redaksi Lombok Post

MotoGP Mandalika Sebentar Lagi, Ketersediaan Kamar Hotel Masih Minim

Redaksi Lombok Post

Demi Anak, Yuli Ingin Bebas dari Candu Narkoba

Redaksi Lombok Post

Berebut Investasi di Gunung Rinjani

Redaksi Lombok Post